Selasa, 06 Januari 2009

Kebutuhan Manusia Terhadap Agama

KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA
Drs. IHSAN


I. PENDAHULUAN
Dalam pemikiran ilmuwan agama berkembang satu pendapat bahwa eksistensi manusia terdiri dari dua wujud yaitu wujud material dan wujud Immaterial. Wujud material membutuhkan konsumsi yang bersifat materi sedangkan wujud Immaterial membutuhkan peningkatan spiritual – yang tidak mungkin diperoleh dari unsur material kecuali melalui pengembangan nilai transendental. Pemenuhan Kebutuhan material diperoleh dari benda-benda yang realitasnya dapat diukur baik dengan ukuran kuantitas maupun kualitas. Walaupun demikian pemenuhan Kebutuhan material memberikan dampak langsung terhadap aspek-aspek immaterial atau pemenuhan dan peroleh spiritual.

Maka tidak berlebihan jika dalam ajaran Islam ditekankan agar pemenuhan kebutuhan material memenuhi standar peningkatan spiritual dan bukan untuk kepentingan jasmani saja. Terdapat beberapa standar pemenuhan Kebutuhan material dalam Islam, yaitu :
a. Benda (makanan dan minuman) harus berdimensi Halal dan bergizi (Wx»n=ym $Y7Íh‹sÛ) sebagaimana tersebut dalam Qs. Al Baqoroh : 168, Al Maidah : 91 dan An Nahl : 114).


b. Proses pemenuhan Kebutuhan materi tidak boleh berlebih-lebihan (Qs. Al A’rof : 30)

c. Pemenuhan Kebutuhan materi harus dalam rangka pengabdian atau bersyukur kepada Allah (Qs. Al An’am : 162-163)


Pemenuhan Kebutuhan material bagi tubuh dengan standar tersebut diatas akan memudahkan aspek Rohani memperoleh penguatan spiritualitasnya. Semakin kotor dan menentang standar kehalalan maka semakin berat seseorang melakukan peningkatan spiritualitas dan berdekatan atau bermesraan dengan Allah dalam aspek rasa kerohanian.
Dari paparan tersebut berkembang suatu pertanyaan apakah manusia membutuhkan agama untuk memenuhi Kebutuhan Immaterial yang bersifat transendental (Abstrak) tersebut. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut sangat mungkin bersifat multi dimensial. Ada dua kemungkinan Jawaban yaitu Manusia tidak membutuhkan agama karena secara subyektif (individual) dia tidak merasa membutuhkan agama. Yang kedua manusia mem-butuhkan agama karena secara individual pula ia merasa butuh terhadap ritual dan tata nilainya untuk mencapai kedamaian – di samping itu secara obyektif tata nilai agama dijamin mampu memberikan kerangka hidup yang humanis dan menghargai kebenaran obyektif.

II. HAJAT MANUSIA TERHADAP AGAMA
Untuk memperdalam kajian tentang apakah manusia membutuhkan agama dalam kehidupannya, berikut akan dipaparkan beberapa pendekatan dan pemikiran yang meng-ungkap keterkaitan manusia terhadap agama, yaitu :

a. Teori asal usul agama
1. Agama berkembang karena manusia merefleksi gejala atau peristiwa alam disekitarnya. Proses refleksi atau perenungan bisa dilakukan oleh siapapun, misalnya Filosof atau para Nabi yang kemudian mendapatkan pencerahan (ilmu).
Peristiwa alam yang luar biasa akan memberi kesan spiritual yang hebat pula bagi masyarakat sekitarnya dan oleh karena itu melahirkan berbagai tanggapan, misalnya :
· Primitif – mereka berpendapat bahwa peristiwa tersebut merupakan aktifitas kekuatan gaib. Kekuatan gaib tersebut dapat melahirkan kepercayaan :
- Animisme (setiap benda baik yang bernyawa atau tidak memiliki “Roh”).
- Dinamisme (kepercayaan yang menyatakan bahwa setiap benda mempunyai kekuatan gaib/magic/mana/tuah).
- Totemisme (kepercayaan yang menyatakan bahwa binatang tertentu memiliki kekuatan gaib sebagai titisan dari Dewa dll).
· Filosof – mereka berpendapat bahwa setiap peristiwa alam akan memberikan bukti bahwa ada kekuatan transendent yang menguasi dunia. Jika Filosof tersebut menganut faham Theisme (percaya kepada Tuhan), maka ia menyebut kekuatan transendent tersebut dengan Wajibul Wujud/wajib ada seperti yang dikemukakan oleh Socrates – artinya bahwa Tuhan itu wajib ada karena ia yang mengadakan ada yang lain, maka mustahil ia akan hilang atau tidak ada atau Prima Causa/sebab utama sebagaimana pendapat Aristoteles.
· Pemeluk Agama – mereka berpendapat bahwa segala peristiwa alam merupa-kan bentuk kongkrit dari Irodah dan Qudrat Allah. Setiap peristiwa alam dipan-dang sebagai peringatan, ujian dan tauladan untuk peningkatan kualitas Iman.

2. Komunis – aliran ini berkembang dari pemikiran Karl Marx (Marxisme) dan Frederich Engel yang pada abad ke 19 memproklamirkan gagasan “Manivesto Communis”. Kedua orang tersebut dipengaruhi oleh aliran Filsafat Matrialis. Berdasarkan gagasan Marxisme tersebut, Lenin dan Stalin mengubahnya menjadi Ideologi Sosialis Komunis. Mereka berpendapat bahwa agama berkembang akibat keluh kesah dari manusia yang tertindas – lebih dari itu agama bagi mereka adalah candu yang membuat orang terbuai dalam halusinasi.

3. Psycho analisys – Sigmund Freud adalah tokoh terbesar dalam jajaran psycho analisys. Mereka berpendapat bahwa agama itu lahir dari orang yang secara psykologis mengalami Nervous (perasaan tegang, frustasi dan ketidakmampuan diri menghadapi sesuatu) yang terbawa dalam alam bawah sadar. Logikanya adalah orang akan terikat pada agama jika mereka dalama keadaan Nervous – lebih dari itu orang yang beragama diibaratkan orang yang bermimpi tentang sesuatu yang indah.

4. Agamawan – mereka berpendapat bahwa agama itu merupakan Rohmat dan hidayah Allah yang diberikan kepada manusia. Potensi agama yang merupakan Rohmat dan hidayah tersebut sudah dimiliki oleh manusia. Potensi tersebut dinamakan dengan Fithroh/potensi Hanief – potensi ini bisa diartikan sebagai kekuatan Keimanan pada kebenaran adanya Tuhan dan kekuatan Kebenaran itu sendiri. Jika potensi tersebut dikembangkan dengan memahami alam, maka ia akan sampai pada tingkat kesadaran Spiritual yang tinggi, tetapi jika potensi tersebut diabaikan, maka ia seperti orang yang kehilangan sinar dalam kegelapan.

Indikator orang yang melawan potensi kebenaran tersebut bisa dengan mudah ditemukan, misalnya ada perasaan tertekan, gelisah dan tidak tenteram ketika mereka melakukan perbuatan yang tidak benar. Potensi tersebut dalam bahasa kita dinamakan dengan Hati Nurani, Tabula Rasa menurut Filosof Inggris John Locke atau Logika Hati (Heart Logic) menurut David Hume dan Cermin/Sinar Kehidupan menurut Imam Al Gazali dalam Buku Ihya Ulumuddin.
Pemahaman mengenai adanya potensi keagamaan dalam diri manusia melahirkan berbagai bentuk penyembahan, baik yang bersifat monotheisme maupun politheisme. Sungguhpun demikian – pertanyaan yang paling menarik dalam kajian ilmu agama adalah “apakah kepercayaan manusia kepada Tuhan itu bersifat Politheisme menuju monotheisme atau sebaliknya dari monotheisme menjadi politheisme ?.
Untuk menjawab permasalahan tersebut telah berkembang berbagai pemikiran dan aliran terutama dalam ilmu perbandingan agama. Dr. Mukti Ali menjelaskan dengan detail mengenai aliran-aliran pemikiran tersebut, yaitu :
1. Teori Evolusi – kepercayaan dalam sebuah agama berkembang bukan dari mono-theisme, melainkan dari kepercayaan politheisme menuju monotheisme. Dengan demikian monotheisme adalah bentuk terakhir dan tesempurna dari kepercayaan dan agama umat manusia. Max Muller berpendapat bahwa asal usul agama itu adalah penyembahan kepada alam yang bersifat henotheistik, kemudian menjadi polytheisme – turun lagi menjadi fethisisme dan akhirnya mengarah pada pantheisme atau theisme (monotheisme).
E.B. Tylor dan Andrew Lang memiliki pemikiran yang berbeda dengan Max Muller. E.B Tylor mengatakan bahwa asal usul kepercayaan manusia itu bukan dari penyem-bahan alam yang bersifat henotheistik, melainkan dari animisme. Herbert Spencer juga memiliki pemikiran yang sama dengan E.B. Taylor.
Apapun pemikiran mereka – mereka berkeyakinan bahwa kepercayaan manusia mengalami proses penyempurnaan termasuk didalamnya terjadinya evolusi terhadap Tuhan yang menjadi pusat peryembahan.

2. Oermonotheisme – aliran ini berpendapat bahwa agama tidak mengalami proses evolusi dari penyembahan atau berTuhan banyak (polytheisme) menjadi berTuhan satu (monotheisme), tetapi agama sejak dahulu adalah monotheistik dan berTuhan satu. Andrew Lang menemukan sebuah kenyataan bahwa masyarakat primiti telah menganut ajaran monotheisme bukan dari proses evolusi.

3. Revelation Theory – aliran ini berbendapat bahwa idea tentang adanya Tuhan tidak datang dari proses evolusi, melainkan dengan revelation (menurut wahyu). Pendapat ini dikemukan oleh Wilhem Schemidt (1868) – kesimpulan ini diambil setelah Wilhem Schemidt melakukan analisis terhadap kepercayaan dan agama yang berkembang pada masyarakat primitif – ia mendapatkan bukti-bukti bahwa asal usul kepercayaan masyarakat primitif adalah monotheisme dan monotheisme ini tidak lain adalah ajaran wahyu dari Tuhan (revelation).

Konsep monotheisme menurut Wilhem Schemidt memiliki kesamaan pemikiran dengan dogma-dogma agama samawi. Islam menganggap bahwa agama monotheisme tidak jauh beda dengan konsep “Tauhid” – kebenaran adanya Tuhan yang satu telah menjadi modal dasar manusia dalam meraih kebenaran spiritualitas. Modal tersebut lebih dikenal dengan “Fitrah manusia” sebagaimana disebut dalam Qs. Al A’raf : 172 dan Ar Rum : 30.

Prof. Dr. Harun Nasution dalam buku “Filsafat Agama” memberikan penjelasan yang detail mengenai bentuk kepercayaan pada Tuhan – terutama konsep kepercayaan pada Tuhan pada masyarakat primitif. Bentuk kepercayaan mereka kepada Tuhan dimulai dari Animisme atau Dinamisme, Politheisme, Henotheisme, monotheisme, Pantheisme dan Atheisme.
1. Animisme – animisme berasal dari bahasa Yunani “Anima” yang berarti “Jiwa”. Mereka berpendapat bahwa setiap benda baik yang bernyawa atau tidak memiliki “Roh”. Roh dalam konsep animisme bukanlah Roh sebagaimana yang kita ketahui, yang menjadi unsur kehidupan manusia disamping adanya jasmani. Orang-orang primitif sendiri masih belum dapat membedakan dengan baik apa yang disebut “materi” dan apa yang disebut dengan “Roh”. Roh bagi mereka tersusun dari materi yang halus sekali, menyerupai uap atau udara, Roh butuh makan, mempunyai umur dan bentuk. Roh juga mempunyai kekuatan dan kehendak, ia bisa marah dan senang. Roh bertempat pada semua benda, tetapi bagi orang primitif lebih memperhatikan pada Roh yang bertempat pada benda-benda yang dahsyat misalnya, hutan, danau, sungai, laut, gunung. Pengen-dalian Roh hanya dapat dilakukan oleh tukang sihir yang dimasukkan pada patung sembahan atau pada benda-benda yang bertuah (fetish).
Jika fetish telah kehilangan kekuatan “jiwa”, maka fetish tersebut dibuang atau yang dibawa ke tempat penyimpanan (museum). Roh dari benda atau nenek moyang yang berkuasa dihormati, dijunjung tinggi dan disembah – agar ia mampu memberikan spirit kerja dan bukan menjadi handicab dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dilakukan ritual tertentu untuk memperoleh kekuatan tertentu dari Roh nenek moyang.

2. Dinamisme – berasal dari bahasa Yunani “Dinamys” yang berarti “Kekuatan”. Dalam pemikiran orang primitif, dinamisme adalah kepercayaan yang menyatakan bahwa setiap benda mempunyai kekuatan gaib, magic, mana atau tuah. Benda-benda yang memiliki kekuatan gaib tersebut menjadi buruan yang paling menarik bagi mereka. Benda-benda bertuah atau fetish menjadi senjata untuk melawan musuh, dapat menjadio sebab kesuburan, berkembang biaknya peternakan dan lain sebagaimana. Oleh karena itu penganut dinamisme berusaha sebanyak mungkin menaklukkan benda-benda yang bertuah atau benda-benda yang telah diisi kekuatan magic (mana) dari para ahli sihir (dukun). Bagi mereka bertambah banyak “mana” seseorang, maka semakin bertambah kuat dan terjamin keselematannya.
Mana yang berbahaya atau mana yang tidak dapat dikontrol harus dijauhi atau tidak boleh didekati – mana tersebut menjadi pantangan “Taboo” baik berupa makanan atau kebiasaan. Untuk mengkontrol atau mengamankan “mana” yang menjadi pantangan (Taboo), maka diperlukan ahli sihir atau dukun. Kegagalan menghindari “mana” yang “Taboo” adalah bahaya atau malapetakan (bencana) bagi kehidupan mereka.
3. Politheisme – peningkatan “mana” menjadi “Roh” atau dari menjadi “Dewa” sangatla dimungkinkan terutama terhadap Roh nenek moyang menjadi “Dewa atau Tuhan”. Perbedaan antara Roh dan Dewa hanya terletak dalam derajat “kekuasaan”. Dewa lebih berkuasa, lebih tinggi dan lebih mulia dari pada Roh. Perpindahan proses penyembahan dari Roh ke dewa atau “Politheisme” telah memperkecil jumlah Roh-Roh yang disembah dan dipuja dalam kepercayaan animisme. Politheisme memberi bentuk dan sifat yang lebih jelas bagi dewa atau sembahan dari pada animisme kepada Roh-Roh yang abstrak dan tidak memiliki kepribadian.
Walaupun politheisme telah berhasil menyederhanakan penyembahan kepada dewa – tetap saja dewa-dewa atau Tuhan dalam politiheisme masih cukup banyak. Dalam sisi kehidupan tertentu terdapat dewa yang paling menonjol bahkan tiap-tiap daerah memiliki dewa yang berbeda, misalnya Dewa Ra (Kairo), Amon (thebes-mesir hulu), Delta (Mesir Hilir) dll. Banyak dewa dalam politheisme berpotensi menimbul-kan rasa tidak puas bahkan terdapat pertentangan tugas atara dewa-dewa atau Tuhan-Tuhan itu sendiri.

4. Henotheisme – Bagi orang yang berfikir radikal, banyak dewa dalam politheisme berpotensi menimbulkan rasa tidak puas bahkan terdapat pertentangan tugas atara dewa-dewa atau Tuhan-Tuhan itu sendiri. Maka pada perkembangan berikutnya muncul gagasan untuk mengutamakan beberapa dewa yang banyak itu sebagai obyek penyembahan. Pada moment tertentu satu Dewa diberikan kedudukan yang tertinggi diantara Tuhan-Tuhan lain dan penyembahannya lebih diutamakan, misalnya Dewa Zeus sebagai Bapak dan kepala keluarga dewa-dewa panteon, Dewa Agni dalam agama Veda. Tuhan-Tuhan utama inilah yang disebut “Henotheisme”. Henotheisme pada perkembang-an lebih lanjut dapat menjadi “Dewa Tunggal atau Monotheisme”.

5. Monotheisme – henotheisme hanya selangkah untuk menjadi monotheisme yaitu ketika Tuhan-Tuhan yang lain tidak diakui dan hanya mengakui satu Tuhan dalam alam semesta, Tuhan yang menjadikan cosmos ini. Monotheisme dalam agama Yahudi berkembang pada abad ke 8 SM, ketika mereka menetapkan Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan dan Tuhan-Tuhan dari bangsa lain dianggapnya sebagai “Syetan”. Tetapi dalam kesempatan yang lain – monotheisme tidak mesti berkembang dari henotheisme.

Terdapat beberapa konsep monotheisme yang berdiri sendiri tanpa adanya henotheisme, misalnya monotheisme dari Fir’aun Amonhatep IV pada abad ke 14 SM. Ia menetapkan “Aton” sebagai satu-satunya Tuhan dan melarang menyembah Tuhan lain diseluruh Mesir yaitu Amon (Thebes), Osiris (Delta) dan Ptah (Delta). Demikian juga dengan monotheisme yang berkembang dari agama samawi (agama wahyu/ revelation).
Dalam pemikiran teologi monotheisme, alam dan Tuhan memiliki hubungan yang sangat erat. Alam menjadi obyek penciptaan dan kreatifitas Tuhan, sedangkan Tuhan bagi alam adalah tempat bergantung. Sungguhpun demikian bentuk hubungan antara alam dengan dengan Tuhan terbagi menjadi 3 bagian, yaitu Panteisme Deisme dan Teisme.

Panteisme
Pan berati “seluruh”. Panteisme dengan demikian mengandung arti “seluruhnya Tuhan”. Panteisme berpendapat bahwwa seluruh alam (cosmos) adalah Tuhan. Tuhan ada dalam kesluruhannya dan semua yang ada dalam keseluruhannya adalah Tuhan. Benda-benda yang ada dalam gemerlapnya alam adalah bagian dari Tuhan. Karena Tuhan adalah kosmos ini dalam keseluruhannya dan benda-benda adalah bagian-bagian dari Tuhan, maka Tuhan berada dekat sekali dengan alam atau Immanent dan bukan dliuar alam atau Transendent/tidak Immanent. Tuhan menurut panteisme hanya satu, tetapi ia memiliki bagian-bagian seperti dalam pemikiran Brahman dalam Hinduisme. Sepintas dapat kita simpulkan bahwa panteisme lebih mirip dengan faham Hulul atau qihdatul wujud dalam tataran sufisme.

Deisme
Deisme berasal dari bahasa latin “Deus” yang berarti Tuhan. Menurut paham deisme Tuhan berada diluar alam/transendent yaitu tidak dalam alam (tidak Imma-nent. Tuhan menciptakan alam ini, dan sesudah alam diciptakan-Nya, Ia tidak lagi memperhatikan alam lagi. Alam berjalan dengan peraturan yang tidak berubah-ubah dan peraturan yang sempurna. Tuhan ibarat tukang jam yang membuat jam dengan tiada cela, sehingga jam terus berjalan menurut mekanisme yang telah ditetapkan. Sebaliknya alam dalam paham deisme – setelah diciptakan, alam tidak membutuh-kan lagi Tuhan dan alam berjalan menurut hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
Dalam pemikiran deisme, alam dengan Tuhan dipisahkan oleh jurang yang sangat jauh. Konsekwensi pemikiran yang kemudian berkembang adalah :
· Alam berjalan dengan peraturan yang telah ditetapkan, sehingga Tuhan tidak perlu hadlir untuk mengurusi alam.
· Mereka tidak mengakui adanya mukjizat, karena mukjizat adalah peristiwa luar biasa yang tidak sesuai dengan hukum alam atau keteraturan alam.
· Do’a tidak ada gunanya, karena Tuhan berada jauh diluar alam dan Tuhan tidak lagi memperhatikan alam ciptaan-Nya.
· Wahyu tidak dibutuhkan, karena manusia dapat menyelesaikan perkara hidupnya dengan akal yang dimilikinya. Jika wahyu dapat diterima dalam konsep deisme ber-arti Tuhan tidak berada ditempat yang jauh dan masih memperhatikan alam ciptaan-Nya.

Teisme
Teisme sepaham dengan deisme, berpendapat bahwa Tuhan adalah transendent (di luar alam), tetapi sepaham dengan panteisme. Teisme menyatakan bahwa Tuhan, sungguhpun berada di luar alam, juga dekat dengan alam. Alam setelah diciptakan oleh Tuhan, bukan tidak lagi membutuhkan Tuhan, malahan tetap berhajat kepada-Nya. Tuhan adalah sebab bagi yang ada di alam ini. Tuhan adalah dasar dari segala yang ada dan yang terjadi di alam ini. Alam tidak dapat berwujud dan berdiri sendiri tanpa Tuhan walaupun sehari.
Berbeda dengan deisme yang cenderung mandiri, maka teisme selalu mengkaitkan segala yang ada dengan eksistensi Tuhan, maka tidaklah berlebihan jika mereka kemudian berpemikiran :
· Alam tidak beredar dengan hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang tetap, tetapi beredar menurut kehendak mutlak Tuhan.
· Mereka mengakui adanya mukjizat, karena mukjizat adalah peristiwa luar biasa yang muncul karena kehendak Tuhan.
· Do’a sangat diperlukan untuk memohon karunia dari Tuhan, demikian juga dengan wahyu sangat diperlukan untuk memberi arahan agar manusia hidup dalam kehendak Tuhan

6. Atheisme
Faham atheisme berkembang dari naturalisme, sedangka naturalisme itu sendiri adalah pengembangan lebih jauh dari deisme. Sebagaimana yang diuraikan ditas bahwa deisme beranggapan bahwa tuhan jauh dari alam dan setelah alam diciptakan ia berjalan dengan hukumnya sendiri. Eksistensi yang mandiri tersebut menyebabkan Tuhan tidak berarti lagi bagi alam. Alam tidak berasal dari dan bergantung pada kekuatan diluar alam (Supranatural). Naturalisme berpendapat bahwa alam berkembang melalui evolusi dan beregerak menurut pertauran-peraturan yang tetap atau mekanisme tertentu, sehingga tidak ada lagi misteri dalam alam ini.
Naturalisme terus meningkat kepada Atheisme – suatu kepercayaan bahwa Tuhan itu tidak ada, karena alam memang berdiri sendiri serta serba lengkap dan bergerak dengan mekanismenya sendiri. Lagian kalau ada Tuhan, mengapa dia tidak mencipta-kan sesuatu yang sempurna – tidak perlu ada evolusi, tidak perlu juga ada ribuan ke-lahiran manusia kemudian mati karena penyakit, kelaparan, kemiskinan dan diabaikan oleh orang tuanya. Jika Tuhan itu ada mengapa dibiarkan kejahatan meraja lela yang akan merusak alam – bukankan Tuhan itu Dzat yang Maha Baik.

Theory Positivisme (August Comte)
Teori positivisme dikembangkan oleh August Comte (Filosof Perancis abad ke 19 M). Ia melihat ada hubungan yang sangat signifikan antara manusia dengan kekuatan suprantural yang diwujudkan dalam beberapa prilaku penyembahan. Secara umum keterkaitan manusia (masyarakat) dalam mempersepsi kekuatan eksternal (baca Agama) menjadi 3 Etats, yaitu :
1. Masyarakat Theologis – yaitu masyarakat yang nuansa theologisnya (kepercayaan kepada Tuhan) sangat kental, yang secara sederhana dapat digambarkan dalam beberapa karakter berikut ini :
· Mempercayai kekuatan Gaib artinya sumber hidup dan kehidupan berasal dari kekuatan eksternal yang transendental baik ia berada jauh (deisme) atau dekat dengan alam ini (teisme).
· Karena sumber alam berasal dari Tuhan, maka segala peristiwa alam merupakan aktifitas dari kekuatan gaib – bukan terjadi dengan sendirinya atau karena hukum atau peraturan dan mekanisme yang naturalis.
· Solusi dari setiap peristiwa dikembalikan pada kekuatan gaib melalui berbagai do’a dan ritual keagamaan.

2. Masyarakat Metafisika – yaitu masyarakat theologis yang terpelajar artinya ia tidak hanya percaya kepada Tuhan, tetapi ia sudah mampu mengusahakan sesuatu ber-dasarkan kekuatan intelektualitas dan ilmunya. Pengambaran umumnya adalah :
· Mempercayai kekuatan Gaib artinya sumber hidup dan kehidupan berasal dari kekuatan eksternal yang transendental baik ia berada jauh (deisme) atau dekat dengan alam ini (teisme), walaupun demikian ia mulai paham maksud dan tujuan dibalik sebuah peristiwa yang ada.
· Karena sumber alam berasal dari Tuhan, maka segala peristiwa alam merupakan aktifitas dari kekuatan gaib – sungguhpun demikian ia mulai mampu menganalisis hukum sebab akibat yang muncul dari peristiwa tersebut dengan menggunakan standar-standar ilmu pengetahun artinya walaupun itu kehendak Tuhan, tetapi manusia dapat mulai dapat melihat rentetan peristiwa yang menjadi sebabnya, misalnya Banjir atau kemarau yang panjang – sangat berkaitan dengan penebangan hutan dan pemanasan gelobal.
· Solusi dari setiap peristiwa disamping dilakukan dengan pendekatan supra natural (berdoa) dan melalui pendekatan ilmiyah, misalnya kalau banjir, maka sedapat mungkin manusia tidak merusak alam dll.

3. Masyarakat Positif – yaitu masyarakat yang dasar dan cara berkebudayaan sangat dipengaruhi oleh kehandalan rasio (akal). Mereka berpendapat bahwa manusia dapat menentukan semua peristiwa di dunia. Ciri-ciri yang paling menonjol adalah :
· Segala peristiwa alam tidak disebabkan oleh kekuatan Gaib, malainkan disebabkan oleh tidak berfungsi bagian dalam sebuh sistem atau unit kerja, misalnya jika ada pesawat jatuh bukan disebabkan ia melewati huan yang penuh “mana” dan tabu untuk dilewati, melainkan lebih karena disebabkan faktor technical eror (mesin rusak), natural eror (kabut atau cuaca yang sulit) atau human eror (kemampuan kerja manusia yang tidak baik).
· Solusi dari peristiwa tersebut dilakukan dengan menggunakan pendekatan rasional (ilmiyah) – artinya memperhatikan aspek mechanic, natural dan manusia.

Teori positifisme memang secara sistematis memberikan gambaran polarisasi pemikiran theologis manusia, sungguhpun demikian bukanlah sebuah kebenaran yang general jika konsep tersebut diterapkan dalam alam pandangan rasionalitas muslim. Dalam beberap kasus seorang rasionalis dikalangan muslim misalnya para filosof dan ahli-ahli dibidang MIPA dikalangan umat Islam yang rasionalis ternyata tidak meninggal-kan sisi theologis dalam kehidupan mereka.
Ibnu Shina, Al Kahawarizmi, Al Kindi, Imam Al Gazali dan Ibnu Rusyd serta pemikir Islam terkemuka lainnya adalah seorang rasionalis dalam cara berfikir, tetapi ia adalah mufti dan bahkan seorang sufi yang tentu identik dengan nilai-nilai theologis. Imam Al Gazali membuat suatu asumsi "bahwa peningkatan ilmu seseorang akan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas iman seseorang, jika tidak terjadi peningkatan dalam posisi yang sama, maka merugilah ia. Rasionalitas dalam Islam sangat diperlukan untuk mengungkap kebesaran dan kemahakuasaan Allah dan itulah ilmuwan yang sejati dalam pandangan Qs. Ali Imron : 191-192

Fungsi dan Tujuan Agama
Untuk melihat apakah manusia membutuhkan kepada agama atau tidak dapat juga dilihat dari aspek tujuan diadakannya atau dikembangkanna agama itu sendiri. Dalam setiap agama didapatkan beberapa fungsi dan tujuan agama :
1. Agama adalah jalan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan jalan tunduk pada kemauan dan kehendak rahman rahim Tuhan. Tuhan menghendaki manusia agar tetap dalam kesucian dan jalan menuju kesucian tersebut adalah dengan berusaha dekat kepada Tuhan dan tidak lupa kepada tuhan. Dengan demikian manusia tidak akan mudah terpedaya oleh kesenangan dunia yang sementara.
2. Agama mengajarkan penting menentukan hal-hal yang utama dan membatasi hal-hal yang tidak terlalu penting, misalnya kepastian bekal hidup setelah mati dan kehidupan dunia yang sementara sebagai alat transformatif hidup kelak di akherat dengan memperkuat ibadah (Sholat, Puasa, zakat dan Haji).
3. Agama menentukan kreteria perbuatan baik atau jahat; dengan harapan manusia dapat menghindarkan diri dari perbuatan jahat yang dianggap dapat mengotori kesucian jiwa bagi yang mengerjakannya. Dalam konsteks ini agama menentukan norma-norma kebaikan dan kejahatan. Ia menentukan pula peraturan-peraturan yang harus dipakai oleh manusia dalam hidup kemasyarakatannya, agar ia jauh dari kekotoran dan kejahatan.
4. Dalam masyarakat primitif – tujuan beragama (animisme dan dinamisme) adalah untuk mengumpulkan “mana” yang sebanyak-banyak, tetapi dalam agama monotheistik tujuan beragama bukan untuk kekuatan supranatural melainkan untuk kepentingan diri manusia sendiri yaitu agar manusia berjiwa suci dan berakhlaq mulia atau membawa dan membina manusia dan masyarakat menjadi baik.


KESIMPULAN
Sungguhpun dalam masyarakat rasional, akal menjadi sumber pembenaran ilmu – sehingga doktrin-doktrin agama menjadi kurang menarik. Tidak semua masyarakat atau ilmuwan yang rasional meninggalkan agama. Asumsi tersebut ternyata tidak berlaku secara mutlak sebagaimana yang terjadi pada ilmuwan-ilmuwan rasional umat Islam pada abad pertengahan – walaupun ia sangat rasional tetapi ia adalah pemeluk agama yang sangat taat. – tercatat dalam sejarah peradaban manusia baik di zaman pertengahan atau pada abad modernpun, masih terdapat banyak ilmuwan yang menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Mungkin menarik untuk kita analisis pemikiran mereka sebagai berikut :
1. Pemikiran asal-usul agama menurut Komunis dan Psycho analisys tidak memiliki argumentasi yang kuat artinya keluh kesah tidak selamanya menjadi bagian hidup dari orang yang tertindas atau kekurangan – karena keluh kesah itu muncul disebabkan oleh pemenuhan jiwa akan nilai supranatural yang tidak seimbang. Nervous juga bukan kata kunci seseorang berhalusinasi atau memimpikan sesuatu.
2. Teori Positifisme August Comte tidak seluruhnya benar, sebab dalam masyarakat yang sangat rasionalpun, masih ditemukan orang-orang yang mempercayai adanya kekuatan eksternal (Gaib) – sehingga dalam masyarakat yang modernpun masih kita temukan orang menggunakan paramater agama sebagai tata nilai kehidupan.
3. Rasionalisme yang terlalu tinggi juga akan menjadikan manusia kehilangan identitas dirinya yang lain yaitu humanisme. Kenyataan hidup menunjukkan bahwa rasionalisme murni menyebabkan lahirnya faham-faham keduniaan yang di dalamnya jauh dari nilai-nilai agama, yaitu :
a. Hedonisme – sesuatu dianggap benar kalau memberikan rasa nikmat bagi pnggunanya.
b. Utilitianisme – sesuatu dianggap benar kalau memberi nilai guna bagi dirinya.
c. Faham Maksimalitas – mewujudkan sesuatu jika secara teknis memang dapat di-wujudkan, misalnya Kloning dll.
d. Faham Permisif – menganggap sepi atau acuh tak acuh dengan pendapat orang yang penting dirinya senang.
e. Sekulerisme – faham yang memisahkan kehidupan dunia dari nilai-nilai agama.

W. Montgomery Watt :
" Betul agama mempunyai kelemahan-kelemahannya (agama ardhi). Tetapi, bagaimanapun, hanya agamalah yang dapat membawa manusia kepada tata tertib yang stabil di dunia ini”.




BUKU REFERENSI :
Quraisy Shihab : Membumikan Al Qur’an
Fazlur Rahman : Thema-thema pokok Al Qur’an
Taufiq Adnan Amal : Islam dan Tantangan Modernitas
Harun Nasution : Islam Rasional, gagasan dan pemikiran.
: Filsafat Agama
Prof.Dr. HM. Rasyidi : 4 Kuliah Agama di Perguruan Tinggi.
Nasruddin Razak : Dienul Islam

2 Comments:

  1. Okiyama said...
    Assalamualaikum Wr. Wb

    Terima Kasih Pak materinya, lengkap banget

    teguh, 2008 F
    qur'ani said...
    Assalamu'alaikum Wr, Wb

    terima kasih pak atas materinya, semoga dengan materi yang Bapak taruh dalam blok Bpk bisa membantu saya dalam perkuliahan

    Wassalamu'alaikum Wr, Wb

    qur'ani, (2009 D)

Post a Comment



Template by:
Free Blog Templates