Selasa, 06 Januari 2009

Islam sebagai Agama Samawi Terakhir

ISLAM SEBAGAI AGAMA SAMAWI TERAKHIR
Oleh : Drs. Ihsan


PENDAHULUAN
Pembahasan mengenai agama selalu saja menarik – karena sangat menarik tersebut ia telah bertahan dalam kurun waktu ribuan tahun. Ketika Socrates dan Aristoteles mendefinisikan konsep supra natural menjadi “sebab utama dan atau wajibul wujud”, maka sedikit demi sedikit eksistensi yang abstrak mengenai Tuhan mulai tergambarkan dalam definisi otak manusia. Dan ketika Allah menurunkan beberapa Rasul dan ribuan para nabi, maka semakin jelaslah konsep keberadaan yang abstrak tersebut – melalui sifat dan asma Tuhan yang bertebaran dalam kitab-kitab suci dan manuskrip-manuskrip kuno tentang Tuhan, agama dan ajarannya.
Secara umum berkembang sebuah analisa tentang asal usul agama dalam kehidupan manusia, termasuk didalam jenis dan sifat agama itu – mulailah para ilmuwan menyatakan bahwa asal mula agama karena manusia mempersepsi setiap peristiwa yang terjadi diseki-tarnya sebagai sebuah aktifitas kekuatan gaib atau setidak-tidaknya ia memiliki resonansi kekuatan gaib. Yang lain berfikiran bahwa asal usul aturan-aturan religius adalah kehendak yang maha Kuasa untuk membimbing mereka agar menemukan kesejahteraan dan keda-maian jiwa. Apapun asal usul dan bentuknya sangatlah menarik untuk kita kaji bersama konsepsi agama dalam perspektif samawi dan ardhi, termasuk didalamnya “Apakah Islam merupakan agama Samawi yang terakhir ?.

Kajian yang mendalam mengenai asal-usul dan sumber ajaran agama telah dilakukan melalui research dan telah disajika pula dengan sistematis. Kebanyakan para ahli agama membagi agama dalam perspektif asal usul atau sumber pengembangan dalam 2 kelompok, yaitu Agama Ardhi dan Agama Samawi.

Agama Ardhi
Secara umum Agama Ardhi atau agama bumi diartikan sebagai suatu ajaran yang di-hasilkan berdasarkan pemikiran atau refleksi terhadap peristiwa atau kejadian alam yang berlang-sung disekitar lingkungan hidup mereka. Agama Ardhi juga dinamakan dengan agama Thobi’i, karena ia berkembang berdasarkan daya insting ketuhanan dalam diri manusia, sehingga ketika muncul sesuatu yang luar biasa, maka secara reflektif diasumsi-kannya ia sebagai wujud adanya realitas supra natural.
Sering pula agama Ardhi dikatakan sebagai agama “Budaya” karena ia berkembang ber-dasarkan kreatifitas fikir manusia – pedoman dan bentuk ritual yang dilakukan berdasarkan olah pikir, rasa dan cipta manusia. Dalam konteks tersebut, agama menjadi bagian dari sebuah rumpun kebudayaan sebagaimana yang dikemukakan oleh E.B. Tylor. Ia mengata-kan kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang meliputi pengetahuan, dogma, nilai-nilai moral, hukum, tradisi-tradisi sosial, dan semua kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia dalan kedudukannya sebagai anggota masyarakat. Peneliti lain dari Barat yaitu Merril dan Eldrige menjelaskan bahwa dasar kebudayaan berasal dari akal manusia. Jika akal manusia membuat sebuah konsep kepercayaan dan ritualnya, maka ia juga termasuk produk budaya.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka semua manusia atau bangsa mempunyai kualifi-kasi untuk membangun agama dan kebudayaan tersendiri, kebudayaan yang bermanfaat bagi dirinya dan bangsanya. Dengan demikian kebudayaan tidak terpaku pada hasil ilmu dan teknologi, melainkan juga termasuk moral dan etika dalam suatu masyarakat
Jika agama dipandang sebagai sebuah hasil karya manusia, maka agama yang demikian memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
A. Hasil berfikir manusia sebagai wujud kemampuan berbudaya, sehingga manusia mutlak menjadi kreator (pencipta).
B. Bentuk dan kebenaran ajaran agamanya bersifat relatif spekulatif artinya tidak bresifat mutlak benar.
C. Wujud agama ardhi bermacam-macam sesuai dengan kondisi dan kemampuan berfikir masyarakat.
D. Nama agama ardhi biasanya terkait dengan pembawa atau daerahnya.


Agama Samawi
Kebalikan dari agama ardhi adalah agama samawi atau agama langit. Disebut agama langit karena berasal dari langit (samawi) – langit (samawi) selalu digunakan untuk meng-identifikasi keberadaan Tuhan. Jika kita ingin mengatakan sesuatu itu berasal dari Tuhan, maka kita menengadah atau menunjuk keatas sebuah personifikasi langit sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al Baqoroh : 29 Dalam perspektif dogmatika islam terutama ketika membicarakan keberadaan Tuhan terkadang menggunakan istilah yang abstrak tetapi mengarah pada sesuatu yang diatas atau sesuatu yang tidak terjangkau pemaknaannya oleh akal manusia, misalnya arasy (Qs. Thaha : 5).

Seringkali agama samawi disebut dengan agama wadh’I dan agama wahyu – karena ketentuan-ketentuan yang dilaksanakan oleh pemeluknya ditentukan langsung oleh Allah dalam bentuk aturan-aturan agama yang diberikan kepada rasul untuk disampaikan kepada melalui wahyu-wahyu Allah. Ayat-ayat Al qur'an yang menjelaskan hal tersebut misalnya :
1. Qs. Asy Syuura ayat 13
2. Qs. At Taubah : 37


Oleh sebab itu dalam khazanah keilmuan Islam, agama atau Ad Dien dalam kosa kata al Qur’an didefinisikan oleh para ulama sebagai “ketentuan-ketentuan Allah yang diberikan kepada manusia yang berakal untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan kese-lamatan hidup di akhirat”.
Ketentuan-ketentuan Allah yang diberikan kepada umat manusia memiliki dimensi dan subtansi ajaran yang sama, walau dalam titik tertentu terdapat perbedaan. Perbedaan-perbedaan tersebut lebih karena disebabkan faktor sosio kultural masayarakat pada waktu itu. Dengan demikian agama yang berasal dari wahyu Allah mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan agama ardhi. Sifat-sifat agama samawi tersebut adalah :
A. Ajaran agama berasal dari Wahyu Allah melalui para Rasul/Nabi Allah.
B. Rasul hanya menyampaikan ajaran kepada umat manusia dan bukan kreator dari agama yang disampaikan – Allah adalah pencipta aturan tersebut.
C. Ajaran agama Samawi bersifat benar mutlak
D. nama agama samawi hanya satu yaitu Islam

ISLAM : AGAMA SAMAWI
Agama samawi atau agama wahyu yang dibawa oleh para rasul pada hakekatnya hanya satu yaitu Islam, karena semua rasul dan umat rasul tersebut beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab Allah dan rasulnya – tidak ada perbedaan antara rasul yang satu dengan rasul yang lainnya (Qs. Al Baqoroh : 285), tetapi dalam perkembangannya agama yang satu, kalimat yang sama berubah menjadi lebih dari satu yaitu agama Nasrani, Agama Yahudi dan Agama Islam itu sendiri (dibawa oleh Nabi Muhammad). Secara dogmatik agama yang di-bawa oleh para rasul itu bernama Islam – mulai dari Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad, termasuk agama yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Isa. Ada beberapa ayat yang menyatakan bahwa nama agama yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul sebelumnya adalah Islam, misalnya :
A. Nabi Ibrahim dalam Qs. Surat Ali Imron (3) : 67 dan Qs. Al Haj (22) : 78.
B. Nabi Yusuf (Qs. Yusuf (12) : 101.)
C. Nabi Ya’kub (Qs. Al Baqarah (2) : 132)
D. Nabi Sulaiman (Qs. An Naml (27) : 29-31).
E. Nabi Isa (Qs. Ali Imron (3) : 52).

Islam adalah agama Samawi yang diturunkan oleh Allah kepada semua Nabi, dan Risalah agama (Islam) yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah risalah terakhir. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad merupakan penyempurna dan pembetul atau menjadi korektor bagi agama-agama samawi sebelumnya (Qs. Al Baqoroh : 185) . Singkatnya, nama Islam adalah nama agama yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul Allah. Menyebut ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad dengan nama lain selain Islam adalah Murtad, sebab secara dogmatik, nama aturan dan agama Allah itu adalah “ISLAM” sebagaimana yang disebut dalam Al Qur’an Surat Ali Imron (3) ayat 19 dan 85 dan Surat Al Maidah ayat 3 ).
Terminologi Islam berasal dari kata Arab “Salima”. Dari asal kata tersebut dibentuk kata “Aslama-Yuslimu-Islam” yang mempunyai 3 arti, yaitu
A. Islam berarti menyerahkan diri – menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat dalam aturan dan hukum Allah
B. Islam berarti memelihara diri dalam keselamatan – artinya orang yang menyerahkan diri dalam aturan Allah sehingga ia akan terselamatkan hidupnya di dunia dan di akhirat –karena ia telah berpegang pada tali/ hukum yang kuat.
C. Islam berarti kesentosaan dan kesejateraan – artinya mereka yang menyerahkan diri dalam aturan Allah akan mendapatkan kesejahteraan mentalitas (spiritual), ia tidak khawatir dan sedih (Al Qur’an Surat Al Baqarah (2) : 112).

Dalam perkembangannya, agama samawi terutama agama yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad telah berubah namanya menjadi Nasrani dan Yahudi yang sampai saat ini masih berkembang. Perubahan nama tersebut berkembang sesuai perkembangan pemikiran penganut agama tersebut kepada pembawanya, misalnya :
A. Agama Yahudi adalah wahyu Allah yang dibawa oleh Ya’kub untuk bangsa Israel – diteruskan oleh Nabi Yusuf. Salah satu dari keturunan Ya’kub bernama Yehuda, sehingga agama yang diturunkan oleh keluarga tersebut kemudian dikenal dengan nama Yahudi.
B. Agama Nasrani adalah Agama yang dibawa oleh Nabi Isa. Di sebut Nasrani karena Isa lahir di Kota Nazaret. Di samping itu juga disebut Kristen atau Kristiani artinya pengikut Yesus Kristus dan juga disebut Masehi karena Isa bergelar Al Masih.

Bagi orang-orang Barat (orientalis), agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad lebih sering mereka sebut dengan “Mohammedanisme” atau “Mohammedan” artinya faham Muhammad. Jika Islam yang bersifat transendental (Wahyu-Samawi) tersebut dinamakan dengan “Mohammadanisme” maka nilai yang terkandung tidak bersifat samawi dan benar mutlak, melainkan berubah menjadi :
A. Ajaran tersebut berasal dari pemikiran Nabi Muhammad bukan dari Wahyu Alllah. Hal tersebut menempatkan Muhammad sebagai pencipta. Dalam beberapa teks Al Qur'an Allah secara tegas mendudukkan nabi Muhammad sebagai :
1. utusan atau penyampai ketentuan-keten-tuan Allah, sebagaimana tugas rasul-rasul sebelumnya (Qs. Ali Imron : 144)

2. pembawa peringatan dan kabar gembira misalnya dalam Qs. Al Baqoroh : 119, Al Isro’ : 105 dan Al Furqon : 56.

3. pembawa rahmat bagi alam semesta (Qs. Al Anbiya’ : 107)
B. Sifat agama Islam menjadi spekulatif dan memiliki kualitas sebagai hasil budaya manusia, sehingga kebenarannya menjadi tidak benar mutlak – sama seperti agama ardhi yang lainya. Padahal apa yang disampaikan oleh Muhammad adalah kebenaran wahyu dan bukan rekayasa serta dorongan nafsu dari seorang yang bernama Muhammad (Qs. An Najm : 3-4)

Salah satu dari orientalis (islamologi) yang menyebut agama Islam dengan Mohamme-danisme adalah H.A.R Gibb (berkebangsaan Inggris). Dalam sebuah buku berjudul “Mohamme-danisme”, H.A.R. Gibb mengatakan “Islam is Indied much more than a system of Theology but it’s a Complex Civilization” – Islam bukan hanya sekedar system theologi (konsep keimanan) tetapi ia adalah kebudayaan yang kompleks (luas). Menyamakan Islam sebagai kebudayaan berarti memasukkan Islam menjadi bagian dari kebudayaan yang merupakan hasil cipta manusia – dengan demikian Islam dalam konsep Muhammadanisme adalah hasil cipta Nabi Muhammad. Karena unsur-unsur kebudayaan dalam pengertian Koentjoroningrat yang meng-ambil pemikiran E.B. Tylor adalah keseluruhan yang kompleks, yang meliputi pengetahuan, dogma, nilai-nilai moral, hukum, tradisi-tradisi sosial, dan semua kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia dalan kedudukannya sebagai anggota masyarakat..
Sedemikian buruknya prasangka mereka terhadap kebenaran Islam, sehingga Muhammad seorang rasul yang ummi dan ma’shum dinyatakan sebagai pembuat ajaran yang sesat, tukang sihir dan orang gila. Disamping memutar balikkan kebenaran, tak henti-henti-nya mereka memojokkan umat Islam – belakangan berkembang sebuah tesis bahwa islam dimasa yang akan datang (abad 21) tetap menjadi ancaman serius bagi hegemoni kekuasaan kafir barat. Islam sering digambarkan sebagai ancaman lipat tiga yaitu ancaman politik, ancaman peradaban dan ancaman demografi.
Kontestasi dan konfrontasi sering digambarkan sebagai benturan budaya antara Islam dan bangsa barat. Adalah Bernard Lewis dan Samuel P. Huntington yang mengumbar visi sesat dan konfrontatif mengenai Islam di dunia Barat. Menurut John L. Esposito yang mengutip pemikiran Bernard Lewis dalam “Islamic Fundamentalism” yang menjelaskan tentang akar masalah yang membuat komunitas muslim marah (the Roots of Muslim Rage) adalah “serangkaian panjang dan serangan balik, jihad dan perang salib, penaklukan dan penaklukan kembali. Dewasa ini banyak sekali dari dunia Islam yang dikuasai oleh amarah besar terhadap barat. Tiba-tiba Amerika menjadi musuh terbesar, penjelmaan kejahatan, penentang sengit segala kebaikan dan terutama penentang sengit Islam”. Mengapa ?.
Demikian juga dengan ‘The Clash of Civilizations”nya Samuel P. Huntington tak lebih jahatnya karena memuat asumsi perlawanan dan kebencian Islam kepada Barat. Jelas sekali mereka tidak memahami siapa kaum muslim itu – mereka hanya menyebut fenomena yang nampak pada watak dan keanekaragaman kebangkitan Islam yang terwujud melalui beberapa perlawanan dan radikalisme. Lebih jauh mereka tidak mampu menjelaskan secara adil dan obyektif alasan dibalik sikap para aktifis atau motor gerakan fundamentalis – mereka mengkritik, menolak dan menyerang Barat, karena imprealisme dan keberpihakan Amerika kepada Zionis (Israil) dan dukungan pemerintah-pemerintah Barat pada rezim penindas. Maka pembaca hendaklah jangan melihat itu sebagai benturan peradaban atau memegang teguh keyakinan secara membabi buta dan irrasional.
Terlepas dari hal tersebut diatas, maka sesungguhnya perbedaan pemikiran dan pere-butan pengaruh antara kelompok muslim dan non Islam (Yahudi dan Nasrani) telah menjadi fenomena general dalam kehidupan agama dan kepercayaan masyarakat. Mereka tidak akan pernah berhenti menarik-narik komunitas muslim dalam hegemoni politik dan keyakinan mereka (Qs. Al Baqoroh : 121). Oleh sebab itu perlu ditata kemampuan pemahaman umat Islam mengenai nilai-nilai kebenara agamnya terutama pengetahuan kebenaran agama Samawi (Islam, Kristen dan Yahudi) yang berkembang pada saat ini. Berikut ini sekedar indikator pembanding sebagai salah satu bentuk uji kebenaran yaitu dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
A. Terdapat konsistensi kebenaran dalam ajarannya.
B. Terdapat nilai kebenaran dalam sumber ajarannya (kitab) dalam perspektif ajaran dan sejarah perkembangannya.
C. Ajaran-ajaran agama tersebut dapat difahami dan dibenarkan oleh akal (Logis).
D. Ajaran agama tersebut mempunyai kemampuan untuk mengkontrol, mensuport, menye-lesaikan dan mengatasi permasalahan dunia.
E. Ajaran-ajaran bersifat tegas dan jelas terutama yang berkaitan dengan Konsep ketuhanan dan permasalahan non ketuhanan lainnya.

Islam sebagai agama samawi terakhir harus memiliki kualitas yang dapat memberi memberi penilaian terhadap agama Samawi sebelumnya. Oleh sebab itu Islam sebagai agama Samawi terakhir memiliki sifat-sifat :
A. Ajaran Islam bersifat universal artinya ajaran Islam tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, sekaligus tidak hanya terbatas urusan Vertikal saja melainkan meliputi segala persoalan manusia dalam hidup didunia dan di akhirat
B. Sebagai Korektor terhadap ajaran-ajaran agama sebelumnya artinya memberikan pe-nilaian terhadap kebenaran ajaran agama wahyu yang diberikan kepada nabi sebelumnya yang berkembang sampai saat ini
C. Ajaran islam bersifat fleksibel artinya dapat dilaksanakan oleh siapapun, dengan kondisi sosial dan fisik yang berbeda sekalipun atau menurut kemampuan manusia itu sendiri
D. Tata nilai yang diajarkan bersifat mutlak benar artinya ketentuan-ketentuan yang di-ajarkan memiliki kebenaran mutlak. Jika dalam aplikasinya nampak tidak benar, maka perlu dilakukan kajian ulang supaya menemukan bukti kebenarannya.
E. Ajaran-ajaran agama jelas dan tidak diskriminatif artinya berlaku untuk semua orang tampa ada pengecualian
F. Tata ajarannya sesuai dengan fitrah manusia artinya sesuai dengan kodrat dan kebutuhan manusia terhadap aturan hidupnya.

PENUTUP
Untuk menampilkan Islam yang damai dan penuh kasih sayang, perlu usaha yang tidak kenal lelah terutama ketika kita berhadapan dengan hegemoni kekuasaan bangsa barat yang selalu mendiskriditkan Islam – sampaikan kepada mereka bahwa “Islam datang bukan untuk membuat susah, ia datang untuk memberi peringatan bagi orang-orang yang takut kepada Allah, karena Islam datang Tuhan pencipta bumi dan langit yang tinggi – dzat yang bersemayam di Arasy dan dzat yang dalam kekuasaan-Nya apa-apa yang ada dilangit, di bumi dan diantara keduanya serta apa saja yang di bawah tanah (Qs. Thaha : 1-6). Oleh karena itu, janganlah bersedih atas keingkaran mereka terhadap agama Islam.


DAFTAR RUJUKAN :
1. Drs. Nasruddin Razak : Dienul Islam
2. Quraisy Shihab : Membumikan Al Qur’an
3. Fazlur Rahman : Thema-thema pokok Al Qur’an
4. harun Nasution : Islam Rasional, gagasan dan pemikiran.
5. ‘Effat al Syarqowi : Filsafat Kebudayaan Islam
6. John L. Esposito : Ancaman Islam; mitos atau realitas ?

0 Comments:

Post a Comment



Template by:
Free Blog Templates