Selasa, 11 Mei 2010
I. PENGERTIAN TAUBAT DAN RAJA'
A. Pengertian Taubat
Yang dimaksud dengan taubat masa sekarang: meninggalkan secara langsung dosa yang sedang dilakukan. Adapun taubat masa yang akan datang: bertekad untuk tidak melakukan kembali.
Taubat secara etimologis (bahasa) berasal dari kata tâba (fi’il madhi), yatûbu (fi’il mudhari’), taubatan (mashdar), yang berarti “kembali” atau “pulang” (raja’a) (Haqqi, 2003). Adapun secara terminologis (menurut makna syar’i), secara ringkas Imam an-Nawawi mengatakan, taubat adalah raja’a ‘an al-itsmi (kembali dari dosa) (Syarah Shahih Muslim, XVII/59). Dengan kata lain, taubat adalah kembali dari meninggalkan segala perbuatan tercela (dosa) untuk melakukan perbuatan yang terpuji.
Taubat tersebut adalah suatu keniscayaan bagi manusia, sebab tidak satu pun anak keturunan Adam AS di dunia ini yang tidak luput dari berbuat dosa. Semua manusia, pasti pernah melakukan berdosa. Hanya para nabi dan malaikat saja yang luput dari dosa dan maksiyat (lihat Qs. at-Tahrim [66]: 6). Manusia yang baik bukan orang yang tidak berdosa, melainkan manusia yang jika berdosa dia melakukan taubat. Rasulullah Saw telah bersabda: “Setiap anak Adam (manusia) mempunyai salah (dosa), dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah] .
Label: SMAN 1 TUBAN
MUKADIMAH
Zakat merupakan pokok agama yang sangat penting dan strategis dalam Islam, karena zakat adalah rukun Islam ketiga setelah syahadat dan shalat. Jika shalat berfungsi untuk membentuk keshalihan dari sisi pribadi, maka zakat berfungsi membentuk keshalihan dalam sistim sosial kemasyarakatan. Pembentukan keshalihan pribadi dan keshalihan dalam sistem masyarakat inilah salah satu tujuan diturunkannya Risalah Islam oleh Allah SWT kepada manusia.
Di masyarakat kita pengetahuan, kesadaran dan pengalaman terhadap perintah shalat sudah cukup merata, namun tidak begitu dengan perintah zakat. Sementara Al-Qur'an menyebutkan perintah shalat dan zakat dalam 27 tempat atau ayat, sehingga pelaksanaan shalat dan zakat merupakan satu kesatuan yang tidak mungkin dipisahkan. Hal ini tercermin pula pada masa pemerintahan Abu Bakar ra, saat melihat dalam masyarakat mulai ada pemilahan antara perintah zakat dan shalat, beliau meng- ungkapkan: "Demi Allah, saya akan memerangi orang-orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah kewajiban atas harta". (HR Jama'ah ).
Label: SMAN 1 TUBAN
Selasa, 17 November 2009
SUMBER-SUMBER HUKUM (AJARAN) ISLAM
DAN MACAM-MACAM HUKUM TAKLIFI
Bagian Pertama ; Sumber hukum Islam
I. Pengertian
A. Sumber; segala sesuatu yang darinya dibagun sebuah ajaran/tata nilai – jika dikait-kan dengan hukum Islam, maka ia berarti dasar, acuan atau rujukan ajaran Islam.
B. Hukum artinya menetapakan sesuatu atau meniadakan sesuatu, Hukum Islam (syariat-hukum Allah) adalah hukum atau undang-undang yang ditentukan oleh Allah melalui Al Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW.
Menurut Ulama Ushul Fiqih, hukum adalah tuntutan Allah SWT yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf, baik berupa tuntutan, pemilihan, atau menjadikan sesuatu menjadi syarat, penghalang, sah, batal, rukhsah atau azimah.
Sedangkan menurut ulama Fiqih, hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh tuntutan syariat berupa “al Wujub, al Mandub, al Hurumah, al Karahah dan al Ibahah”, sedangkan perbuatan yang dituntut itu disebut wajib, sunah, haram, makruh dan mubah (dibahas lebih detail pada bagian kedua).
Label: SMAN 1 TUBAN
Rabu, 11 November 2009
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN /RPP
(LEARNING IMPLEMENTATION PLAN )
Name of School : SMA Negeri 1 Tuban
Lesson : Islamic Religious Education
Class / Semester : X / A
Allocation of Time : 8 Hour Lessons (45 x 8)
A. Competency Standards
1. Understanding the sources of Islamic syari’ah, and wisdom worship Taklifi
B. Basic Competence
1. Mentioned sense, the position and function of the Holy Qur'an, Al-Hadith and Ijtihad as a source of Islamic syari’ah.
2. Explaining terms, the position and function of taklifi under Islamic syari’ah.
3. Applying the role of taklifi in our life everyday.
C. Indicators
1. Mentioned sense, the position and function of the Holy Qur'an, Al-Hadith and Ijtihad as a source of Islamic syari’ah with the indicators :
a. Ability to explain the meaning, status and function of the Holy Qur'an as a source of Islamic syari’ah.
b. Ability to explain the meaning, position and function of Al Hadith as a source of Islamic syari’ah.
c. Ability to explain all kinds and functions of Al-Hadith and AlQuran.
d. Ability to explain the meaning, position and function of Ijtihad as a source of Islamic syari’ah
2. Mentioned sense, the position and function of law in syari’ah of taklifi with indicator
a. Ability to explain legal terms in Islamic syari’ah taklifi
b. Ability to explain the legal position in Islamic syari’ah taklifi
c. Ability to explain the function of law in Islamic syari’ah taklifi
3. Applying the law taklifi in our life everyday :
a. Ability to show examples of behavior in accordance with the syari’ah taklifi in our life everyday
b. Ability to practice and get the appropriate behavior in taklifi syari’ah in our life everyday
Label: SMAN 1 TUBAN





