Jumat, 18 Maret 2011

Metode Penelitian


METODE PENELITIAN
A.   Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif, yaitu suatu pendekatan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa data-data tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.[1]
Menurut Strauss dan Corbin, yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran).[2] Sedangkan Bogdan  menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang diamati.[3]

Senin, 28 Februari 2011

Proposal Tesis - Ihsan


PROPOSAL TESIS
TRADISI DERESAN DALAM METODE SOROGAN DAN BANDONGAN
(Sebuah Studi Tentang Strategi Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Karangasem Paciran Lamongan)

A.   Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu proses di dalam menemukan transformasi (perubhan), baik dalam diri, maupun komunitas. Oleh sebab itu, proses pendidikan yang benar adalah membebaskan seseorang dari berbagai kungkungan, intimidasi, dan ekploitasi. Disinilah letak afinitas (gaya gabung) dari paidagogik, yaitu membebaskan manusia secara konfrehensif dari ikatan-ikatan yang terdapat diluar dirinya atau dikatakan sebagai sesuatu yang mengikat kebebasan seseorang.
Kungkungan, Intimidasi dan eksploitasi akan terjadi, jika pendidikan dijadikan instrumen oleh sistem penguasa yang ada hanya untuk mengungkung kebebasan individu. Secara mikro, pendidikan yang ada di Indonesia, sebagian kecil yang terdesain dan terorganisir oleh bingkai sistem. Gambaran sistem yang ada merupakan bentuk pemaksaan kehendak dan perampasan kebebasan individu, kesadaran potensi, dan kreativitas. Maka pendidikan telah berubah menjadi instrumen oppressive (penindasan) bagi perkembangan individu atau komunitas masyarakat.
Maka dari pada itu, pendidikan adalah merupakan elemen yang sangat signifikan dalam menjalani kehidupan. Karena dari sepanjang perjalanan manusia pendidikan merupakan barometer untuk mencapai maturasi nilai-nilai kehidupan. Ketika melihat dari salah satu aspek tujuan pendidikan nasional sebagai mana yang tercantum dalam UU RI SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003, tentang membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur melalui proses pembentukan kepribadian, kemandirian dan norma-norma tentang baik dan buruk.[1] Dalam perspektif yang lain, manusia sebagai makhluk pengemban etika yang telah dikaruniai akal dan budi.  Dengan demikian, adanya akal dan budi menyebabkan manusia memiliki cara dan pola hidup yang multidimensi, yakni kehidupan yang bersifat material dan bersifat spritual.

Senin, 06 Desember 2010

Manajemen Resiko

MANAJEMEN RESIKO DALAM PENGEMBANGAN
PENDIDIKAN ISLAM
Editor : Drs. IHSAN


A. Pengertian Manajemen Resiko
Istilah (risk) risiko memiliki berbagai definisi. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:
1. Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian).
2. Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada.
3. Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian). Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.

Rabu, 13 Oktober 2010

Psykologi Pendidikan

AKTIFITAS PEMBELAJARAN MENURUT PRINSIP PSIKOLOGI PENDIDIKAN



A. Pengertian Pembelajaran Dalam Aktifitas Pendidikan
Belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu, proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu yang dipelajari.
Sedangkan mengajar sendiri memiliki pengertian :
1. Upaya guru untuk “membangkitkan” yang berarti menyebabkan atau mendorong seseorang (siswa) belajar. (Rochman Nata Wijaya,1992)
2. Menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjdinya proses belajar. (Hasibuan J.J,1992)
3. Suatu usaha untuk membuat siswa belajar, yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku. (Gagne)

Dan Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. (KBBI)

Minggu, 17 Januari 2010

TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM


Oleh :
I H S A N


BAB I
PENDAHULUAN

Satu hal yang paling penting dalam masalah pendidikan formal adalah pengaturan kurikulum. Karena kurikulumlah yang dijadikan sebagai acuan bagi berjalannya proses pendidikan. Bahkan termasuk sebagai acuan bagi evaluasi berhasil atau tidaknya proses pembelajaran yang dilakukan guru/ sekolah.
Dalam sistem pendidikan Islam, tentu kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut. Penyusunan kurikulum diatur sedemikian rupa, sehingga benar-benar bisa membentuk kepribadian Islam yang sempurna pada peserta didik. Mereka bukan hanya menguasai sainstek, cerdas secara intelektual saja, tetapi juga memahami hakekat diadakannya proses pendidikan itu sendiri.

BANI BUWAIHI;
DINASTI BESAR DI MASA ABBASIYAH



Oleh :
I H S A N

BAB I
PENDAHULUAN

Membicarakan Daulat Abbasiyah berarti membicarakan separuh perjalanan kemegahan peradaban dunia pada masa pertengahan, sekaligus separuh kemegahan aplikasi ajaran Islam – separuhnya yang lain diperankan oleh daulat Bani Umaiyah di Andalusia (Spanyol) dengan berbagai kemegahan peradaban baik yang ada di Cordova, Granada dan berbagai tempat lainnya di Andalusia.
Daulat Abbasiyah berdiri dengan tetesan darah yang ditumpahkan oleh Abul Abbas As Shafah yang berhasil membangum emperium Abbasiyah setelah berhasil menyingkir-kan hegemoni daulat Umaiyah. Dimulai sejak tahun 750 M dan berakhir pada tahun 1258 M bersamaan dengan datangnya tentara Mongol yang memporak pandakan peradaban dunia di kota Bagdad.

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA
DINASTI SALJUQ (1055-1258 M)





Oleh :
I H S A N


BAB I
PENDAHULUAN

Bangsa Turki mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan kehudayaan Islam. Peran yang paling menonjol terlihat dalam politik ketika mereka masuk dalam barisan tentara profesional maupun dalam birokrasi pemerintahan yang hekerja untuk khalifah-khalifah Banu `Abbas. Kemudian, mereka sendiri membangun kekuasaan yang sekalipun independen tapi masih tetap mengaku loyal kepada khalifah Bani 'Abbas. Hal itu ditunjukkan dengan munculnya Banu Saljuq (1038-1194)

AL HALLAJ DAN PEMIKIRAN TASAWUFNYA





Oleh :
I H S A N


BAB I
PENDAHULUAN

Kebanyakan orang menggambarkan prilaku Sufi itu identik dengan kehidupan yang menyendiri, tidak mau berkumpul dengan orang banyak (masyarakat), tidak menikah bahkan untuk mendengar dan melihat kehidupan duniapun mereka tidak mau. Penggambaran seperti itu ada kalanya memiliki kebenaran tetapi yang sesungguhnya benar adalah apa yang dilakukan oleh Nabi, ketika Nabi memandang penting kehidupan dunia dan memuliakan kehidupan akhirat sebagai tujuan akhir hidup manusia. Nabi memiliki keluarga, beliau juga memeras keringat untuk memberi nafkah keluarga-Nya, minum dan makan sebagaimana manusia yang lain, memiliki rasa cinta kepada dunia dan keluarga, namun kesemuanya itu tidak mampu menghalangi Nabi untuk melakukan proses penyucian diri dan pendekatan kepada Allah sebagai Hamba yang pandai bersyukur.

Senin, 30 November 2009

TIPOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM DAN IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM


Oleh :
I H S A N


BAB I
PENDAHULUAN

Satu hal yang paling penting dalam masalah pendidikan formal adalah pengaturan kurikulum. Karena kurikulumlah yang dijadikan sebagai acuan bagi berjalannya proses pendidikan. Bahkan termasuk sebagai acuan bagi evaluasi berhasil atau tidaknya proses pembelajaran yang dilakukan guru/ sekolah.
Dalam sistem pendidikan Islam, tentu kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran dalam pendidikan disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut. Penyusunan kurikulum diatur sedemikian rupa, sehingga benar-benar bisa membentuk kepribadian Islam yang sempurna pada peserta didik. Mereka bukan hanya menguasai sainstek, cerdas secara intelektual saja, tetapi juga memahami hakekat diadakannya proses pendidikan itu sendiri.

Penddidikan Islam Klasik

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA
DINASTI SALJUQ (1055-1258 M)


Oleh :
I H S A N


BAB I
PENDAHULUAN

Bangsa Turki mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan kehudayaan Islam. Peran yang paling menonjol terlihat dalam politik ketika mereka masuk dalam barisan tentara profesional maupun dalam birokrasi pemerintahan yang hekerja untuk khalifah-khalifah Banu `Abbas. Kemudian, mereka sendiri membangun kekuasaan yang sekalipun independen tapi masih tetap mengaku loyal kepada khalifah Bani 'Abbas. Hal itu ditunjukkan dengan munculnya Banu Saljuq (1038-1194)
Independensi dari khilafah Abbasiyah mulai ditunjukkan secara lebih jelas oleh dinasti Danisymandiyyah (1071-1177) dan Qaramaniyyah (1256-1483). Setelah hancur-nya Baghdad di tangan Bangsa Mongol, orang-orang Turki semakin mempertegas kemandirian mereka dalam membangun kekuasaannya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Turki Usmani (1281-1924). Bahkan, pengaruh dinasti itu menjangkau wilayah yang sangat luas, termasuk Eropa Timur, Asia Kecil, Asia Tengah, Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara .

Al Hallaj

AL HALLAJ DAN PEMIKIRAN TASAWUFNYA



Oleh :
I H S A N



BAB I
PENDAHULUAN

Kebanyakan orang menggambarkan prilaku Sufi itu identik dengan kehidupan yang menyendiri, tidak mau berkumpul dengan orang banyak (masyarakat), tidak menikah bahkan untuk mendengar dan melihat kehidupan duniapun mereka tidak mau. Penggambaran seperti itu ada kalanya memiliki kebenaran tetapi yang sesungguhnya benar adalah apa yang dilakukan oleh Nabi, ketika Nabi memandang penting kehidupan dunia dan memuliakan kehidupan akhirat sebagai tujuan akhir hidup manusia. Nabi memiliki keluarga, beliau juga memeras keringat untuk memberi nafkah keluarga-Nya, minum dan makan sebagaimana manusia yang lain, memiliki rasa cinta kepada dunia dan keluarga, namun kesemuanya itu tidak mampu menghalangi Nabi untuk melakukan proses penyucian diri dan pendekatan kepada Allah sebagai Hamba yang pandai bersyukur.

Senin, 29 Juni 2009

FILSAFAT ILMU
SEBUAH STUDY TENTANG PENGERTIAN DAN PERKEMBANGANNYA


Editor : I H S A N

sumber tulisan : http://akhmadsudrajat.wordpress.com)


A. Pengertian Filsafat Ilmu
Untuk memahami arti dan makna filsafat ilmu, di bawah ini dikemukakan pengertian filsafat ilmu dari beberapa ahli yang terangkum dalam Filsafat Ilmu, yang disusun oleh Ismaun (2001)
1. Robert Ackerman “philosophy of science in one aspect as a critique of current scientific opinions by comparison to proven past views, but such aphilosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific paractice”. (Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
2. Lewis White Beck “Philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of scientific enterprise as a whole. (Filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan)
3. A. Cornelius Benjamin “That philosopic disipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual discipines. (Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.)

FILSAFAT ILMU
SEBUAH KAJIAN TENTANG BAGAIMANA MANUSIA MEMPEROLEH DAN MEMAKNAI ILMU


TEORI PENGETAHUAN
Pengetahuan (knowledge atau ilmu )adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya,yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan " barangkali " keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuan-nya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi.
Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatas- perlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah).

Study Al Qur'an

AL QUR'AN DALAM PERSPEKTIF SEJARAH PENULISAN DAN PEMBUKUANNYA


Oleh : I H S A N


I. PENDAHULUAN
Sebagaimana yang telah banyak dikemukakan, bahwa Al qur’an merupakan salah satu dari sekian banyak bukti kebenaran Islam. Bukti kebenaran Islam yang bernama Al Qur’an nampak-nya telah menarik banyak orang untuk mengkajinya, ada yang mengkaji pada aspek ke-susastraannya, makna dan kandungan hukumnya dll. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa keberadaan Al Qur’an telah menyita banyak perhatian dunia, khususnya dunia ilmu pengetahuan.
Al Qur’an yang dalam bahasa Arab berarti bacaan atau suatu yang dibaca adalah wahyu Allah yang diberikan kepada Rasulullah dengan menggunakan Bahasa Arab dan bagi orang yang membacanya akan mendapatkan pahala. Al Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Muhammad sebagai kerangka acuan untuk hidup dan kehidupan, oleh sebab itu ia mengandung nilai yang sangat sempurna, fleksibel, universal, dan dapat diaktualisasikan dimana dan kapan saja Al Qur’an itu ditempatkan .

Ilmu Pendidikan

PENDEKATAN DAN KOMUNIKASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ISLAM

Penyusun : I H S A N

BAB I : PENDAHULUAN

Pembelajaran pendidikan Islam, juga proses pembelajaran-pembelajaran lainnya membutuhkan cara atau tehnik untuk menyampaikan materi sehingga materi atau pesan tersebut dapat dipahami, dicerna dan dianalisis dalam tataran pemikiran peserta didik atau penerima pesan; kemudian berkembang menjadi tata nilai yang mengkristal dalam bentuk kepribadian siswa atau peserta didik.
Terlalu banyak pola pendekatan atau cara berkomunikasi yang dikembangkan oleh para pakar pendidikan dan pakar komunikasi baik dikalangan pendidik Islam maupun non Islam – baik untuk pendidikan umum maupun pendidikan dengan basis keagamaan; yang kesemuanya dimaksudkan untuk mengoptimalisasi pesan yang ingin disampaikan.

Kamis, 11 Juni 2009

PANDANGAN ORIENTALIS TERHADAP OTENTITAS HADITS

Oleh :
I H S A N

I. PENGERTIAN DAN TUJUAN ORIENTALIS
Orientalisme yang pada awalnya adalah salah satu kajian keilmuan yang tergabung di dalam ilmu Antropologi, memiliki tujuan yang sama dengan ilmu induknya tersebut yaitu untuk mempelajari kebudayaan lain agar bisa menemukan kebudayaan terbaik yang bisa dijadikan kebudayaan pilot project bagi seluruh dunia.
Secara bahasa orientalisme berasal dari kata orient yang artinya timur. Secara etnologis orientalisme bermakna bangsa-bangsa di timur, dan secara geografis bermakna hal-hal yang bersifat timur, yang sangat luas ruang lingkupnya. Orang yang menekuni dunia ketimuran ini disebut orientalis. Orientalisme adalah gagasan pemikiran yang mencerminkan berbagai kajian tentang negara-negara timur Islam.

;;

Template by:
Free Blog Templates