Minggu, 17 Januari 2010

AL HALLAJ DAN PEMIKIRAN TASAWUFNYA





Oleh :
I H S A N


BAB I
PENDAHULUAN

Kebanyakan orang menggambarkan prilaku Sufi itu identik dengan kehidupan yang menyendiri, tidak mau berkumpul dengan orang banyak (masyarakat), tidak menikah bahkan untuk mendengar dan melihat kehidupan duniapun mereka tidak mau. Penggambaran seperti itu ada kalanya memiliki kebenaran tetapi yang sesungguhnya benar adalah apa yang dilakukan oleh Nabi, ketika Nabi memandang penting kehidupan dunia dan memuliakan kehidupan akhirat sebagai tujuan akhir hidup manusia. Nabi memiliki keluarga, beliau juga memeras keringat untuk memberi nafkah keluarga-Nya, minum dan makan sebagaimana manusia yang lain, memiliki rasa cinta kepada dunia dan keluarga, namun kesemuanya itu tidak mampu menghalangi Nabi untuk melakukan proses penyucian diri dan pendekatan kepada Allah sebagai Hamba yang pandai bersyukur.

Dalam suatu riwayat, diceritakan Aisyah ummul Mu’minin didatangi seorang perempuan yang wajahnya cantik tetapi lusuh, kotor, tidak ada semangat dan gairah kehidupan – Aurah kecantikannya hampir pudar dan hilang. Seraya menceritakan kehidupan rumah tangganya kepada Aisyah – ia bilang bahwa suaminya terus menerus berpuasa disiang hari dan melakukan i’tikaf di Masjid pada malam harinya – waktunya habis digunakan untuk ibadah. Saya dibiarkan tidur kedinginan di rumah. Lalu disampaikanlah peristiwa tersebut kepada Nabi, maka Nabi mencari siapa gerangan laki-laki tersebut – maka didapatinya laki-laki tersebut sedang puasa dan i’tikaf di Masjid. Di tegurlah laki-laki tersebut seraya berkata “saya juga makan, minum, berpuasa dan memiliki Istri, maka kembalilah kepada keluargamu”. Beberapa hari kemudian wanita itu datang lagi kepada Aisyah dengan wajah cantik dan penuh gairah, di bibirnya tersungging sebuah senyuman yang penuh arti.
Pemaknaan tasawuf oleh Nabi berbeda dengan pemaknaan kesucian yang diperlihatkan oleh seorang laki-laki tersebut – yang menyebabkan Nabi harus melakukan klarifikasi dan koreksi sehingga tidak terjadi pemaknaan tasawuf dalam konteks "Rabi atau Pastor" dalam agama Kristen. Al Hallaj sebagai tokoh sentral pembahasan seminar kali ini memberikan pemaknaan tasawuf jauh lebih hebat dari pada pemaknaan kata-kata – Seketika dia telah disalibkan dan menunggu ajal, sebab dia berkepercayaan bahwa dirinya bersatu dengan Tuban (“Wihdatul Wujud” atau “ittihad”), maka datang seseorang bertanya kepadanya : “Di waktu sekarang patutlah bertinggal kata kepada kami, apakah arti yang sejati dari Tasawuf itu ?”
Darah telah titik dari tubuh dan dari dalam matanya, punggungnya telah hangus kena panas, hanya menunggu tubuhnya akan dipotong-potong. Waktu itu ia berkata, kata yang penghabisan : “tasawuf ialah yang engkau lihat dengan matamu ini. Inilah dia tasawuf” .

Mengingat luasnya kajian tasawuf terutama yang berkaitan dengan kontroversi sufisme Al Hallaj, maka pokok bahasan dalam kajian ini difokuskan pada hal-hal sebagai berikut :
1. Sejarah ringkas kehidupan Al Hallaj – yang memungkinkan kita dapat melihat factor mendasar mengapa Al Hallaj memiliki pemikiran tasawuf yang controversial.
2. Pemikiran-pemikiran tasawuf Al Hallaj terutama konsep Al Ittihad dan Wihdatul Wujud.
3. Pandangan para sufi terhadap kontroversi pemikiran sufisme Al Hallaj.
4. Perbandingan Sufisme Al Hallaj dan Syech Siti Jenar dalam masyarakat Indonesia.

BAB II
SEKILAS TENTANG KEHIDUPAN AL HALLAJ


A. DAERAH TEMPAT KELAHIRAN AL HALLAJ
Husain ibn Mansur al-Hallaj atau biasa disebut dengan Al-Hallaj adalah salah seorang ulama sufi yang dilahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran Tenggara, pada tanggal 26 Maret 866 M. Ia merupakan seorang keturuna Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam. Al-Hallaj merupakan syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: "Akulah Kebenaran", ucapan yang membuatnya dieksekusi secara brutal .
al-Husain bin Mansur, juga populer dipanggil dengan Abul Mughits, berasal dari penduduk Baidha’ Persia, lalu berkembang dewasa di Wasith dan Irak. Menurut catatan As-Sulamy, Al-Hallaj pernah berguru pada Al-Junaid al-Baghdady, Abul Husain an-Nury, Amr al-Makky, Abu Bakr al-Fuwathy dan guru-guru lainnya. Walau pun ia ditolak oleh sejumlah Sufi, namun ia diterima oleh para Sufi besar lainnya seperti Abul Abbad bin Atha’, Abu Abdullah Muhammad Khafif, Abul Qasim Al-Junaid, Ibrahim Nashru Abadzy. Mereka memuji dan membenarkan Al-Hallaj, bahkan mereka banyak mengisahkan dan memasukkannya sebagai golongan ahli hakikat. Bahkan Muhammad bin Khafif berkomentar, “Al-Husain bin Manshur adalah seorang a’lim Rabbany.”
Bagi sebagian ulama islam, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid'ah, sebab Islam tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri. Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut.
Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya dan berbagai pelajaran yang diajarkannya. Aththar, dalam karyanya Tadzkirah al-Awliya, menyuguhkan kepada kita banyak legenda seputar al-Hallaj. Dalam komentarnya, ia menyatakan, "Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar (yakni, mengacu pada percakapan Allah dengan nabi Musa as) yang menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan al-Hallaj, 'Akulah Kebenaran', padahal itu kata-kata Allah sendiri!". Di dalam syair epiknya, Matsnawi, Rumi mengatakan, "Kata-kata 'Akulah Kebenaran' adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir'aun adalah kezaliman ."

B. SEJARAH KEHIDUPAN AL HALLAJ
1. Sejarah kehidupan Al Hallaj
Sebagaimana yang dikemukakan di atas bahwa Al-Hallaj di lahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran tenggara, pada 866 M. Berbeda dengan keyakinan umum, ia bukan orang Arab, melainkan keturunan Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam.
Ketika al-Hallaj masih kanak-kanak, ayahnya, seorang penggaru kapas (penggaru adalah seorang yang bekerja menyisir dan memisahkan kapas dari bijinya). Bepergian bolak-balik antara Baidhah, Wasith, sebuah kota dekat Ahwaz dan Tustar. Dipandang sebagai pusat tekstil pada masa itu, kota-kota ini terletak di tapal batas bagian barat Iran, dekat dengan pusat-pusat penting seperti Bagdad, Bashrah, dan Kufah. Pada masa itu, orang-orang Arab menguasai kawasan ini, dan kepindahan keluarganya berarti mencabut, sampai batas tertentu, akar budaya al-Hallaj.
Di usia sangat muda, ia mulai mempelajari tata bahasa Arab, membaca Al-Qur'an dan tafsir serta teologi. Ketika berusia 16 tahun, ia merampungkan studinya, tapi merasakan kebutuhan untuk menginternalisasikan apa yang telah dipelajarinya. Seorang pamannya bercerita kepadanya tentang Sahl at-Tustari, seorang sufi berani dan independen yang menurut hemat pamannya, menyebarkan ruh hakiki Islam. Sahl adalah seorang sufi yang mempunyai kedudukan spiritual tinggi dan terkenal karena tafsir Al-Qur'annya. Ia mengamalkan secara ketat tradisi Nabi dan praktek-praktek kezuhudan keras semisal puasa dan shalat sunat sekitar empat ratus rakaat sehari. Al-Hallaj pindah ke Tustar untuk berkhidmat dan mengabdi kepada sufi ini.
Dua tahun kemudian, al-Hallaj tiba-tiba meninggalkan Sahl dan pindah ke Bashrah. Tidak jelas mengapa ia berbuat demikian. Sama sekali tidak dijumpai ada laporan ihwal corak pendidikan khusus yang diperolehnya dari Sahl. Tampaknya ia tidak dipandang sebagai murid istimewa. Al-Hallaj juga tidak menerima pendidikan khusus darinya. Namun, ini tidak berarti bahwa Sahl tidak punya pengaruh pada dirinya. Memperhatikan sekilas praktek kezuhudan keras yang dilakukan al-Hallaj mengingatkan kita pada Sahl. Ketika al-Hallaj memasuki Bashrah pada 884 M, ia sudah berada dalam tingkat kezuhudan yang sangat tinggi. Di Bashrah, ia berjumpa dengan Amr al-Makki yang secara formal mentahbiskannya dalam tasawuf. Amr adalah murid Junaid, seorang sufi paling berpengaruh saat itu .
Al-Hallaj bergaul dengan Amr selama delapan belas bulan. Akhirnya ia meninggalkan Amr juga. Tampaknya seorang sahabat Amr yang bernama al-Aqta yang juga murid Junaid mengetahui kemampuan dan kapasitas spiritual dalam diri al-Hallaj dan menyarankan agar ia menikah dengan saudara perempuannya, Betapapun juga Amr tidak diminta pendapatnya, sebagaiman lazimnya terjadi. Hal ini menimbulkan kebencian dan permusuhan serta bukan hanya memutuskan hubungan persahabatan antara Amr dan Al-Aqta, melainkan juga membahayakan hubungan guru-murid antara Amr dan al-Hallaj. Al-Hallaj yang merasa memerlu-kan bantuan dan petunjuk untuk mengatasi situasi ini, berangkat menuju Baghdad dan tinggal beberapa lama bersama Junaid, yang menasehatinya untuk bersabar. Bagi Al-Hallaj, ini berarti menjauhi Amr dan menjalani hidup tenang bersama keluarganya dan ia kembali ke kota kelahirannya. Diperkirakan bahwa ia memulai belajar pada Junaid, terutama lewat surat-menyurat, dan terus mengamalkan kezuhudan .
Enam tahun berlalu, dan pada 892 M, al-Hallaj memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Kaum Muslimin diwajibkan menunaikan ibadah ini sekurang-kurangnya sekali selama hidup (bagi mereka yang mampu). Namun ibadah haji yang dilakukan al-Hallaj tidaklah biasa, melainkan berlangsung selama setahun penuh, dan setiap hari dihabiskannya dengan puasa dari siang hingga malam hari. Tujuan al-Hallaj melakukan praktek kezuhudan keras seperti ini adalah menyucikan hatinya menundukkannya kepada Kehendak Ilahi sedemikian rupa agar dirinya benar-benar sepenuhnya diliputi oleh Allah. Ia pulang dari menunaikan ibadah haji dengan membawa pikiran-pikiran baru tentang berbagai topik seperti inspirasi Ilahi, dan ia membahas pikiran-pikiran ini dengan para sufi lainnya. Diantaranya adalah Amr al-Makki dan mungkin juga Junaid .
Sangat boleh jadi bahwa Amr segera menentang al-Hallaj. Aththar menun-jukkan bahwa al-Hallaj datang kepada Junaid untuk kedua kalinya dengan beberapa pertanyaan ihwal apakah kaum sufi harus atau tidak harus mengambil tindakan untuk memperbaiki masyarakat (al-Hallaj berpandangan harus, sedangkan Junaid berpandangan bahwa kaum sufi tidak usah memperhatikan kehidupan sementara di dunia ini). Junaid tidak mau menjawab, yang membuat al-Hallaj marah dan kemudian pergi. Sebaliknya, Junaid meramalkan nasib Al-Hallaj.
Ketika al-Hallaj kembali ke Bashrah, ia memulai mengajar, memberi kuliah, dan menarik sejumlah besar murid. Namun pikiran-pikirannya bertentangan dengan ayah mertuanya. Walhasil, hubungan merekapun memburuk, dan ayah mertuanya sama sekali tidak mau mengakuinya. Ia pun kembali ke Tustar, bersama dengan istri dan adik iparnya, yang masih setia kepadanya. Di Tustar ia terus mengajar dan meraih keberhasilan gemilang. Akan tetapi, Amr al-Makki yang tidak bisa melupakan konflik mereka, mengirimkan surat kepada orang-orang terkemuka di Ahwaz dengan menuduh dan menjelek-jelekkan nama al-Hallaj, situasinya makin memburuk sehingga al-Hallaj memutuskan untuk menjauhkan diri dan tidak lagi bergaul dengan kaum sufi. Sebaliknya ia malah terjun dalam kancah hingar-bingar dan hiruk-pikuk duniawi.
Al-Hallaj meninggalkan jubah sufi selama beberapa tahun, tapi tetap terus mencari Tuhan. Pada 899 M, ia berangkat mengadakan pengembaraan apostolik pertamanya ke batasan timur laut negeri itu, kemudian menuju selatan, dan akhirnya kembali lagi ke Ahwaz pada 902 M. Dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan guru-guru spiritual dari berbagai macam tradisi di antaranya, Zoroastrianisme dan Manicheanisme. Ia juga mengenal dan akrab dengan berbagai terminologi yang mereka gunakan, yang kemudian digunakannya dalam karya-karyanya belakangan. Ketika ia tiba kembali di Tustar, ia mulai lagi mengajar dan memberikan kuliah. Ia berceramah tentang berbagai rahasia alam semesta dan tentang apa yang terbersit dalam hati jamaahnya. Akibatnya ia dijuluki Hallaj al-Asrar (kata Asrar bisa bermakna rahasia atau kalbu. Jadi al-Hallaj adalah sang penggaru segenap rahasia atau Kalbu, karena Hallaj berarti seorang penggaru) ia menarik sejumlah besar pengikut, namun kata-katanya yang tidak lazim didengar itu membuat sejumlah ulama tertentu takut, dan ia pun dituduh sebagai dukun.
Setahun kemudian, ia menunaikan ibadah haji kedua. Kali ini ia menunaikan ibadah haji sebagai seorang guru disertai empat ratus pengikutnya. Banyak legenda dituturkan dalam perjalanan ini berkenaan dengan diri al-Hallaj berikut berbagai macam karamahnya. Semuanya ini makin membuat al-Hallaj terkenal sebagai mempunyai perjanjian dengan jin. Sesudah melakukan perjalanan ini, ia memutuskan meninggalkan Tustar untuk selamanya dan bermukim di Baghdad, tempat tinggal sejumlah sufi terkenal, ia bersahabat dengan dua diantaranya mereka, Nuri dan Syibli.
Pada 906 M, ia memutuskan untuk mengemban tugas mengislamkan orang-orang Turki dan orang-orang kafir. Ia berlayar menuju India selatan, pergi keperbatasan utara wilayah Islam, dan kemudian kembali ke Bagdad. Perjalanan ini berlangsung selama enam tahun dan semakin membuatnya terkenal di setiap tempat yang dikunjunginya. Jumlah pengikutnya makin bertambah.
Tahun 913 M adalah titik balik bagi karya spiritualnya. Pada 912 M ia pergi menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya dan terakhir kali, yang berlangsung selama dua tahun, dan berakhir dengan diraihnya kesadaran tentang Kebenaran. Di akhir 913 M inilah ia merasa bahwa hijab-hijab ilusi telah terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka dengan sang Kebenaran (Al-Haqq) . Di saat inilah ia mengucapkan, "Akulah Kebenaran" (Ana Al-Haqq) dalam keadaan ekstase. Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia dengan menjadi "hewan kurban". Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang dilakukan setiap muslim, melainkan juga demi dosa-dosa segenap manusia. Ia menjadi seorang Jesus Muslim, sungguh ia menginginkan tiang gantungan.
Di jalan-jalan kota Baghdad, dipasar, dan di masjid-masjid, seruan aneh pun terdengar: "Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini.
Pada abad ke 9 Masehi, berkembang kehidupan kerohanian Islam dengan jalan melakukan Zuhud (mengabaikan dunia) untuk mencapai kesempurnaan makrifat dan tauhid kepada Allah. Gagasan-gagasan para ahli sufi dan syiah pada abad tersebut telah ditemukan, baik yang berupa berupa syair ataupun pemikiran yang menunjukkan keanekaragaman kemungkinan dalam kehidupan mistik, seperti halnya Al Ghazaly, Dzun Nun (859 M), Bayezid Bistami (874 M), dan Al Harith al Muhasibi (857 M) dan Husein Ibn Mansur Al hallaj (858 M). Pemikiran dan peranan para tokoh inilah yang perlu kita ketahui sebagai wacana keilmuan dan sejarah, sekaligus menganalisa konflik pemikiran yang tidak pernah habis dibahas, karena pihak-pihak yang berbeda pendapat tidak pernah saling bertemu untuk memberikan klarifikasi dalam satu majelis, kecuali hanya saling mengecam dan mengkafirkan dengan musabab bibit konflik politik kekuasaan yang serakah dan licik sejak lama. Banyak kisah keshalehan serta kata-kata bijak penuh hikmah yang mengisi setiap referensi kitab-kitab keislaman di Timur maupun di Barat yang berasal dari para tokoh Sufi ini, baik yang bisa difahami oleh kaum awam sampai pernyataannya yang banyak mengundang perdebatan yang tidak henti-hentinya sampai sekarang. Menarik untuk dikaji kembali penyataan yang populer yang di lontarkan oleh Husein Ibnu Al Hallaj " Akulah kebenaran Yang Tertinggi ". Peristiwa ini merubah pandangan masyarakat umum terhadap kaum Sufi atau para Zahid yang menjalankan olah kerohaniannya dengan melakukan dzikir secara rutin, shalat malam dan menjauhkan diri dari perbuatan maksyiat. Sehingga pada ujungnya berpengaruh terhadap perkembangan ilmu tafsir yang menjadi mandek. Terlihat para mufassirin agak ragu-ragu menafsirkan kata-kata hiperbolis kedalam pengertian proporsi yang sebenarnya, dan sampai kini orang menjadi merasa takut apabila membicarakan mengenai ilmu hakikat dan makrifat. Mereka mengira ilmu tasawuf adalah ajaran sesat dan membahayakan. Saya menganggap pandangan mereka terlalu gegabah dan tidak bijaksana. Pandangan yang mengakibatkan ajaran Islam menjadi amat dangkal, karena nilai spiritual yang seharusnya diajarkan telah hilang, yaitu nilai psikologi keihsanan kepada Allah dalam setiap peribadatan, yang mestinya paling dianggap menentukan dalam kaitan diterima atau ditolaknya perilaku keagamaan seseorang. Saya terkesan dengan pandangan Yahya, seorang Sufi yang shaleh menanggapi pernyataan orang Yang menganggap dirinya Tuhan dengan doa dalam bentuk dialektis :
Oh Allah , kau telah mengirim Musa dan Harun ke Fir'aun si pemberontak dan berkata, " berbicaralah baik-baik dengannya" , Oh Allah , inilah kebaikan hati-Mu terhadap orang yang menganggap dirinya Tuhan; bagaimana pula gerangan kebaikan hati-Mu terhadap orang menjadi abdimu sepenuh jiwanya ? …Oh Allah, ada takut kepada-Mu karena aku budak, dan aku berharap pada-Mu karena kaulah Tuan ! …Oh Allah bagaimana pula aku tidak takut padaMu karena Kau Maha Kuasa ? Oh Allah , bagaimana aku datang kepada-Mu karena aku budak yang memberontak, dan bagaimana aku tidak datang kepada-Mu karena Kau Penguasa yang pemurah .
Sebagai tokoh yang tiada hentinya dibicarakan di dunia mistik Islam maupun dikalangan yang memusuhinya, Al Husain ibnu Mansur Al Hallaj pada tahun 922 M dijatuhi hukuman mati oleh para wakil kaum ahli hukum karena ajaran yang disebarkannya, yang dianggap telah keluar dari aqidah Islam -yang terutama- berasal dari ucapannya yang terkenal, Ana 'l Haqq ( Akulah kebenaran Tertinggi ). Pro dan kontra dari jatuhnya hukuman tersebut -sampai sekarang- masih juga terjadi, namun demikian saya memiliki alasan sendiri mengapa tokoh ini masih pantas dibahas pada sebuah telaah seperti ini, yaitu kemungkinan a priori bahwa riwayat hidup dan ajarannya lebih banyak berpengaruh terhadap Islam di Indonesia dari pada ditempat lain. Sejak lama, terutama karena penelitian Snouck Hurgronje dan B.O. Schrieke, kita tahu dengan pasti bahwa para saudagarlah yang berperan dalam ekspansi agama Islam di Indonesia berasal dari India, khususnya dari daerah Gujarat, dipantai Barat Laut semenanjung India. Daerah tersebut mempunyai hubungan yang khusus dengan Al Hallaj, dimana dia sendiri membawa agama Islam kesana dan bahkan berhasil membawa tiga kasta ke dalam pangkuan agama Islam. Bahwa konteks itu memang cukup luas jangkauannya terbukti oleh kenyataan, bahwa sebagian dari kasta-kasta itu sampai sekarang ini masih disebut orang Mansuri, sedangkan makam Al Hallaj di Bagdad tetap didatangi oleh orang-orang Gujarat . Saya kira tidak mungkin mengabaikan riwayat beliau karena banyak memainkan peranan penting dalam dunia Islam di Indonesia dari pada di tempat lain, terutama di Jawa dan Aceh. Kita bisa melihat baik tersirat maupun tersurat, dalam ajaran sinkretisme Jawa terdapat unsur-unsur pantheisme atau manunggaling kawula Gusti, yang berakar dari ajaran Mistik Islam kejawen dengan latar belakang ajaran Tharikat Naqsabandiyah yang dianut oleh Pujangga besar Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam kitabnya Serat Wirid Hidayat Jati ataupun ajaran Hindu yang merupakan sumber paham pantheisme.

2. Kehidupan rohani Al Hallaj
Kehidupan rohani yang nampak mengemuka dari seorang yang bernama al Hallaj adalah kontroversinya tentang "Ana Al_Haq". Statemen ini membawa pada kematian yang sangat tragis.
Tragis! Begitulah kesan yang nyaris sepenuhnya tepat untuk melukiskan tragedi kematian Abu Mansur al-Hallaj (244-309 H/957-922 M), sang sufi besar yang kontroversial itu. Tubuhnya yang renta diseret, disalib, tangan dan kakinya dipotong, lalu dibakar dan abunya dibuang ke laut .
Kafir" karena telah mengaku Tuhan adalah materi dasar dakwaan pemerin-tah yang berkuasa. Tapi Louis Massignon, penulis buku paling representatif tentang Hallaj, La Passion de Hallaj, Martyr Mystique de l'Islam: La Doctrine de Hallaj, menyatakan persoalannya tidak sesederhana itu. Nuansa politis tak bisa dikesampingkan, dan itu terlihat dari pergeseran penyebutan dari "zindiq" ke "kafir". Persoalan yang lahir kemudian adalah simplifikasi pengertian Ana al-Haq (Akulah Sang Kebenaran) .
Tawasin merupakan karya Hallaj yang dapat memberikan jawaban atas persoalan ini. Ia adalah salah satu karya Hallaj yang berbentuk prosa lirik. Walau tidak secanggih Ibnu Arabi dalam mengurai gagasannya serta tidak selihai Rumi dalam memintal bahasa, buku ini cukup jelas menampilkan pikiran kreatif Hallaj tentang realitas yang berujung pada Ana al-Haq.
Ana al-Haq adalah kesimpulan dari konsep realitas yang dibangun Hallaj dari negasi segala yang selain-Nya serta afirmasi Tuhan sebagai satu-satunya kebenaran. Di sini Hallaj sebenarnya telah menerapkan kalimat la ilaha illa Allah (tiada tuhan selain Allah) sepenuhnya dan seutuhnya. Bagi Hallaj, Tuhan adalah realitas absolut yang melahirkan realitas relatif, yaitu semesta dan segala isinya. Proses kelahiran realitas relatif melalui tingkat-tingkat realitas sehingga sampai pada satu titik ujung Nur Muhammad. Karena itu Nabi Muhammad saw adalah inti realitas semesta dengan citra Tuhan, yang disebut Ibnu Arabi sebagai al-mir'ah al-muhammadiyyah (cermin berupa Muhammad).
Sebagai realitas relatif, semesta yang berasal dari Tuhan mengemban citra (shurah) Tuhan dalam dirinya sehingga ia berfungsi sebagai tanda (ayat) Tuhan. Dalam diri manusia, Tuhan meletakkan citranya. Karena itu Ia akan selalu hadir dan "menampakkan diri" (tajalli) ketika manusia mengusahakannya. Hallaj--dalam perjalanan spiritualnya--telah sampai pada tingkat merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. "Bila kau tak mengenali-Nya, kenalilah ayat-ayat-Nya. Dan Akulah tanda penampakan-Nya (tajalli). Ana al-Haq, Akulah Kebenaran! Ini karena tak henti-hentinya aku merealisasikan Kebenaran itu," kata Hallaj dalam Tawasin-nya (hlm. 48).
Pernyataan seperti ini didasarkan Hallaj pada pengalaman menyatu (unity experience) dirinya dengan Sang Kebenaran, setelah tidak puas dengan rumusan dan konsep tentang realitas absolut. Ia mengumpamakan dirinya dengan seekor ngengat yang terbang mengitari api. Tapi ia tidak puas dengan cahaya dan panas, sehingga ia masuk membakar diri, menyatu dengan api (hlm. 12).
Hallaj sadar, penyatuan sepenuhnya tidak akan pernah tercapai selama dirinya masih terpenjara dalam tubuh yang fisik-material. Maka kematian adalah jalan yang harus dilewati untuk keluar dari penjara itu dan menyatu secara total dengan Tuhan yang sering ia sebut "Kekasih". Karena itu, Hallaj tidak takut pada hukuman mati yang akan dijalaninya, padahal ia tahu betul proses eksekusi sadis atas dirinya seperti diramalkan dalam Tawasin-nya. "Guruku Fir'aun dan temanku Iblis," katanya pada bagian lain. Keduanya adalah representasi figur yang tidak mau mencabut keyakinan, apapun yang akan menimpa, termasuk kematian. Baginya, kematian bukanlah tragedi, tapi jalan yang harus dilewati.
Membaca tuntas Tawasin, yang tergolong tipis, begitu mengasyikkan, mem-pesona, karena kreatif, tajam, dan "nakal". Kita akan mafhum apa sebenarnya yang dimaksud Hallaj. Ia hanya menerapkan tauhid secara utuh, tanpa destruksi sedikitpun, tanpa sama sekali bermaksud mengaku Tuhan.
Dalam bagian akhir Tawasin, Hallaj menegaskan: "Allah adalah Allah, makhluk adalah makhluk. Dan ini tidak perlu dipersoalkan." Dengan mengenal karya Hallaj sendiri, kita bisa memperkaya pengetahuan tentang tasawuf falsafi yang selama ini didominasi oleh wacana pemikiran Ibnu Arabi. Karena hakikatnya Hallaj berbicara tentang dunia metafisika.
Dalam dunia tasawuf, para sufi seringkali dianggap sebagai orang shalih yang jiwanya telah mencapai suatu tingkat keruhanian berada di atas orang-orang biasa. Mereka tahu apa yang orang biasa tidak tahu, mereka merasakan apa yang orang biasa tidak merasakannya. Karena didorong maksud baik untuk berbagi kebahagiaan yang mereka rasakan dalam pengalaman keruhanian atau biasa disebut sebagai pengalaman sufistik, para sufi itu berusaha menjelaskan pengalaman batin yang mereka rasakan, namun seringkali tak terwadahi oleh kata-kata dan tak terpahami oleh masyarakat biasa. Biasanya para sufi itu menjelaskan banyak sekali menggunakan simbolisme, metafora-metafora. Oleh karena itu mereka tidak bisa dipahami hanya dari segi zahiriyahnya saja. Maka terjadilah kesalahpahaman yang meresahkan, suatu keadaan yang tak diinginkan oleh para tokoh agama yang diakui dan merasa mempunyai otoritas untuk merumuskan, menafsirkan dan menjaga kemurnian atau ortodoksi ajaran agama.

BAB III
KISAH-KISAH MISTIk AL HALLAJ

A. KAROMAH SUFI Al HALLAJ
Husain ibn Manshur al-Hallaj atau biasa disebut al-Hallaj adalah ulama sufi yang dilahirkan di kota thur dikawasan iran tenggara pada tanggal 26 maret 866 M. Beliau memiliki begitu banyak karomah semasa hidupnya. Menutur Anthhar (murid al Hallaj) melewati sebuah gudang kapas dan melihat seonggok buah kapas. Ketika jarinya menunjuk pada onggokan buah kapas itu, biji-bijinya pun terpisah dari serat kapas.
Beliau juga dijuluki Hallaj Al Asrar karena mampu membaca pikiran orang dan menjawab pertanyaan mereka sebelum ditanyakan kepadanya.
Saat menunaikan ibadah haji yang ke dua kalinya, al-Hallaj pergi ke sebuah gunung untuk mengasingkan diri bersama beberapa orang pengikutnya. Sesudah makan malam, al-Hallaj mengaakan dia ingin makan manisan. Semua muridnya kebingungan lantaran semua perbekalan telah habis. al-Hallaj tersenyum dan berjalan menembus kegelapan malam. Beberapa menit kemudian al-Hallaj kembali sambil membawa makanan berupa kue-kue hangat yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Al-Hallaj kemudian meminta semua muridnya makan bersama. Seorang murid al-Hallaj penasaran dan ingin tahu dari mana al-Hallaj memperoleh makanan tersebut dan menyembunyikan kue bagiannya. Ketika mereka kembali dari dari pengasingan diri, sang murid ini mencari seseorang yang mengetahui asal kue itu. Akhirnya salah seorang warga kota Zabib, sebuah kota yang jauh dari situ mengetahui bahwa kue itu berasala dari kotanya. Sang murid yang keheranan ini pun sadar bahwa al-Hallaj mempeoleh kue itu secara ajaib. "Tak ada seoranh pun dan hanya jin saja yang sanggup menempuh jarak yang jauh dalam waktu singkat", katanya.
Pada kesempatan lain, al-Hallaj mengarungi padang pasir bersama sekelompok orang dalam perjalanan menuju mekkah. Di suatu tempat sahabat-sahabatnya menginginkan buah ara. al-Hallaj pun mengambil senampan penuh buah ara dari udara. Kemudian mereka meminta Hlawa, al-Hallaj membawa senampan penuh halwa hangat dan berlapis gula serta memberikannya kepada mereka. Usai memakannya, mereka mengatakan bahwa kue itu khas suatu daerah di Baghdad. Mereka pun bertanya bagai-mana al-Hallaj mendapatkannya dari negeri yang amat jauh tersebut. al-Hallaj pun men-jawab bahwa baghdad dan padang pasir adalah sama dan tidak ada jarak diantaranya.
Kemudian mereka pun meminta kurma, al-Hallaj sejenak berdiri dan menyuruh mereka untuk menggerakan tubuh mereka seperti sedang menggoyang-goyang pohon kurma. Ketika mereka melakukannya makan kurma-kurma segar pun berjatuhan dari lengan baju mereka.

B. BERBAGAI LEGENDA DAN KISAH TENTANG AL HALLAJ
Bagaimana mulanya Husain ibn manshur di sebut al-Hallaj sebuah nama yang berarti penggaru (khususnya kapas)? Menurut Aththar, suatu hari Husain ibn Manshur melewati sebuah gudang kapas dan melihat seonggok buah kapas. Ketika jarinya menunjuk pada onggokan buah kapas itu. Biji-bijinya pun terpisah dari serat kapas. Ia juga dijuluki Hallaj- al-asrar --penggaru segenap Kalbu-- karena ia mampu membaca pikiran orang dan menjawab berbagai pertanyaan mereka sebelum ditanyakan kepadanya.
Al-Hallaj terkenal karena berbagai keajaibanya. Salah satu orang muridnya menuturkan kisah berikut ini:
"Sewaktu menunaikan ibadah haji kedua kalinya, al-Hallaj pergi ke sebuah gunung untuk mengasingkan diri bersama beberapa orang pengikutnya. Sesudah makan malam, al-Hallaj mengatakan bahwa ia ingin makan manisan".
Murid-muridnya kebingungan lantaran mereka telah memakan habis semua bekal yang mereka bawa. Al-Hallaj tersenyum dan berjalan menembus kegelapan malam. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa makanan berupa kue-kue hangat yang belum pernah mereka ketahui sebelumya. Ia meminta mereka untuk makan bersamanya, seorang muridnya, yang penasaran dan ingin tahu dari mana al-Hallaj memperolehnya, menyembunyikan kue bagiannya, ketika mereka kembali dari mengasingkan diri sang murid ini mencari seseorang yang bisa mengetahui asal kue itu, seseorang dari Zabid, sebuah kota yang jauh dari situ, mengetahui bahwa kue itu berasal dari kotanya, sang murid yang keheranan ini pun sadar bahwa al-Hallaj memperoleh kue itu secara ajaib. "Tak ada seorang pun dan hanya jin saja yang sanggup menempuh jarak sedemikian jauh dalam waktu singkat"! serunya.
Pada kesempatan lain al-Hallaj mengarungi padang pasir bersama sekelompok orang dalam perjalanan menuju Mekah. Di suatu tempat, sahabat-sahabatnya menginginkan buah ara, dia ia pun mengabil senampan penuh buah ara dari udara. Kemudian mereka meminta halwa, ia membawa senampan penuh halwa hangat dan berlapis gula serta memberikannya kepada mereka, usai memakannya mereka mengatakan bahwa kue itu khas berasal dari daerah anu di Bagdad, mereka bertanya ihwal bagaimana ia memperolehnya. Ia hanya menjawab, baginya Baghdad dan padang pasir sama dan tidak ada bedanya, kemudian mereka meminta kurma, ia diam sejenak berdiri dan menyuruh mereka untuk menggerakkan tubuh mereka seperti mereka menggoyang-goyang pohon kurma, mereka melakukannya, dan kurma-kurma segar pun berjatuhan dari lengan baju mereka.
Al-Hallaj terkenal bukan hanya karena keajaibannya, melainkan juga karena kezuhudannya. Pada usia lima puluh tahun ia mengatakan bahwa ia memilih untuk tidak mengikuti agama tertentu, melainkan mengambil dan mengamalkan praktek apa saja yang paling sulit bagi nafs (ego)-nya dari setiap agama. Ia tidak pernah meninggalkan shalat wajib, dengan shalat wajib ini ia melakukan wudhu jasmani secara sempurna.
Ketika ia mulai menempuh jalan ini, ia hanya mempunyai sehelai jubah tua dan dan bertambal yang telah dikenakannya selama bertahun-tahun. Suatu hari, jubah itu diambil secara paksa, dan diketahui bahwa ada banyak kutu dan serangga bersarang didalamnya --yang salah satunya berbobot setengah ons. Pada kesempatan lain, ketika ia memasuki sebuah desa, orang-orang melihat kalajengking besar yang mengikutinya. Mereka ingin membunuh kalajengking itu, ia menghentikan mereka seraya mengatakan bahwa kalajengking itu telah bersahabat dengannya selama dua belas tahun, tampaknya ia sudah sangat lupa pada nyeri dan sakit jasmani.
Kezuhudan al-Hallaj adalah sarana yang ditempanya untuk mencapai Allah, yang dengan-Nya ia menjalin hubungan sangat khusus sifatnya, suatu hari, pada waktu musim ibadah haji di Mekah, ia melihat orang-orang bersujud dan berdoa, "Wahai Engkau. Pembimbing mereka yang tersesat, Engkau jauh di atas segenap pujian mereka yang memuji-Mu dan sifat yang mereka lukiskan kepada-Mu. Engkau tahu bahwa aku tak sanggup bersyukur dengan sebaik-baiknya atas kemurahan-Mu. Lakukan ini di tempatku, sebab yang demikian itulah satu-satunya bentuk syukur yang benar."
Kisah penangkapan dan eksekusi atas dirinya sangat menyentuh dan mengharu-biru kalbu. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya, Syibli, bahwa ia sibuk dengan tugas amat penting yang bakal mengantarkan dirinya pada kematiannya. Sewaktu ia sudah terkenal dan berbagai keajaibannya dibicarakan banyak orang. Ia menarik sejum lah besar pengikut dan juga melahirkan musuh yang sama banyaknya, akhirnya, khalifah sendiri mengetahui bahwa ia mengucapkan kata-kata bid'ah, "Akulah Kebenaran." Musuh al-Hallaj menjebaknya untuk mengucapkan, Dia-lah Kebenaran ia hanya menjawab, "Ya, segala sesuatu adalah Dia! Kalian bilang bahwa Husain telah hilang, memang benar. Namun Samudra yang meliputi segala sesuatu tidaklah demikian."
Beberapa tahun sebelumnya, ketika al-Hallaj belajar dibawah bimbingan Junaid, ia diperintahkan untuk bersikap sabar dan tenang. Beberapa tahun kemudian, ia datang kembali menemui Junaid dengan sejumlah pertanyaan. Junaid hanya menjawab bahwa tak lama lagi ia bakal melumuri tiang gantungan dengan darahnya sendiri, Tampaknya, ramalan ini benar adanya. Junaid ditanya ihwal apakah kata-kata al-Hallaj bisa ditafsirkan dengan cara yang bakal bisa menyelamatkan hidupnya. Junaid menjawab, "Bunuhlah ia, sebab saat ini bukan lagi waktunya menafsirkan." al-Hallaj di jebloskan ke penjara. Pada malam pertama sewaktu ia dipenjara, para sipir penjara mencari-carinya. Mereka heran. Ternyata selnya kosong. Pada malam kedua, bukan hanya al-Hallaj yang hilang, penjara itu sendiri pun hilang!
Pada malam ketiga, segala sesuatunya kembali normal. Para sipir penjara itu bertanya, di mana engkau pada malam pertama? ia menjawab, "pada malam pertama aku ada di hadirat Allah. Karena itu aku tidak ada di sini. Pada malam kedua, Allah ada di sini, karenanya aku dan penjara ini tidak ada. Pada malam ketiga aku di suruh kembali!"
Beberapa hari sebelum dieksekusi, ia berjumpa dengan sekitar tiga ratus narapidana yang ditahan bersamanya dan semuanya dibelenggu. ia berkata bahwa ia akan membebaskan mereka semua, mereka heran karena ia berbicara hanya tentang kebebasan mereka dan bukan kebebasannya sendiri ia berkata kepada mereka: "Kita semua dalam belenggu Allah di sini. Jika kita mau, kita bisa membuka semua belenggu ini," kemudian ia menunjuk belenggu-belenggu itu dengan jarinya dan semuanya pun terbuka. Para narapidana pun heran bagaimana mereka bisa melarikan diri, karena semua pintu terkunci. Ia menunjukkan jarinya ke tembok, dan terbukalah tembok itu. "Engkau tidak ikut bersama kami?" tanya mereka "Tidak, ada sebuah rahasia yang hanya bisa diungkapkan di tiang gantungan!" jawabnya
Esoknya, para sipir penjara bertanya kepadanya tentang yang terjadi pada narapidana lainnya. Ia menjawab bahwa ia telah membebaskan mereka semua :"Mengapa engkau tidak sekalian pergi?" tanya mereka "Dia mencela dan menyalah-kanku. Karenanya aku harus tetap tinggal di sini untuk menerima hukuman," jawabnya.
Sang khalifah yang mendengar percakapan ini, berpikir bahwa al-Hallaj bakal menimbulkan kesulitan, karena itu, ia memerintahkan, "Bunuhlah atau cambuklah sampai ia menarik kembali ucapannya!" Al-Hallaj dicambuk tiga ratus kali dengan rotan, setiap kali pukulan mengenai tubuhnya terdengar suara gaib berseru, "Jangan takut, putra Manshur."
Mengenang hari itu, seorang sufi syekh Shaffar, mengatakan aku lebih percaya pada akidah sang algojo ketimbang akidah al-Hallaj. Sang algojo pastilah mempunyai akidah yang kuat dalam menjalankan Hukum Ilahi sebab suara itu bisa didengar demikian jelas, tetapi tangannya tetap mantap.
Al-Hallaj digiring untuk di eksekusi. Ratusan orang berkumpul. Ketika ia melihat kerumunan orang, ia berseru lantang, "Haqq, Haqq, ana al-Haqq --Kebenaran, kebenaran, Akulah kebenaran."
Pada waktu itu, seorang darwis memohon al-Hallaj untuk mengajarinya tentang cinta. Al-Hallaj mengatakan bahwa sang darwis akan melihat dan menge-tahui hakikat cinta pada hari itu, hari esok, dan hari sesudahnya.
All-Hallaj dibunuh pada hari itu. Pada hari kedua tubuhnya dibakar, dan pada hari ketiga abunya ditebarkan dengan angin, Melalui kematiannya, al-Hallaj menun-jukkan bahwa cinta berarti menanggung derita dan kesengsaraan demi orang lain.
Ketika menuju ke tempat eksekusi, ia berjalan dengan sedemikian bangga. "Mengapa engkau berjalan sedemikian bangga?" tanya orang-orang. "Aku bangga lantaran aku tengah berjalan menuju ketempat pejagalanku," jawabnya kemudian ia melantunkan syair demikian :
Kekasihku tak bersalah
Diberi aku anggur dan amat memperhatikanku,
laksana tuan rumah
perhatikan sang tamu
setelah berlalu sekian lama,
dia menghunus pedang dan
menggelar tikar pembantaian
inilah balasan buat mereka yang minum anggur lama
bersama dengan singa
tua di musim panas.
Ketika dibawa ke tiang gantungan, dengan suka rela ia menaiki tangga sendiri. Seseorang bertanya tentang hal (keadaan spiritual atau emosi batin)-nya. Ia menjawab bahwa perjalanan spiritual para pahlawan justru dimulai di puncak tiang gantungan, ia berdoa dan berjalan menuju puncak itu.
Sahabatnya, Syibli, hadir di situ dan bertanya, "Apa itu tasawuf?" al-Hallaj menjawab bahwa apa yang disaksikan Syibli saat itu adalah tingkatan tasawuf paling rendah. "Adakah yang lebih tinggi dari ini?" tanya Syibli "Kurasa, engkau tidak akan mengetahuinya!", jawab al-Hallaj.
Ketika al-Hallaj sudah berada di tiang gantungan, setan datang kepadanya dan bertanya, "Engkau bilang aku dan aku juga bilang aku. Mengapa gerangan engkau menerima rahmat abadi dari Allah dan aku, kutukan abadi?"
Al-Hallaj menjawab, "Engkau bilang aku dan melihat dirimu sendiri, sementa-ra aku menjauhkan diri dari keakuan-ku. Aku beroleh rahmat dan engkau, kutukan. Memikirkan diri sendiri tidaklah benar dan memisahkan diri dari kedirian adalah amalan paling baik."
Kerumunan orang mulai melempari al-Hallaj dengan batu. Namun, ketika Syibli melemparkan bunga kepadanya untuk pertama kalinya, al-Hallaj merasa kesakitan. Seseorang bertanya, "Engkau tidak merasa kesakitan dilempari batu, tapi lembaran sekuntum bunga justru membuatmu kesakitan mengapa?
Al-Hallaj menjawab "Orang-orang yang jahil dan bodoh bisa dimaafkan. Sulit rasanya melihat Syibli melempar lantaran ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukannya."
Sang algojo pun memotong kedua tangannya. Al-Hallaj tertawa dan berkata, "Memang mudah memotong tangan seorang yang terbelenggu. Akan tetapi, diperlukan seorang pahlawan untuk memotong tangan segenap sifat yang memisahkan seseorang dari Allah." (dengan kata lain, meninggalkan alam kemajemukan dan bersatu dengan Allah membutuhkan usah keras dan luar biasa). Sang Algojo lantas memotong kedua kakinya. Al-Hallaj tersenyum dan berkata, "Aku berjalan di muka bumi dengan dua kaki ini, aku masih punya dua kaki lainnya untuk berjalan di kedua alam. Potonglah kalau kau memang bisa melakukannya!"
Al-Hallaj kemudian mengusapkan kedua lenganya yang buntung kewajahnya sehingga wajah dan lengannya berdarah. "Mengapa engkau mengusap wajahmu dengan darah?" tanya orang-orang. Ia menjawab bahwa karena ia sudah kehilangan darah sedemikian banyak dan wajahnya menjadi pucat maka ia mengusap pipinya dengan darah agar orang jangan menyangka bahwa ia takut mati.
Mengapa," tanya mereka, "Engkau membasahi lenganmu dengan darah?" Ia menjawab, "Aku sedang berwudu. Sebab, dalam salat cinta. Hanya ada dua rakaat, dan wudhunya dilakukan dengan darah."
Sang algojo kemudian mencungkil mata al-Hallaj. Orang-orang pun ribut dan berteriak. Sebagian menangis dan sebagian lainnya melontarkan sumpah serapah, lalu, telinga dan hidungnya dipotong. Sang algojo hendak memotong lidahnya. Al-Hallaj memohon waktu sebentar untuk mengatakan sesuatu, "Ya Allah, janganlah engkau usir orang-orang ini dari haribaan-Mu lantaran apa yang mereka lakukan karena Engkau. Segala puji bagi Allah, mereka memotong tanganku karena Engkau semata. Dan kalau mereka memenggal kepalaku, itu pun mereka melakukan karena keagungan-Mu." Kemudian ia mengutip sebuah ayat Al-Qur'an : "Orang-orang yang mengingkari Hari kiamat bersegera ingin mengetahuinya, tetapi orang-orang beriman berhati-hati karena mereka tahu bahwa itu adalah benar."
Kata-kata terakhirnya adalah: Bagi mereka yang ada dalam ekstase "Cukuplah sudah satu kekasih."
Tubuhnya yang terpotong, yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, dibiarkan berada di atas tiang gantungan sebagai pelajaran bagi yang lainnya. Esoknya, baru sang algojo memenggal kepalanya. Ketika kepalanya dipenggal al-Hallaj tersenyum dan meninggal dunia. Orang-orang berteriak tapi al-Hallaj menunjukkan betapa berbahagia ia bersama dengan kehendak Allah. Setiap bagian tubuhnya berseru, "Akulah kebenaran", sewaktu meninggal dunia setiap tetesan darahnya yang jatuh ke tanah membentuk nama Allah.
Hari berikutnya mereka yang berkomplot menentangnya, memutuskan bahwa bahkan tubuh al-Hallaj yang sudah terpotong-potong pun masih menimbulkan kesulitan bagi mereka. Karena itu, mereka pun memerintahkan agar tubuhnya di bakar saja. Malahan, abu jenazahnya berseru, "Akulah Kebenaran."
Al-Hallaj telah meramalkan kematiannya sendiri dan memberitahu pembantunya bahwa ketika abu jenazahnya dibuang ke sungai Tigris permukaan sungai akan naik sehingga seluruh Baghdad pun terancam tenggelam. Ia memerintahkan pembantunya menaruh jubahnya ke sungai untuk meredakan ancaman banjir, pada hari ketiga ketika abu jenazahnya diterbangkan oleh angin ke sungai. Permukaan air pun terbakar, air mulai naik, dan sang pembantu melakukan apa yang diperintahkannya, permukaan air pun surut, api padam, dan abu jenazah al-Hallaj pun diam.
Waktu itu, seorang tokoh terkemuka mengatakan bahwa ia melakukan salat sepanjang malam di bawah tiang gantungan sepanjang malam. Ketika fajar menyingsing, terdengarlah suara gaib berseru, "Kami berikan salah satu rahasia kami dan ia tidak menjaganya. Sungguh, inilah hukuman bagi mereka yang mengungkap-kan segenap rahasia kami."
Syibli menyebutkan bahwa, suatu malam. Ia mimpi bertemu dengan al-Hallaj dan bertanya, "Bagaimana Allah menghakimi orang-orang ini?" Al-Hallaj menjawab bahwa mereka yang tahu bahwasanya ia benar dan juga mendukungnya berbuat demikian karena Allah semata. Sementara itu, mereka yang ingin melihat dirinya mati tidaklah mengetahui hakikat kebenaran, oleh sebab itu, mereka menginginkan kematiannya, kematiannya karena Allah semata. Allah merahmati kedua kelompok ini.

BAB IV
PEMIKIRAN TASAWUF AL HALLAJ


A. ITTIHAD, HULUL DAN FANA FIL LAHUT
Ittihad adalah nama lain dari pengembangan konsep Wihdatul Wujud dalam tradisi Shufi dan Filsafat. Ittihat atau dalam bahasa kita “menjadi satu antara Khalik dengan Makhluk, manusia dengan Tuhannya – pertama kali dikembangkan oleh “Bisthami” (Abu Yazid al Bisthami), seorang Shufi terkenal pada abad ke III H. yang memiliki darah ke-turunan penganut Zoroaster. Abu Yazid sendiri tidak menulis kitab, tetapi pengikutnya menghimpun ajaran dan pahamnya dalah kitab “Kasyful Mahjub”(terbuka penutupan tabir manusia). Paham ittihad ini, olehnya diberi nama dengan “Tajrid Fana fit Tauhid”.
Paham Ittihad kemudian dibesarkan oleh Junaid dan Al Hallaj. Al Hallaj mem-benarkan bahwa jiwa manusia yang sudah bersih itu “(Roh Nathiqah), sungguh-sungguh dapat bersatu dengan Tuhan, sesudah berlakunya “Hulul Lahut Fin Nasut” atau "fana fi al Lahut". Ia juga me-netapkan seorang wali dapat bersatu dengan Tuhan, sehingga wali itu itulah Tuhan, dan Tuhan itu itulah wali, “huwa – huwa”, yaitu tatkala orang suci itu fana dan mengucapkan :”Anal al Haq”. Ke-yakinan tersebut ditentang oleh kalangan Sunni, Al Hallaj sendiri bertahun-tahun dipenjara-kan, kemudian di hukum pancung pada tahun 922 M.
Secara dogmatis, tidak ditemukan ayat dalam Al Qur’an yang dengan tegas menerangkan adanya Ittihad, walau ada beberapa ayat yang menerangkan akrabnya (dekatnya) Tuhan dengan Hambanya, seperti :”Kami lebih dekat padanya dari pada kedua urat lehernya”. Kelompok Asy’ariyah tidak dapat menerima Ittihad Shufi, karena dapat mero-bohkan keyakinan Keesaan Tuhan dalam Dzat dan Sifat. Tuhan tidak dapat diturunkan kepada manusia dan manusia tidak dapat dinaikkan kepada tingkat Ketuhanan.
Sedangkan Hulul berasal dari kata Halla, yang dalam pengertian Shufi berarti “ Tuhan berada pada tiap-tiap tempat”, oleh karena itu Tuhan juga berada dalam diri manusia. Perkataan Hulul erat kaitannya dengan ittihad atau bersatunya Tuhan dengan Manusia, karena konsep Ittihad merupakan kelanjutan dari pemahaman bahwa “Tuhan ada pada tiap-tiap tempat” dan “Tuhan berarti ada juga dalam diri manusia”.
Menurut Ibnu Taimiyah , paham “Hulul dan Ittihad” membawa manusia kepada kufur dan sangat buruk akibatnya bagi Islam, yang didasarkan atas Tauhid yaitu Esa dalam Dzat dan Sifatnya. Dalam pandangan Ibnu Taimiyah, Ittihad tidaklah dapat diartikan berpadu menjadi satu antara Tuhan dan hamba-Nya, dalam arti kata sebenar-benarnya, tetapi bersatu dalam ke-indahan dan tujuan, maka seseorang dapat dikatakan bersatu dengan Tuhan-nya jika orang itu mencintai apa yang dicintai oleh Allah, membenci apa yang dibenci oleh Allah, beramal dan berbuat apa yang disuruh Tuhan-Nya, kecintaan Tuhan menjadi kecintaannya dan musuh Tuhan menjadi musuhnya. Jadi yang dimaksud dengan Hulul atau Ittihad , tiap orang dapat bersatu Dzatnya dengan Dzat Tuhan-Nya, tidaklah dapat diterima Iman dan Islam.
Fana An Nash fil Lahut adalah sebuah istilah untuk menggambarkan keadaan jiwa rohani manusia itu larut dan hanyut dalam Tuhan. Pemahaman seperti itu muncul ketika manusia sampai pada tahapan bersatu dengan Tuhan (Wihdatul Wujud atau Ittihad), sehingga yang ada leburnya manusai dalam diri tuhan. Maka tidak berlebihan dikalangan pengamal Shufi ada yang berpendapat bahwa “saya adalah al Haq” – “tidak ada al Hallaj”, yang ada hanyalah “al Haq” untuk menggambarkan sebuah kesatuan, sebuah peleburan dan keterhanyutan manusia dan Tuhannya. Tidak ada lagi penggambaran dua subtansi yang berbeda antara Khaliq dan Makhluqnya – al Khaliq dan Makhluq sudah bersatu. Dalam tradisi Jawa, peristiwa tersebut dinamakan dengan “Manunggaling Kawulo lan Gusti”

B. WIHDATUL WUJUD
Wihdatul Wujud atau eksistensi yang tunggal merupakan bahasan penting dalam Tasawwuf. Wihdatul Wujud berkembang dari konsep Wajibul Wujud atau pencipta yang tunggal yang wajib ada. Dalam hal tersebut terkandung keyakinan bahwa seluruh alam dengan segala isinya yang ada diciptakan hanya oleh satu Dzat Pencipta yang tunggal dalam sifat dan perbuatannya. Dzat pencipta dalam sifat perbuatannya, menyebabkan ada eksistensi lain yaitu makhluk, maka dalam pandangan Suhrawardi, antara Wajibul Wujud dengan manusia terdapat kemungkin-an hubungan (ittisal) dan kesatuan (ittihad).
Ajarannya kadang-kadang berupa syair dan kadang-kadang berupa natsar (prosa) dalam susunan kata-kata indah dan mendalam di sekitar tiga masalah: yaitu Hulul, yaitu ketuhanan (lahut) menjelma ke dalam diri insan (nasut). Manusia mempunyai sifat ketuhanan dalam dirinya, demikian pula sebaliknya Tuhan mempunyai sifat kemanusiaan dalam diriya. Agar dapat bersatu (hulul) maka sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh harus dilenyapkan melalui fana. Dengan demikian hulul dapat diartikan tubuh manusia tertentu sebagai tempatNya menjelma setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.
Kemudian Nur Muhammad atau hakikat al Muhammadiyah, merupakan pancaran pertama dari zat Tuhan, bersifat qadim dan sehakikat dengan zat Tuhan. Dari Nur Muhammad inilah melimpahnya alam semesta ini. Dengan demikian ada dua pengertian tentang Muhammad, sebagai insan adalah Rasulullah yang bersifat baru (huduts), akan tetapi hakikat keMuhammadannya adalah berupa Nur Allah yang qadim dan azali. Tabiat kemanusiaannya yang bersifat baru disebut nasut, sedangkan tabiat ketuhanannya yang bersifat qadim disebut lahut. Terakhir adalah Wihdat al adyan, yaitu kesatuan semua agama. Islam, Kristen, Yahudi dan lain-lain hanyalah perbedaan nama, tapi hakikatnya satu. Semua agama adalah agama Allah dan menuju Allah. Orang memilih suatu agama atau lahir dalam satu agama, bukanlah atas kehendaknya, tapi dikehendiki untuknya. Cara beribadah boleh berbeda, namun hakikatnya satu .
Selain itu, menurut kabar beliau juga pernah menfatwakan bahwasanya naik haji yang lahir pergi ke Mekkah itu tidak perlu dikerjakan. Sebab itu hanya melelahkan saja. Hal itu bisa diganti dengan haji yang lain, yaitu haji rohani dengan membersihkan diri dan jiwa, kemudian tafakkur mengingat Tuhan dalam khalwat, sehingga ka’bah itu sendirilah yang datang ke dalam khalwatnya mendatanginya.
Karena paham dan fatwanya itu, Ibnu Daud Al Isfahani seorang ulama fiqih terkemuka mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Al Hallaj adalah sesat. Atas dasar fatwa itu Al Hallaj dipenjarakan. Kemudian pada tahun 309 H/ 921 M, diadakanlah persidangan para ulama di masa khalifah Al Muktadirbillah (kekuasaan Bani Abbas) dia dijatuhi hukuman mati yang dilaksanakan pada tanggal 18 Zulkaidah 309 H.
Konsep sufi dalam bentuk Widatul Wujud yang kemudian dikembangkan lebih lanjut menurut hemat kami – mungkin berkembang dari konsep pemikiran theology dimana alam dan Tuhan memiliki hubungan yang sangat erat. Alam menjadi obyek penciptaan dan kreatifitas Tuhan, sedangkan Tuhan bagi alam adalah tempat bergantung. Bentuk hubungan antara alam dengan dengan Tuhan terbagi menjadi 3 bagian , yaitu :
1. Pantheisme - Pan berati “seluruh”. Panteisme dengan demikian mengandung arti “seluruhnya Tuhan”. Panteisme berpendapat bahwa seluruh alam (cosmos) adalah Tuhan. Tuhan ada dalam kesluruhannya dan semua yang ada dalam keseluruhannya adalah Tuhan. Benda-benda yang ada dalam gemerlapnya alam adalah bagian dari Tuhan. Karena Tuhan adalah kosmos ini dalam keseluruhannya dan benda-benda adalah bagian-bagian dari Tuhan, maka Tuhan berada dekat sekali dengan alam atau Immanent dan bukan dliuar alam atau Transendent/tidak Immanent. Tuhan menurut panteisme hanya satu, tetapi ia memiliki bagian-bagian seperti dalam pemikiran Brahman dalam Hinduisme. Sepintas dapat kita simpulkan bahwa panteisme lebih mirip dengan faham Hulul atau qihdatul wujud dalam tataran sufisme.
2. Deisme - Deisme berasal dari bahasa latin “Deus” yang berarti Tuhan. Menurut paham deisme Tuhan berada diluar alam/transendent yaitu tidak dalam alam (tidak Imma-nent. Tuhan menciptakan alam ini, dan sesudah alam diciptakan-Nya, Ia tidak lagi memperhatikan alam lagi. Alam berjalan dengan peraturan yang tidak berubah-ubah dan peraturan yang sempurna. Tuhan ibarat tukang jam yang membuat jam dengan tiada cela, sehingga jam terus berjalan menurut mekanisme yang telah ditetapkan. Sebaliknya alam dalam paham deisme – setelah diciptakan, alam tidak membutuh-kan lagi Tuhan dan alam berjalan menurut hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
Dalam pemikiran deisme, alam dengan Tuhan dipisahkan oleh jurang yang sangat jauh. Konsekwensi pemikiran yang kemudian berkembang adalah :Alam berjalan dengan peraturan yang telah ditetapkan, sehingga Tuhan tidak perlu hadlir untuk mengurusi alam. Mereka tidak mengakui adanya mukjizat, karena mukjizat adalah peristiwa luar biasa yang tidak sesuai dengan hukum alam atau keteraturan alam. Do’a tidak ada gunanya, karena Tuhan berada jauh diluar alam dan Tuhan tidak lagi memperhatikan alam ciptaan-Nya. Wahyu tidak dibutuhkan, karena manusia dapat menyelesaikan perkara hidupnya dengan akal yang dimilikinya. Jika wahyu dapat diterima dalam konsep deisme ber-arti Tuhan tidak berada ditempat yang jauh dan masih memperhatikan alam ciptaan-Nya.
3. Teisme - Teisme sepaham dengan deisme, berpendapat bahwa Tuhan adalah transendent (di luar alam), tetapi sepaham dengan panteisme. Teisme menyatakan bahwa Tuhan, sungguhpun berada di luar alam, juga dekat dengan alam. Alam setelah diciptakan oleh Tuhan, bukan tidak lagi membutuhkan Tuhan, malahan tetap berhajat kepada-Nya. Tuhan adalah sebab bagi yang ada di alam ini. Tuhan adalah dasar dari segala yang ada dan yang terjadi di alam ini. Alam tidak dapat berwujud dan berdiri sendiri tanpa Tuhan walaupun sehari.
Berbeda dengan deisme yang cenderung mandiri, maka teisme selalu mengkaitkan segala yang ada dengan eksistensi Tuhan, maka tidaklah berlebihan jika mereka kemudian berpemikiran :
a. Alam tidak beredar dengan hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang tetap, tetapi beredar menurut kehendak mutlak Tuhan.
b. Mereka mengakui adanya mukjizat, karena mukjizat adalah peristiwa luar biasa yang muncul karena kehendak Tuhan.
c. Do’a sangat diperlukan untuk memohon karunia dari Tuhan, demikian juga dengan wahyu sangat diperlukan untuk memberi arahan agar manusia hidup dalam kehendak Tuhan

Hubungan eksistensi manusia dan eksistensi Tuhan sedikit banyak memberikan gambaran yang jelas berkaitan dengan pola pemikiran sufi baik Wihdatul Wujud atau Ittihad. Dalam pemahaman yang sangat umum, Allah bukanlah manusia karena Allah adalah Khaliq yang tentu memiliki kapasitas dan eksistensi tersendiri, sedangkan manusia adalah makhluq atau produk dari eksistensi Allah – yang tentunya manusia memiliki kapasitas dan eksistensi tersendiri. Pemahaman tersebut menjadikan manusia berada pada posisi yang bergantung kepada Allah, sedangkan Allah dapat berkehendak tanpa batas berdasarkan kekuasaan dan irodahnya.
Al Hallaj barangkali tidak berada pada posisi obyek Allah yang bergantung pada Allah, melainkan ia telah memahami kekuasaan dan keberadaan Allah, sehingga ia merasa berada disampingnya, bahkan pemahamannya yang demikian tinggi menyebabkan ia berfikir sama dengan kehendak dan kekuasaan Tuhan – maka patutlah ia kiranya mengatakan bahwa saya adalah kebenaran (Ana al Haq). Pemikiran larut dalam kehendak dan eksistensi Allah muncul karena ia merasa bahwa semua adalah bagian dari Allah, sehingga bagian tersebut adalah juga Allah atau bahkan seluruh bagian tersebut adalah Allah itu sendiri.
Pemahaman bahwa bagian itu adalah Allah berkembang menjadi pemahaman Pantheisme. Kosmos ini dalam keseluruhannya dan benda-benda adalah bagian-bagian dari Tuhan, maka Tuhan berada dekat sekali dengan alam atau Immanent dan bukan dliuar alam atau Transendent/tidak Immanent. Tuhan menurut panteisme hanya satu, tetapi ia memiliki bagian-bagian seperti dalam pemikiran Brahman dalam Hinduisme.
Dalam perspektif dogmatika Islam, terdapat ayat-ayat yang menjelaskan hubungan kedua eksistensi tersebut yaitu eksistensi Allah dan eksistensi alam terutama dalam hal ini adalah Allah dan manusia. Ayat-ayat tersebut menunjukkan tahapan pemahaman manusia terhaap eksisteni Allah dalam kehidupan manusia dan alam yaitu :
1. Allah menyatakan bahwa dalam setiap arah terdapat eksistensi Allah – kemanapun anda menghadap maka didepan manusia terdapat eksistensi Allah. Teks tersebut disamping mendorong manusia berpemikiran bahwa eksistensi Allah meliputi segala-galanya dan oleh karena itu manusia juga merupakan eksis-tensi Allah, juga mengatakan Allah berada didepan kita – dihadapan kita dan bukan diluar lingkungan kita sebagaimana disebutkan dalam Qs. Al Baqarah : 115
              
Artinya : "dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[83]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui (Qs. AL Baqarah : 115).

Tafsiran "Disitulah wajah Allah" dimaksudkan bahwa kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

2. Arah Allah atau eksistensi menjadi pertanyaan yang begitu menarik, sehingga Allah perlu menjelaskan seberapa jauh jaraknya Allah terhadap eksistensi manusia atau bahkan seberapa dekat manusia berdampingan dengan eksistens Allah dalam kehidupannya. Allah menyataka bahwa dzatnya begitu dekat keberadaannya dengan manusia, sehingga apapun yang diminta oleh manusia, Allah akan mengabulkannya sebagaimana tersebut dalam Qs. AL Baqarah : 186
                   

Artinya : "dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Qs. Al Baqarah : 186).

3. Pemikiran bahwa Allah itu dekat masih bersifat abstrak immanent, sehnigga memerlukan deskripsi yang jelas, realis dan kongkrit dalam raga dan eksistensi jasmani manusia. Karena manusia hanya mampu menangkap sisi jasmaniyah, maka Allah menggambarkan abstrak immanent tersebut dalam sisi jasmani yang menyatu dalam diri manusia. Allah mengatakan bahwa "aku lebih dekat keberadaannya kepada eksistensi manusia melebihi dekatnya manusia itu kepada dirinya sendiri – bahkan lebih dekat dari pada urat leher" sebagaimana tersebut dalam Qs. Qaf : 16 .
     •          

Artinya : "dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya," (Qs. Qaf : 16)


Al Hallaj dalam perjalanan sufisnya telah sampai pada terbukanya hijab antara manusia dengan Tuhan, sehingga tidak ada lagi tabir yang dapat menghalangi eksistensi manusia dengan eksistensi Allah. Dalam konteks sufi, peristiwa tersebut lebih dikenal dengan "ma'rifat" – dalam proses ma'rifatullah tentu dimulai dengan kesaksian adanya Allah. Al Hallaj sendiri lebih suka menyebut hubungan dirinya dengan Allah bersifat "Wihdatus Syuhud" atau kesatuan penyaksian dan bukan "Wihdatul Wujud" atau kesatuan eksistensi (kesatuan wujud antara hamba dengan Khaliq). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya dan bukan Dzat-Nya dengan dengan Dzat makhluq.
Pandangan Al-Hallaj tak satu pun kata atau kalimat yang menggunakan Wahdatul Wujud (kesatuan wujud antara hamba dengan Khaliq). Wahdatul Wujud atau yang disebut pantheisme hanyalah penafsiran keliru secara filosufis atas wacana-wacana Al-Hallaj. Pandangan Al-Hallaj banyak dikafirkan oleh para Fuqaha’ yang biasanya hanya bicara soal halal dan haram. Sementara beberapa kalangan juga menilai, kesalahan Al-Hallaj, karena ia telah membuka rahasia Tuhan, yang seharusnya ditutupi. Kalimatnya yang sangat terkenal hingga saat ini, adalah “Ana al-Haq”, yang berarti, “Akulah Allah” .
Tentu, pandangan demikian menjadi heboh. Apalagi jika ungkapan tersebut dipahami secara sepintas belaka, atau bahkan tidak dipahami sama sekali. Para teolog, khususnya Ibnu Taymiyah tentu mengkafirkan Al-Hallaj, dan termasuk juga mengkafirkan Ibnu Araby, dengan tuduhan keduanya adalah penganut Wahdatul Wujud atau pantheisme.
Tudingan bahwa Al-Hallaj penganut Wahdatul Wujud semata juga karena tidak memahami wahana puncak-puncak ruhani Al-Hallaj sebagaimana dialami oleh para Sufi. Banyak sekali wacana Tasawuf yang mirip dengan Al-Hallaj. Dan Al-Hallaj tidak pernah mengaku bahwa dirinya adalah Allah sebagaimana pengakuan Fir’aun dirinya adalah Tuhan. Dalam sejumlah wacananya, Al-Hallaj senantiasa menyatakan dirinya adalah seorang hamba yang hina dan fakir. Apa yang ditampakkan oleh Al-Hallaj adalah situasi dimana wahana ruhaninya menjadi dominan, sehingga kesadarannya hilang, sebagaimana mereka yang sedang jatuh cinta di puncaknya, atau mereka yang sedang terkejut dalam waktu yang lama .
Toh Al-Hallaj tetap berpijak pada pandangan Al-Fana’, Fana’ul Fana’ dan al-Baqa’, sebagaimana dalam wacana-wacana Sufi lainnya. Al-Hallaj juga tidak pernah mengajak ummat untuk melakukan tindakan Hulul. Sebab apa yang dikatakan semuanya merupakan Penyaksian kepada Allah atau sebagai etiuk murni dari seorang Sufi yang sangat dalam.
Kontroversi Al-Hallaj, sebenarnya terletak dari sejumlah ungkapan-ungkapannya yang sangat rahasia dan dalam, yang tidak bisa ditangkap secara substansial oleh mereka, khususnya para Fuqaha’ (ahli syariat). Sehingga Al-Hallaj dituduh anti syari’at, lalu ia harus disalib. Padahal tujuan utama Al-Hallaj adalah bicara soal hakikat kehambaan dan Ketuhanan secara lebih transparan.
Sesungguhnya paham yang dibawa oleh al Hallaj tentang "ana al Haq" itu bukanlah paham yang sama sekali baru, tetapi suatu keyakinan sufi yang telah lama tersiar. Menurut Abu Bakar Aceh, Al Hallaj tidak menyimpang dari Abu Yazid Al Bisthami atau Asyibli dalam pendirian dan pemahaman Wihdatul Wujud, misalnya kata-kata Al Bisthami "Aku mengaku, bahwa Tuhan yang lain pun tidak ada, melainkan Allah. Apa aku akan mengaku ada aku disamping Allah ? Subhani ! Maha Suci aku" .
Menurut Dr. Abu Bakar Aceh – yang membuat Al Hallaj mengalami nasib yang tragis yaitu dengan meregang kematian di arena pemancungan adalah penjabaran konsep Ittihad yang berbeda dengan pendapat-pendapat ahli sufi yang semasa dengan dia. AL Hallaj berkata bawa anasir manusia tetap sebagaimana sedia kala, tidak berubah dan bercampur dengan Tuhan, dan oleh karena itu diperlukan Hulul atau masuk ketuhanan dalam kemanusiaan. Konsep ini diasumsikan sama dengan agama Kristen terhadap Isa .
Fana dalam mencintai Allah, Fana dirinya dalam baqa' atau kekekalannya Tuhan, atau ittihad dalam perspektif yang jama yang luas ini menjadi pendirian dari Al Hallaj yang tidak pernah disembunyikan sama sekali, bahkan disebarkan dalam setiap kajian rutin dengan murid-muridnya, begitu juga ia sampaikan dikhalayak ramai yaitu di pasar-pasar serta ditempat terbuka lainnya. Katanya " Aku melihat Tuhanku dengan mata hatiku. Kutanyakan siapa engkau. Jawabnya : "engkau sendiri atau engkau adalah aku sendiri" . Dalam kesempatan lain seorang penganut Wihdatul Wujud yaitu Abu Bakar Asy Syibli pernah menyatakan persamaan dan perbedaan pendapatnya dengan al Hallaj, seraya katanya : " Aku dan Husein bin Mansur al Hallaj sebenarnya satu pendirian, Cuma ia melahirkan, sedangkan akau menyembunyikannya sebagai rahasia" .

Ketika al Hallaj mendapati pembunuhan atas dirinya – sebelumnya ia menggambarkan dengan sangat jelas dalam syairnya sebagai berikut :
Bunuhlah daku, o kebenaranku,
Dalam matiku di situlah hidupku,
Matiku berada di dalam hidupku,
Hidupku terdapat dalam matiku.

Pada kesempatan yang ia bersyair :
Biarkan badan hancur binasa,
Asal cahaya menerangi angkasa
Matiku berada di dalam hidupku
Kepada Tuhan kembali rasa.
Ia kembali kepada yang punya,
Di situlah ia kekal adanya
Kerangka jasad biarlah di dunia
Usah dihiraukan, tak usah di tanya.

Syair yang dikemukan oleh al Hallaj tersebut memberikan image yang demikian membekas bagi sufi-sufi lain yang berseberangan dengannya. As Suhrawardi menjelaskan, syair tersebut menjadi legislasi bahwa Al Hallaj bukan saja dipengaruhi oleh konsep masehi, tetapi juga mengadopsi konsep "Reinkarnasi" dari agama Hindu dalam perspektif "Hidup kedua kali di dunia" .

BAB V
PANDANGAN MASYARAKAT ISLAM TERHADAP
AL HALLAJ DAN TASAWUFNYA


A. AL HALLAJ DAN SYECH SITI JENAR
Sejarah Syekh Siti Jenar, salah satu dari generasi para Wali di tanah Jawa, memang berbeda dengan Husein bin Manshur al-Hallaj, walaupun tragedi historisnya hampir bermiripan, tetapi sebenarnya kasusnya juga berbeda. Jika al-Hallaj memang memiliki otentitas sejarah dengan data-data akurat, bahkan karya-karyanya yang bisa dibaca oleh generasi sufi, seperti Kitab Ath-Thawasin dan yang lainnya, lain lagi dengan Syekh Siti Jenar.
Data tentang Syekh Siti Jenar ini, lebih banyak menggunakan data sekunder. Sehingga para sejarawan Islam sendiri banyak yang tidak bisa menunjukkan orisinalitasnya, lebih banyak interpretasi dari para penulis sejarah itu sendiri. Film Walisongo yang sangat terkenal dengan eksekusi terhadap Syekh Siti Jenar juga tidak sepenuhnya benar. Apalagi di kemudian hari banyak sekali sejarah dengan versi yang berbeda-beda. Ironisnya, sejarah yang tidak akurat itu dianut oleh sekelompok aliran kebatinan di Jawa yang mengklaim dirinya bermadzhab Syekh Siti Jenar, yang sangat ekstrem, yakni tidak perlu bersyari’at dalam menjalankan agamanya (Islam).
Apakah benar bahwa sesungguhnya yang dibunuh itu adalah Syekh Siti Jenar? Itulah awal polemik sesungguhnya. Sebab versi lain juga mengatakan pada dasarnya Syekh Siti Jenar tidak dibunuh, tetapi hidup sampai akhir hayat dalam ‘uzlahnya. Nama beliau adalah Abdul Jalil, dan kelak populer sebagai Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang.
Apa yang diucapkan oleh Syekh Siti Jenar, kemudian dianggap kontroversial itu memang sama dengan pandangan al-Hallaj. Namun pandangannya tentang Manunggaling Kawulo Gusti, tidak bisa sama sekali diartikan sama dengan pantheisme atau Wahdatul Wujud. Terminologi “Ittihad” dalam pandangan al-Hallaj juga bukan berarti pantheisme atau Wahdatul Wujud. Ittihad berarti menyatu. Apa yang menyatu? Yang menyatu adalah syuhudnya, bukan wujudnya. Sebagaimana ketika Anda sedang bercermin, hati Anda secara otomatis mengatakan: “Itulah aku”. Sebuah ungkapan reflektif di luar kesadaran. Anda sebenarnya menyatu dengan gambar yang memantul dalam cermin itu. Tetapi ketika Anda katakan kepada banyak orang bahwa cermin itu adalah Anda sendiri, tentu salah. Sebab cermin ya cermin, Anda ya Anda. Kalau ada interaksi antara Anda dengan cermin, itu semata karena adanya pantulan yang Anda saksikan, dan yang pertama kali menyaksikan adalah hati Anda. Kesaksian itulah yang disebut syuhud. Jadi yang menyatu bukan wujudnya tetapi syuhudnya .
Mengenai drama eksekusi Syekh Siti Jenar, kalau toh kita toleran terhadap tragedi itu, semata hanya untuk menjunjung syari’at agar tidak lepas dari hakikat. Atau dengan kata lain jangan sampai orang yang memasuki dunia hakikat terkena tipu daya dan mengklaim dirinya telah sampai kepada Allah, padahal masih di “pintu gerbang”-Nya belaka. Hal yang sama, jangan sampai orang-orang syari’at sombong dengan fiqihnya, karena fiqih tanpa hakikat akan terjerumus dalam ke-zindik-an yang tragis.
Jadi, lebih baik kita vakumkan dulu sebelum ada penelitian yang lebih konprehensif mengenai sejarah Syekh Siti Jenar. Dengan begitu kita tidak segera menjatuhkan vonis kepada Walisongo.
Lebih dari itu, aliran kebatinan perlu juga merefleksi ulang terhadap ajaran yang tidak bersyari’at. Harus diingat bahwa syari’at itu bukanlah sarana mencapai hakikat. Karena ditinjau dari segi lain, syari’at itu juga hakikat dan hakikat adalah syari’at. Syari’at datangnya dari Allah, karena itu menjalankan syari’at itu merupakan perintah Allah, bukan sarana untuk mencapai Allah. Hakikat juga disebut syari’at, karena hakikat juga aturan-aturan Ilahi dalam jiwa manusia, karena itu posisinya sama, dan satu sama lain tidak boleh dipisahkan.

B. KONTROVERSI SEPUTAR PEMIKIRAN AL HALLAJ
Sebagaimana yang dijelaskan di atas, bahwa ittihad, hulul atau bahkan wihdatul wujud, bukanlah sebuah konsepsi tasawuf hasil gubahan al Hallaj, karena sufi pada masa Al Hallaj hidup atau bahkan pada masa sebelumnya telah mempraktekkan dan menyebarkan ajaran tersebut – yang membuat berbeda adalah keberanian melakukan eksploitasi ajaran tersebut pada ranah public yang luar bahkan terasa vulgar dihadapan kaum theologis dan syar'i.
Sekurang-kurangnya terdapat tiga kelompok besar dalam menyikapi ajaran tasawuf al Hallaj terutama berkaitan dengan Wihdatul Wujud, yaitu :
1. Ulama yang tidak bisa menerima ajaran tasawuf yang diajarkan oleh Al Hallaj ini, tetapi tidak sedikit pula para ulama yang sependapat dan membelanya. Kebanyakan Ulama fiqih mengkafirkannya. Dengan alasan bahwasanya mengatakan bahwa diri manusia bersatu dengan Tuhan adalah syirik yang amat besar. Oleh karena itu Ibn at Taymiyah, Ibn al Qayyim, Ibn an Nadim dan lain-lain berpendapat bahwa hukuman mati yang ditimpakan kepada Al Halaj memang patut diterimanya.
Menurut penelitian Dr. Abdul Qadir Mahmud, dalam bukunya Al-Falsafatush Shufiyah fil Islam, dijelaskan bahwa mereka yang mengkafirkannya, antara lain adalah para Fuqaha’ formalis, dan kalangan mazhab Dzahiriyah, seperti Ibnu dawud dan Ibnu Hazm. Sedangkan dari kalangan Syi’ah Imamiyah antara lain Ibnu Babaweih al-Qummy, ath-Thusy dan al-Hilly. Dari kalangan mazhab Maliki antara lain Ath-Tharthusy, Iyyadh, Ibnu Khaldun. Dari kalangan mazhab Hanbaly antara lain Inu Taymiyah. Dan kalangan Syafi’iyah antara lain Al-Juwainy dan ad-Dzahaby. Sementara itu dari kalangan Mutakallimin yang mengkafirkan: Al-Jubba’i dan al-Qazwiny (Mu’tazilah); Nashiruddin ath-Thusy dan pengukutnya (Imamiyah); Al-Baqillany (Asy’ariyah); Ibnu Kamal dan al-Qaaly (Maturidiyah) .
2. Ulama-ulama fiqih yang lain yang tidak memiliki sikap menerima atau menolak seperti Ibnu Syuraih seorang ulama yang sangat terkemuka dari mazhab Malik, memberikan komentar: "Ilmuku tidak mendalam tentang dirinya, karena itu saya tidak bisa berkata apa-apa". Kelompok yang tidak berkomentar, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: Ibnu Bahlul (Hambaliyah), Ibnu Suraij, Ibnu Hajar dan As-Suyuthy (Syafi’iyah), sedangkan dari kalangan Sufi antara lain, Al-Hushry, Al-Hujwiry, Abu Sa’id al-Harawy, Al-Jilany, Al-Baqly, Al-Aththar, Ibnu Araby, Jalaluddin ar-Ruumy, Ahmad Ar-Rifa’y, dan Al-Jiily .
3. Ulama yang membela pemikiran al Hallaj, misalnya Syaikh Abdurrahman As Saqqaf salah seorang Syaikh tarikat Alawiyah, mengatakan bahwa dia sebelumnya menyangka pada diri Al Hallaj ada keretakan karena sikapnya, seperti keretakan pada kaca, tetapi setelah sampai pada maqam al qutbiyyah dia melihat bahwa Al Hallaj telah mencapai tingkat bila diandaikan buah dia telah matang.
Mereka yang mendukung pandangan Al-Hallaj, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: At-Tusytary dan Al-Amily (Imamiyah); Ad-Dilnajawy (Malikiyah); Ibnu Maqil dan an-Nabulisy (Hambaliyah),; Al-Maqdisy, Al-Yafi’y, Asy-Sya’rany dan Al-Bahtimy (Syafi’iyah). Dari kalangan Mutakallimin, Ibnu Khafif, Al-Ghazaly dan Ar-Razy (kalangan Asy’ary) serta kalangan Mutakallim Salaf, sedangkan dari kalangan Filosuf pendukungnya adalah Ibnu Thufail. Sedangkan dari kalangan Sufi antara lain as Suhrawardy al-Maqtul, Ibnu Atha’ as=Sulamy dan Al-Kalabadzy .

Para ulama yang menolak pemikiran Al Hallaj terutama ulama Kalam dan Fiqih berpandangan bahwa kata-kata yang disampaikan oleh Al Hallaj bernafaskan pantheisme, walaupun dalam kenyataan abstraksinya pernyataan yang dituduhkan itu cuma terletak pada ungkapan bukan pada maknanya atau subtansinya.
Imam Al Gazali ketika ditanyai bagaimana pendapatnya tentang perkataan "ana al haq". Beliau menjawab," Perkataan demikian yang keluar dari mulutnya adalah karena sangat cintanya kepada Allah. Apabila cinta sudah demikian mendalamnya, tidak ada lagi rasa berpisah antara diri seseorang dengan seseorang yang dicintainya". Sehingga beliau, Rumi dan Fariduddin al Attar memberinya julukan "Syahidul Haq" (seorang syahid yang benar).
Sufi yang lain menjelaskan sangatlah pantas jika Al Hallaj dihukum pancung karena al Hallaj telah melanggar etika sufi yaitu mengumumkan salah atu rahasia sufi sebagaimana yang diungkapkan oleh Asy Syibli berkata,"Aku dan Husein ibn Mansur Al Hallaj adalah sama. Hanya saja ia menampakkan sedang aku menyimpannya. Al Junaid pernah juga berkata kepada Asy Syibli,"Kami menata rapi ilmu tasawuf ini, lalu kami simpan di ruang bawah tanah. Sedangkan Al Hallaj datang membawa ilmu tasawuf dan mengemukakan kepada khalayak manusia.
Dikalangan theology, terutama penganut paham sunni yang sebagian besar dianut oleh golongan Asy'ari – mereka menentang apa yang terdapat dalam ajaran al Hallaj tidak saja mengenai teori nur Muhammad yang melahirkan segala maujud dan nabi-nabi dari dahulu kala menyambung sampai ke dalam jiwa Ali bin Abi Thalib yang membawa pada kekufuran, pandangannya tentang suatu agama yang pada hakekatnya satu dalam kebenaran Tuhan dan menghilangka wajib Haji, dianggap persoalan yang merusak agama Islam, tetapi juga banyak tuduhan mengenai Iman dan Islam .
Aspek-aspek tersebut membuat penentang Al Hallaj mengambil tindakan keras terhapapnya – musuh-musuhnya yang menambahkan keterangan-keterangan yang memberatkan dia, sehingga pada akhirnya ia dianggap sesat, dan sesudah bertahun-tahun (9 tahun) dipenjarakan, akhirnya pada tahun 922 M, ia dihukum mati
Sungguhpun demikian al Hallaj tetap meyakini bahwa apa yang dipahaminya tidak bertentangan dengan kaidah sufi. Ketika hendak dieksekusi, Al-Hallaj dengan tenang berkata, "Tuan-tuan telah menjalankan peraturan yang pantas atas orang-orang yang tuan anggap melanggar undang-undang. Memang, siapa yang dipandang melanggar undang-undang syariat patut dihukum." Kemudian dia mengangkat tangannya kelangit dan berdoa, " Tuhan, maafkan orang-orang tersebut, karena mereka tidak tahu apa yang aku alami." Menurut para sufi, ketika itu pula terjadi banyak dialog antara para khalayak yang menyaksikan dia digantung. Banyak orang yang ingin bertanya kepada Al-Hallaj, karena itu adalah detik-detik terakhir Al-Hallaj. Salah satunya bertanya: "Apa itu tasawuf? Apa itu sufi?" Lalu kata Al-Hallaj : "Kematian saya sekarang ini adalah tahap paling rendah dalam tasawuf." Orang-orang bertanya, "Kalau begitu tahap apa yang paling tinggi dalam tasawuf ?" Al-Hallaj menjawab, "Engkau tidak akan sanggup mengetahuinya."
Kemudian Al-Hallaj menceritakan saat-saat ketika dia mau digantung, iblis datang menemui dia dan bertanya, "Nasibmu sebetulnya sama dengan aku, engkau berkata, Ana Al-Haq. Engkau berkata ‘aku’. Aku juga dulu berkata ‘aku’. Aku dan kau sama-sama meng’aku’kan diri masing-masing. Tetapi kenapa yang kau terima adalah anugerah dan ampunan Tuhan, tapi yang aku terima adalah laknat dan kutukan, sehingga aku dikutuk Tuhan selama-lamanya?" Al-Hallaj berkata, "Engkau berkata ‘aku’ dan engkau melihat dirimu, sementara ketika aku berkata ‘aku’, aku tidak lagi melihat diriku."
Akhirnya Al-Hallaj dieksekusi, ketika algojo memotong kedua belah kakinya, dari kakinya yang bersimbah darah, Al-Hallaj mengusapkan kedua tangannya dan melakukan gerakan seperti wudhu dengan darahnya. Kata dia: "Aku ingin menemui Tuhanku dalam keadaan berwudhu." Akhirnya kedua tangannyapun dipotong, dia digantung, lehernya ditebas. Selama dua hari mayatnya dibiarkan ditonton orang-orang dialun-alun kota dan pada hari yang ketiga mayatnya dibawa kesungai dan dilemparkan ke dalamnya. Sebelum kematiannya, Al-Hallaj pernah berpesan kepada pembantunya, "Pada hari ketiga setelah aku mati, sungai di Baghdad akan sampai pada satu titik ketika sungai itu merendam kota Baghdad. Jika sampai ini terjadi, masukkanlah jubahku ke sungai tersebut." Bermacam-macam dongen dijalin orang dengan sejarah kematiannya. Ada yang mengatakan darahnya mengalir menulisi kalimat Allah .
Mengenai kematian Al-Hallaj tersebut, banyak orang-orang yang bertanya kepada murid-muridnya. "Bagaimana sebenarnya ganjaran orang-orang yang menghukum Al-Hallaj ? Bukankah Al-Hallaj mati dalam kecintaan kepada Tuhan, kalau begitu orang-orang yang telah menghukum dia akan dihukum oleh Allah nanti di Hari Pengadilan?" Murid-muridnya mengatakan, "Tidak, Al-Hallaj mati karena kecintaan dia kepada Tuhan. Orang-orang yang menghukum dia berlaku demikian karena pengetahuan mereka akan agama mereka." Jadi kedua-duanya, baik Al-Hallaj maupun penghukumnya sama-sama melakukan hal yang demikian, berdasarkan kecintaan mereka kepada Allah SWT.
Dikalangan orientalis, pemikiran al Hallaj memiliki tempat yang sangat strategis bahkan dianggap memiliki kontribuasi yang cukup signifikan untuk mengangkat peran Kristen dalam proses sufisme Islam. Abu Sangkan dalam tulisannya yang berjudul "Misteri al Hallaj" menyatakan bahwa para sarjana Barat banyak yang tertarik dengan ajaran Al hallaj karena dianggap bisa mewakili kelangsungan kebenaran ajaran kristus didalam penyatuan dengan Allah atau pantheisme . Seorang sarjana ahli teologi protestan dari Jerman bernama F.A.D. Tholuck menyebut Al hallaj adalah sufi yang paling terkenal karena ketenarannya dan nasibnya, yang menguak cadar di depan umum dengan keberaniannya yang luar biasa . Tholuck menganggap Al Hallaj seorang pantheis, hal itu menjadi pandangan para sarjana abad ke 19. Mereka telah menemukan beberapa naskah dalam kitab-kitab yang ditulis oleh Al Hallaj yang menunjukkan arah kepada pantheisme
Pandangan lain adalah ada yang menganggap Al Hallaj sebagai seorang Kristen rahasia. Pandangan terakhir itu muncul pada akhir abad ke 19, diajukan August Muller dan tetap di ikuti oleh beberapa sarjana. Para orietalis lain, berdasarkan sumber-sumber yang ada , cenderung menyebutnya seorang ‘monism’ murni. Alfred von Kremer berusaha mencari sumber Hallaj yang terkenal Anal Haqq dalam sumber-sumber India, dan Max Horten membandingkan pernyataan mistik itu dengan aham brahmasmi dalam upanishad , dan beberapa sarjana lain menyetujuinya. Reynold A Nicholson mempunyai pandangan, bahwa Mansur Al Hallaj menekankan monotheisme keras dan hubungan yang sangat pribadi antara manusia dan Tuhan dalam pemikirannya, sedangkan Adam Mez melihat kemungkinan adanya hubungan antara sufi agung itu dengan teologi Kristen .
Louis Massignon telah berhasil mengumpulkan data-data tentang Al Hallaj dari lingkungan tempat dia berasal dan pengaruh-pengaruh atas Hallaj telah dijelajahi, sehingga kehidupan dan ajarannya bisa diketahui lebih lengkap dan dimengerti lebih baik di Barat. Massignon telah banyak belajar dari sebuah kitab yang terkenal "At Tawasin", yang isinya sulit dipahami, karena sebenarnya banyak paradoks yang tersimpan didalamnya, kecuali oleh orang yang memiliki kecerdasan kerohanian yang tinggi. Ajaran yang ditulis dalam buku tersebut berbentuk sajak, mengungkapkan keagungan Tuhan dan imanensi-Nya dalam hati manusia. Rahasia penyatuan cinta dipuja dalam sajak-sajak yang bebas dari segala lambang cinta ‘profane’.
Massignon menyelidiki dunia rohani Al Hallaj secara terus-menerus, menambah-kan hal-hal kecil dalam catatannya, dan kemudian diterbitkan sebagai sebuah biografi monumental syuhada mistik tersebut pada tahun 1922; seribu tahun setelah hukuman mati terhadap Al hallaj. Nyatanya, Hallaj seperti yang dikatakan Hans Heinrich Schaender dalam resensinya atas buku Massignon, adalah syuhada Islam par exelence karena ia merupakan contoh kemungkinan-kemungkinan terdalam dari keshalehan pribadi yang ada dalam agama Islam. Ia menunjukkan akibat cinta sempurna dan makna mendapatkan kesucian pribadi macam apapun, akan tetapi agar bisa mengabarkan rahasia ini, harus hidup di dalamnya dan mati untuknya.
Lebih jauh Louis Massingon mengatakan bahwa Al Hallaj penganut faham ittihad (pantheisme) yang banyak dipengaruhi ajaran Hindu dan mistik katholik, atau ajaran Zanadika, tentang cinta kasih manusia terhadap Allah sebagai suatu daya tarik material antara sumber cahaya dan percikan-percikan yang mengalir dari sumber itu (emanasi) . Ada yang berpendapat, bahwa ajarannya mengenai manunggalnya Allah dan manusia tidak dibenarkan, namun dapat dimaafkan sebagai suatu ketidaktelitian hiperbolis, akibat kekuatan ekstasis .
Sementara para sufi moderat tidak memberikan komentar terlalu banyak atas kejadian ini. Mereka hanya berpendapat bahwa Al Hallaj hanyalah menghayati firman Allah dalam surat Thaha: 14, (…sesungguhnya Aku ini adalah Allah , tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku)". Sedangkan Al ghazaly yang juga membahas pengalaman para mistisi menandaskan, bahwa ekstasis itu bukanlah terleburnya makhluk dalam Allah sebagai kesatuan dalam identitas (ittihad) juga bukan manunggalnya atau penyatuan antara dua pihak yang berada pada tingkat "ADA" yang sama, tetapi penyatuan itu hanyalah seolah-olah, sehingga hendaknya kita pandang sebagai hiperbola, kiasan yang melebih-lebihkan, akibat kemabukan cinta kasih
Dalam al Qur'an kita menemukan banyak sekali ayat-ayat Alqur'an yang dijadikan landasan oleh para sufi sebenarnya mengandung makna hiperbolis; sehingga kalau diungkapkan sekilas, kita akan terjebak kepada pengertian yang salah. Misalnya pada firman-firman Allah berikut ini: innahu bikulli syaiin muhithun, Sesungguhnya Dia Maha Meliputi Segala Sesuatu ( Fushilat:54); selanjutnya kullu syai in halikun illa wajhahu, dan tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajahnya ( Qasas: 88 ); juga pada ayat : Nahnu akrabu ilaihi min hablil waridi, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya ( Qaaf: 16 ); falam taqtuluuhum walakin 'l allaha qatalahum wama ramaita idza ramaita walakin 'l allaha rama, Maka ( yang sebenarnya ) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar, tetapi Allah-lah yang melempar ( Al anfaal : 17 ).
DB Mac Donald menafsirkan ungkapan-ungkapan ini sebagai expression of implicit pantheism atau in philosophical language immanential monism . Pandangan ini harus juga ditafsirkan eksplisit, namun bahwa ada peluang bagi suatu penafsiran pantheis, memang tak dapat disangkal. Perkembangan seterusnya membuktikan, bahwa peluang itu memang ada. Banyak mufassir takut terjebak kepada makna hiperbolis atau mutasyabihat, sehingga mereka tidak berani menterjemahkan arti yang sebenarnya seperti dalam surat Fushilat : 54 Bahwa yang meliputi segala sesuatu adalah dhomir Hua, yang menunjukkan sosok orang ketiga tunggal yang melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi dengan alasan apa mereka menggantikan arti Hua (Dia), menjadi sebuah sifat yang meliputi segala sesuatu. Sedangkan kita tahu bahwa sifat itu ada, karena ada "wujud" (Hua) tempat bergantungnya (sandaran) sifat. Inilah yang saya maksudkan bahwa dhomir Hua menunjukkan bukan kepada sifat-Nya, akan tetapi wujud secara sempurna (bikamalaatihi). Yaitu kesempurnaan meliputi Dzat, sifat, af'al dan Asma'. Dhommir Hua menunjukkan "Wujud", sedangkan sifat, af'al dan Asma merupakan diluar Diri-Nya (wujudnya) tetapi bergantung kepada Diri-Nya, karena adanya disebabkan oleh Dzat (sosok) .
Dari pendapat tersebut diatas, dapat kita simpulkan bahwa kita tidak bisa memungkiri adanya konsep-konsep qurani yang menjadi sumber timbulnya atau menjurus kedalam paham penyatuan atau pantheisme. Memang masih bisa diperdebatkan dari mana pengaruh-pengaruh yang membuat doktrin tersebut muncul. Menurut Massignon perkembangan tersebut ada akarnya dalam Alqur'an sendiri, sedangkan menurut sementara ahli lainnya, perkembangan tadi disebabkan karena kontak dengan aliran-aliran mistik kristen di Suria serta Neoplatonisme, atau pengaruh dari Syi'ah dengan ajarannya mengenai inkarnasi Zat keallahan dalam diri Ali dan para pengikutnya (menurut DB Mac Donald, Development of Mouslem Theology, Jurisprudence and constitional theory, hal 182), atau karena pengaruh dari India, (menurut M Horten, dalam indische stromungen in der inslamischen Mystik, Heidelberg 1928) .
Berhadapan dengan berbagai macam pendapat tadi, mari kita kaji uraian sekitar ajaran Al hallaj yang telah dipaparkan oleh Massignon. Al Hallaj mencari kesatuan dengan Allah bagi dirinya sendiri, sehingga kata-kata yang diwariskan -spontan- berasal dari perasaan pribadinya. Al Hallaj ingin menerangkan apa yang dialami dalam lubuk hatinya dengan meneruskan keterangan itu kepada orang-orang lain, sehingga dalam kajian terhadap ajaran Al Hallaj hendaknya kita juga mencari keterangan mengenai ucapan-ucapan emosionalnya, yang kalau dipandang dari luar konteksnya, mudah dianggap sebagai ucapan-ucapan pantheistis .
Dalam membicarakan Al Hallaj, penting untuk dibahas sosok Beyazid Al Bustami, seorang tokoh terkenal, yang banyak menghiasi khasanah keilmuan mengenai mistik dari pengalaman bathinnya sendiri, yang sesuai dengan citra pengalaman Mi'rajnya Rasulullah. Ungkapan-ungkapannya penuh dengan makna, bahwa alam-alam yang dilaluinya merupakan bentuk citra yang hina dan fana termasuk dirinya. Kemenakan Beyazid, yang mencatat sejumlah besar ungkapan-ungkapannya, pernah bertanya tentang pengingkaran terhadap dunia (zuhud) dan sang paman menjawab: "Pengingkaran ( Zuhud) itu tak ada nilainya. Tiga hari lamanya aku dalam pengingkaran, dan pada hari keempat selesailah sudah. Hari pertama kuingkari dunia ini, hari kedua kuingkari akhirat, hari ketiga kuingkari segalanya kecuali Tuhan, ketika hari keempat tiba, tak ada lagi yang tersisa bagiku kecuali Tuhan. Aku telah mencapai damba yang menyakitkan . kemudian ada suara menyeruku : O, Abu Dzun-Nun, kau tak cukup kuat untuk bertahan bersama-Ku sendiri. Kujawab : itulah memang yang hamba inginkan. Kemudian suara itu berkata : kau telah menemukannya, kau telah menemukannya !!" Beyazid menyadari dan pada akhirnya menemukan, bahwa Tuhan mengingatnya sebelum ia mengingat Tuhan, bahwa Tuhanpun mengenalnya sebelum ia mengenal Tuhan, dan bahwa cinta Tuhan mendahului cinta manusia terhadap-Nya. Kemudian Beyazid mengungkapkan pencapaiannya dengan kebanggaan seseorang yang sudah mencapai tujuannya : "Ia segera bangkit dan menaruhku di hadapan-Nya dan kata-Nya kepadaku : "O Beyazid, makhluk-makhlukku sangat ingin memandangmu, dan aku pun berkata: Hiasi hamba dengan kesatuan-Mu dan dandani hamba dengan ke- AKU-an Mu dan angkatlah hamba ke Keesaan-Mu sehingga, kalau makhluk-makhluk-Mu memandangku, mereka akan berkata: Kami telah menyaksikan-Mu, dan Kaulah itu dan hamba tidak lagi berada di hadapan mereka itu." Beyazid, dalam keadaan ekstase (fana ) berkata : "Subhani, Subhani - Maha suci Aku, Maha suci Aku, Maha Suci Aku." Ungkapan-ungkapan ini telah menjadi teka-teki bagi kaum mistik pada zaman kemudian dan telah sering menjadi inspirasi bagi penyair mistik dalam menggambarkan kesempurnaan perjalanan kerohanian seseorang, disamping banyak sekali orang yang mengecam dan mengkafirkan Beyazid. Sebagian kalangan sufi moderat, yaitu Sarraj mengganggap perkataan Beyazid seolah-olah membaca sabda dalam Qur'an "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain AKU, Innani Ana 'Allah, laailaha illa Ana (QS. Taha:14)." Beyazid mencapai keadaan ini melalui 'negationis' yang gigih, dengan menghilangkan kesadaran dirinya sendiri, sampai ia mencapai - walaupun hanya sesaat, keadaan penyatuan mutlak yaitu ketika pecinta, kekasih, dan cinta menjadi satu. Kenyataan yang dialami Beyazid di kritik oleh Mansur Al Hallaj yang berkata, bahwa Abu Yazid yang merana itu baru sampai diambang ilahi saja, karena ia tidak mampu melepaskan dirinya dari ketiadaan.
Pandangan diatas bisa dibandingkan dengan pernyataan Syekh Siti Jennar -seorang tokoh mistik di pulau Jawa-, yang telah menyimpulkan bahwa Tuhan itu adalah dirinya sendiri karena dimana saja ia pergi disitu ada Aku, dan ia sadar Akunya selalu ada dan abadi. Konon beliau banyak terpengaruh ajaran Al Hallaj : Syekh Siti Jennar berkata : "Kelilingilah cakrawala dunia, membumbunglah engkau ke langit yang tinggi, dan selamilah dalamnya bumi hingga lapis ke tujuh, engkau tidak akan bisa menemukan Wujud Yang Mulia. Kemana saja engkau pergi, engkau hanya akan menemukan kesunyian dan kesenyapan. Jika engkau ke utara, keselatan, kebarat, ketimur dan ketengah, yang ada di semua tempat itu hanya disini adanya. Apa yang ada disini bukan wujud saya, yang ada didalam diriku ini adalah kehampaan yang sunyi. Isi dalam daging tubuh ini adalah isi perut yang kotor, bukan jantung dan bukan pula otak yang terpisah dari tubuh, tetapi nafas yang melaju pesat bagaikan anak panah terlepas dari busurnyalah yang bisa mejelajah ke Mekkah dan Madinah." Menurut Siti Jennar selanjutnya, "Dirinya bukanlah budi, bukan angan-angan hati, bukan pula fikiran yang sadar, niat, udara, angin, panas, atau kekosongan dan kehampaan. Wujud dirinya hanyalah jasad yang akhirnya menjadi jenazah, yang membusuk bercampur tanah dan debu. Nafasnyalah yang mengililingi dunia, meresap dalam tanah, api, air dan udara yang akhirnya kembali ketempat asal dan aslinya. Hal itu disebabkan karena semuanya merupakan barang baru dan bukan yang asli. Hakikat dirinya dipandangnya sebagai dzat yang sejiwa dan menyuksma di dalam Hyang Widi." Bagi Siti Jennar, Tuhannya adalah Tuhan yang bersifat Jalal dan Jamal yaitu Maha Mulia dan Maha Indah. Siti Jennar tidak mau mengerjakan shalat karena kehendaknya sendiri, karena itu ia juga tidak memerintahkan siapapun untuk shalat, baginya orang shalat karena budhinya sendiri yang memerintahkan shalat. Namun budi itu juga bisa menjadi budi yang laknat dan mencelakakan, yang tidak dapat dipercaya dan diturut, karena perintahnya berubah-ubah. Perkataannya tidak dapat dipegang, tidak jujur, yang jika dituruti lalu berubah dan kadang mengajak mencuri. Inilah yang katakan oleh Al Junayd dan Syekh An Nafiri, bahwa baik Beyazid, Siti Jennar ataupun Al Hallaj (??), telah terhijab oleh dirinya.
Tatkala mereka mencari Tuhan di mana, ternyata hanya dirinya yang ada; ketika ia melambung jauh keangkasa ghaib, tetap dirinya yang ada, di sana ada, di sini ada , di atas ada, di bawah ada, di selatan ada, di utara ada, di barat ada, di timur ada, di mana-mana ada. Yang ada tetap yang langgeng dan kesunyian dan kehampaan. Aku dirinya merasakan ada di mana-mana (inilah yang dimaksud oleh Al Hallaj ambang ilahi) bukan fana. Keadaan inilah yang dianggap bersatu (ittihad) atau manunggaling kawula Gusti. Antara diri dan Tuhan tidak bisa dibedakan; hal ini dalam ajaran vedanta disebut tat twam asi . Untuk lebih jelasnya kita simak pendapat Al Junayd, mengenai pernyataan "Aku" yang diungkapkannya. Mengapa beliau menyalahkan bekas muridnya; karena beliau tahu bahwa Al Hallaj belum mampu melepaskan ego dirinya, karena itulah ia terhukum sebagaimana iblis dihukum Tuhan, ia tidak layak menyingkap selubung rahasia Tuhan, karena yang berhak mengungkapkan Aku adalah AKU itu sendiri, bukan ego kita dimana kesadaran dirinya masih ada. Sebab jika instrumen dirinya itu masih ada, maka ia tidak akan pernah bisa menggambarkan Tuhan seperti apa, ia akan mengungkapkan Tuhan seperti apa yang dirasakan oleh dirinya, bukan keadaan Tuhan yang sebenarnya Sebagaimana Musa membiarkan dirinya hancur (fana) bersama Bukit Thursina, dan pada saat itu Allah menampakkan Dirinya, bahwa AKU tidak bisa dilihat dengan matamu dan oleh dugaan egomu (tidak bisa digambarkan oleh presepsi pikiranmu, hatimu, perasaanmu, dan jiwamu sendiri; dalam Alqur'an Musa digambarkan pingsan ) AKU mengenali diri-Nya secara sempurna. Inilah yang membedakan dengan phanteisme Hindu dan kristen, yang menganggap Tuhan telah beremanasi kepada Sri Kresna ataupun Yesus Kristus. Al Junayd memaparkan pandangannya mengenai tasawuf yang sebenarnya, sebagai berikut : "Tasawuf merupakan penyucian dan perjuangan kejiwaan yang tidak ada habis-habisnya. Kita tidak melaksanakan tasawuf dengan obrolan dan kata-kata, tetapi dari kelaparan dan penolakan terhadap dunia dan memutuskan hubungan dengan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan kita dan segala yang sudah kita anggap sesuai dengan diri kita. Baginya kehidupan mistik berarti usaha abadi untuk kembali ke asal-usulnya, yang bersumber pada Allah awal mula segala sesuatu, sehingga akhirnya si ahli mistik bisa mencapai suatu keadaan di mana ia berada sebelum ada, yakni suatu keadaan, ketika Tuhan sendirian dan yang diciptakan-Nya dalam waktu belum lagi ada. Hanya ada pada saat itulah ia bersaksi bahwa Tuhan adalah Esa dari keabadian ke keabadian."
Dari data-data yang telah kita peroleh bisa disimpulkan bahwa fana (monotheisme) dan manunggal ( pantheisme ) sangatlah berbeda. Pantheisme adalah seperti yang diungkapkan oleh Harun Hadiwiyono bahwa "bagian terdalam dari manusia yaitu atma, sejajar dengan atman di dalam agama Hindu. Atma dipandang identik dengan Allah sebagai Zat Mutlak. Kesamaan sedemikian rupa hingga Allah melihat, mendengar dan sebagainya, hanya dengan perantara manusia. Dapat dikatakan bahwa manusia adalah Allah yang menjadi daging. Menurut ungkapan jawa; manusia seperti katak berselimutkan liangnya (kodok kinemulan ing lenge) Allah berada di dalam manusia, karena manusia pada hakikatnya adalah Allah sendiri : Sedangkan Fana (monotheisme ) adalah seperti ungkapan Al Junayd : Menyadari bahwa dirinya pada awalnya tiada (fana), kullu syain halikun illa wajhahu (Al Qashash, 28 : 88 ), Segala sesuatu binasa kecuali wujud Allah yang abadi. Kullu man alaiha fanin, wayabqa wajhu dzul jalali wal ikram (Ar rahman, 55 : 26-27)
Kehidupan mistik berarti usaha abadi untuk kembali keasal usulnya, yang bersumber pada Allah awal mula segala sesuatu, sehingga akhirnya si ahli mistik bisa mencapai suatu keadaan di mana ia berada sebelum ada, yakni suatu keadaan ketika Tuhan sendirian dan yang diciptakan-Nya dalam waktu belum lagi ada. Hanya ada pada saat itulah ia bersaksi bahwa Tuhan adalah Esa dari keabadian ke keabadian. La syaiun illallah, laailaha ilallaha. Inilah martabat yang tersembunyi (kesenyapan), karena keadaan belum ada apa-apa, belum mengenal individuasi, namanya Zat Mutlak, Hakikat ketuhanan. Tak seorangpun dapat meraihnya, nabi-nabipun tidak (termasuk Nabi Musa). Para malaikat yang berdiri dekat Allah-pun tidak dapat meraih Hakikat Yang Maha Luhur. Tak seorangpun mengetahui atau merasakan hakikatnya. Sifat-sifat dan nama-nama belum ada. Hanya Dialah Yang Ada dan nama-Nya ialah wujud makal, zat langgeng, hakikat segala hakikat, adanya ialah kesepian (kosong). Siapakah gerangan yang tahu akan tahap ini. ??? Barang siapa mengatakan mengetahui zat yang sejati, dia telah tersesat . Al Hallaj menyadari, bahwa ia tidak mampu melepaskan kenyataan ketuhanan yang tidak bisa dipresepsikan oleh hatinya sendiri, sehingga ia harus rela melenyapkan dirinya dengan harapan ia mampu meniadakan dengan cara kematian yang tragis, bukan dengan peniadaan (fana) pengertian spiritual yang dialami Junayd maupun Nabi Musa, maka ia berkata dengan tulus agar ia mampu cepat melepaskan keterikatannya dengan dirinya, dengan sebenarnya : uqtuluni ya thiqati - inna qatli hayati - Bunuhlah aku, ya sahabatku, sebab terbunuhku itulah hidupku. Inilah kenyataan yang sebenarnya, bahwa kematiannya merupakan harapan yang dinantikan olehnya. Ia menemukan hidup yang Hakiki, setelah alat-alat kemanusiaan tidak lagi ada, karena alat-alat pada diri manusia seperti penglihatan, pendengaran, perasaan dan angan-angan, tidak mampu meraih kenyataan yang sebenarnya. Ia mati dalam kebahagiaan yang abadi. Ia telah bebas dari keterikatannya, ia tidak lagi berada didalam ambang ilahi, tetapi ia telah fana melalui pertolongan tangan Algojo yang memenggal kepalanya.


BAB VI
P E N U T U P



A. KESIMPULAN
Sebagaimana yang dijelaskan di atas, sosok Al Hallaj merupakan pribadi sufis yang penuh misteri – misteri dalam tataran pemikiran dan pendapatnya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, misteri tentang kematian dan legenda keutamaannya yang demikian hebat.
Jika kita merujuk pada permasalahan-permasalahan yang dikemukakan sebagai obyek pembahasan, walaupun secara tematik hanya berkisar pada aspek tasawufnya, akan tetapi mau tidak mau, sadar atau tidak kajian berkaitan dengannya harus meliputi sekurang-kurangnya 4 hal yaiyu sejarah hidup, pemikiran-pemikiran tasawuf, pandangan sufi dan ulama theologis-syar'i serta perbandingannya dengan prilaku lokal keindonesiaan yang sama dengan al Hallaj yaitu Syech Siti Jenar.
1. Dalam sejarah hidupnya, al Hallaj lahir dari keluarga penganut Zoroaster (ayahnya sudah masuk Islam). Ia hidup dan berkembang dalam komunitas religius sufi yang lebih dekat dengan mistik. Dalam konstek mistisisme, juga berkembang pemikiran yang rumit tentang dari mana mistisisme tersebut; apakah dari Zoroaster, Monisme, Hinduisme, Brahman atau Pantheisme Kristen.
2. Pemikiran-pemikiran tasawuf Al Hallaj terutama konsep Al Ittihad dan Wihdatul Wujud bukanlah kreasi tunggal dari seorang al Hallaj, karena ternyata ia mewarisi konsep tersebut dari Al Bisthami dan Syibli. Mereka semua memahami fana fi lahut sebagai rentetan kegiatan ma'rifat kepada Allah.
3. Pandangan umat Islam terhadap kontroversi pemikiran sufisme Al Hallaj – terdapat 3 kelompok yang memberikan respon kepada Pantheisme Al Hallaj yaitu
a. kelompok yang menolak pemikiran pantheisme atau wihdatul wujud dengan mengatakan sebagai bentuk kemusyrikan sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah yang mewakili jalur theology dan fuqaha dan Syibli yang mewakili kelompok Sufi. Syibli sendiri adalah penganut pantheisme, tetapi ia menyem-bunyikannya sebagai rahasia sufi. dengan kata lain Syibli menyalahkan Al Hallaj yang telah mengobral rahasia sufi.
b. Kelompok yang moderat artinya tidak menolak atau lebih tepat maklum dengan pantheisme yang dikembangkan oleh Al Hallaj. Mereka berpendapat bahwa terdapat banyak ayat Al Qur'an yang mendorong berkembangnya faham Pantheisme – Al Gazali misalnya memaklumi bahasa Al Hallaj dalam menformulasikan rasa rohani yang mencapai tingkat tinggi – Pantheisme adalah bahasa hiperbola yang menunjukkan keadaan kedekatan manusia dengan Tuhan-Nya dalam bentuk kesaksian dan bukan kesatuan dalam bentuk Dzat.

4. Perbandingan Sufisme Al Hallaj dan Syech Siti Jenar dalam masyarakat Indonesia – Al Hallaj adalah gambaran Pantheisme di Bagdad, sedangkan Syech Siti Jenar mengembangkannya di Jawa, Hamzah Fansury membumikannya di Sumatra. Kesemuanya mengalami hal yang sama yaitu eksekusi atas nama theology dan Syar'i. Al Hallah meninggal setelah mengalami pemancungan di Bagdad, Syech Siti Jenar meninggal ditangan para Walisongo, sedangkan Hamzah Fansury mengalami liqo' ditangan ulama Sumatra.


B. SARAN
Islam merupakan ajaran yang memiliki kedalaman spiritual yang luar biasa. Kedalamannya hanya dapat dipaahami oleh mereka yang merasakan makna spiritualitas tinggi dengan Allah. Akan terjadi kesalahan atau ketidak sempurnaan ketika seseorang menjustifikasi makna spiritualitas dengan menggunakan standar normativ-jasmaniyah saja. Oleh karena itu perlu kehati-hatian dalam pemaknaan eksistensi Dzat Ketuhanan dengan kemanusiaan.
Jika kita benar-benar memahami spiritualitas Islam, maka kita akan sampai pada Wihdatul Syuhud (Kesatuan penyaksian) dan Wihdatul Wujud (kesatuan eksistensi) dalam arti bukan bersatunya Dzat Allah dengan manusia, melainkan bersatunya kehendak dan rahman Allah dalam diri manusia yang ma'rifat.




DAFTAR KEPUSTAKAAN


Abu Sangkan, "Misteri Al Hallaj", dalam http://groups.yahoo.com/group/ tasawuf/ message/1590
Abdul Hakim Hasan "Tasawwuf fi Syi'ril Arabi" (Mesir, 1954)
Departemen Agama, "Al Qur'an dan Terjemahannya", (Jakarta, Yayasan Penye-lenggara Penterjemah/Penafsir Al Qur'an, 1971)
Fenomena Al Hallaj dan Syeh Siti Jenar Dalam Sejarah Tasawuf dalam http:// madruhi.multiply.com/journal/item/77
Friedrich August Deofidus Tholuck, "Sufismus sive theosophia persarum pantheistica" , Berlin, 1972 hlm 68 yang tertulis dalam Annemarie Schimmel "dimensi mistik dalam Islam", hlm 64
Http://id.wikipedia.org./wiki/Mansur_Al_ Hallaj
Http ://Irdy74.multiply.com/recipes/item/68. " Antara Drama Illahi dan Tragedi Penyingkapan Rahasia".
Http://wongalus.wordpress.com/2009/05/08/apa yang salah dengan Al Hallaj
Http://www.indospiritual.com/artikel_karomah-sufi---al-hallaj.html
Http://madruhi.multiply.com/journal/item/77 Fenomena Al Hallaj dan Syeh Siti Jenar Dalam Sejarah Tasawuf
Imam Al Gazali "Ihya' ulumuddin, bagian II kitab adabi s sama'I wa 'l wajdi , fi atari 's sama'I adabihi"
Louis Massingon, " La Passion de Hallaj, Martyr Mystique de l'Islam: La Doctrine de Hallaj,
Louis Massignon, "hallaj" dalam buku karangan P.J Zoetmulder ," Manunggaling kawula Gusti" (Gramedia, Jakarta 1990),
Mojdeh Bayat dan Muhammad Ali Jamnia, " Negeri Sufi" (PT. Lentera Basritama, Cet. 2) dimuat dalam is-lam@isnet.org yang diposting oleh Abdul Azis Al Bakar
Prof. Dr. H. Abu Bakar Aceh, " Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, (Solo, Ramadhani, Cet. Ke 2, 1984) Hal. 138.

Prof. Dr. Harun Nastion "Filsafat Agama"
Prof. Dr. HAMKA, Perkembangan Tasawwuf dari Abad ke Abad, (Jakarta, 1960)
Prof. Dr. H.M. Rasyidi :4 Kuliah Agama Isla, di Perguruan Tinggi" (Jakarta, Bulan Bintang, Cet. Ke 2, 1982)
"Pantheisme dan monisme dalam sastra suluk Jawa" suntingan P.J Zoetmulder," Manunggaling kawula Gusti" (Gramedia, Jakarta 1990), hal 21
Tarikh Bagdad, Jilid I-VII

0 Comments:

Post a Comment



Template by:
Free Blog Templates