Selasa, 11 Mei 2010

METODE TANYA JAWAB DAN KARYA WISATA DALAM PEMBELAJARAN
Editor : Drs. IHSAN


I. METODE TANYA JAWAB
A. Penggunaan Metode Tanya Jawab
Dalam penggunaan metode mengajar di dalam kelas, tidak hanya Guru saja yang senantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah. melainkan mencakup pertanyaan-pertanyaan dan penyumbang ide-ide dari pihak siswa. Cara mengajar yang serupa ini dapat dibedakan dalam dua jenis ialah : metode tanya jawab dan metode diskusi.
Perbedaan pokok antara kedua metode tersebut terletak dalam
1. Corak pertanvaan yang diajukan oleh Guru - Pada hakikatnya metode tanya-jawab berusaha menanyakan apakah murid telah mengtahui fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan. Dalam hal lain siswa juga bermaksud ingin mengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran murid. Melalui metode tanya-jawab Guru ingin mencari jawaban yang tepat dan faktual.
2. Sifat pengambilan bagian yang diharapkan dari pihak siswa - Sebaliknya dengan metode diskusi, Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agak berlainan sifatnya. Di sini Guru merangsang siswa menggunakan fakta-fakta yang dipelajari untuk memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyai jawaban yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban. Dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa metode, tanya-jawab mempunyai wilayah yang saling mencakup dengan metode diskusi, sehingga kadang-kadang sukar dibedakan, apakah yang sedang dipakai oleh Guru dalam suatu kelas. Tetapi lepas dari kenyataan bahwa kedua metode ini sering sukar dibedakan, akan tetapi tujuan dan teknik masing-masing cukup mempunyai perbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogyanya dibedakan.


Untuk memberikan gambaran tentang wajar atau tidaknya penggunaan metode tanya-jawab, berikut ini akan disajikan suatu kejadian dalam kelas. Dalam tiap kejadian akan diikuti dengan analisis mengenai aspek pokok pelajaran itu dan sejauh manakah kewajaran penggunaan metode tanya-jawab. Ilustrasi penggunaan metode tanya jawab di kelas
1. Melanjutkan pelajaran yang lalu - Di suatu kelas SMP Guru akan mengajarkan pokok bahasan “beriman kepada Kitab-Kitab Allah”, dengan bertanya : “nama-nama kitab Allah yang diberikan kepada para Rasul. Dalam ajaran Islam kita mengenal bahwa tiap-tiap Rasul/Nabi diberikan wahyu dengan nama-nama yang berbeda baik nama, maksud dan kandungannya. Coba sekarang kita tulis di papan tulis apa yang kemarin telah kita pelajari.
Guru : ”Apa sajakah nama-nama kitab-kitab Allah itu?”
Siswa : “Taurat”
Guru : “Baik, coba sebutkan yang lain, Wati!”
Siswa : “Injil"
Guru : “Betulkah anak-anak?”
Siswa : “Betul, tetapi masih ada lagi, syair”
Guru : “Bagus, hari ini akan ibu lanjutkan dengan lahirnya puisi baru”.

Apakah ini penggunaan metode tanya-jawab yang baik ? Di sini Guru menggunakan teknik tersebut untuk meninjau secara singkat pelajaran yang lalu dengan tujuan memusatkan lagi perhatian siswa-tentang sejumlah kemajuan yang telah dicapai pada hari-hari yang lalu, dengan demikian ia dapat melanjutkan pelajaran berikutnya. Guru sendiri sebetulnya dapat juga mencantumkan ikhtisar pelajaran yang lampau di papan tulis, tetapi ia nierasa bahwa perhatian siswa dapat dipusatkan lebih baik bila mereka sendiri harus mengingat rentetan peristiwa. Kalau murid ikut serta, Guru akan mengetahui sejauh mana siswa telah menangkap pembicaraannya. Karena itulah penggunaan metode tanya jawab di sini adalah wajar.
2. Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa - Di salah satu kelas SMP, di tengah-tengah pelajaran, Guru menghentikan pembicaraannya mengenai perbedaan antara wahyu Allah yang kitab-kitab dan Suhuf, kemudian bertanya kepada para pelajar tentang ”perbedaan antara wahyu Allah yang kitab-kitab dan Suhuf“ baru saja kita dengar; siapa yang dapat menyebutkan beberapa perbedaan dan persamaannya?”
Budi : “persamaannya sama-sama wahyu Allah”
Khairul : ”Suhuf berupa lembaran saja”
Di sini Guru telah mengajukan pertanyaan tentang fakta untuk menyelingi teknik berbicara yang dipakainya dan untuk mengikutsertakan para siswa. Guru sebenarnya dapat menyebut nama-nama sajak itu^ tetapi ia berpendirian bahwa jika siswa mengetahui jawabannya, akan lebih berarti, Sumbangan pikiran merupakan penggunaan tanya-jawab yang wajar
3. Memimpin pengamatan atau pemikiran siswa – Pada suatu pokok bahasan “lahirnya sastra baru” Guru ingin agar tidak hanya ia sendiri yang bercerita melainkan ingin memimpin pemikiran siswa, maka dimulailah dengan mengemukakan pertanyaan sebagai berikut:
Guru : “Ada pendapat bahwa sastra baru ada setelah bahasa Indonesia lahir. Kalau demikian, kira-kira kapan titik mula sastra baru itu ?”
Ali : “Bahasa Indonesia dicanangkan sebagai bahasa kesatuan pada saat Sumpah Pemuda, dengan demikian sastra baru itu lahir pada tahun 1928″.
Guru : “Baik kira-kira sekitar tahun itu”. Tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa kesadaran kebangsaan yang menjadi perbedaan hakiki kesusastraan Melayu dengarikesusastraan Indonesia. Lalu bagaimana kesusatraan Melayu pada saat itu ?”
Amien : “Kalau demikian sebelum adanya kesadarari kebangsaan, kesusastraan Melayu sama halnya dengan kesustraan daerah lainnya seperti kesusastraan Jawa, Sunda, Bali dan lain sebagainya “.
Guru : “Betul, begitulah keadaan saat itu”. “Kalau dihubungkan dengan kesadaran kebangsaan atau nasionalisme, kira-kira tahun berapa mulai ?”
Anna : “Bukankah nasionalisme itu mulai ada pada tahun 1920,1921, atau 1922″.
Guru : “Baik, tetapi mengapa kamu sebutkan tahun itu ?
Anna : “Karena saat itu sudah ada puisi yang benema cinta lanah air seperti karya Muhammad Yamin. Sanusi Pane “.
Dengan seterusnya hingga anak-anak tidak mendengarkan saja cerita Guru melainkan dipimpin untuk berpartisipasi. Di sini Guru menygunakan metode tanya-jawab dengan efektif. Suatu poko bahasan yang ada sangkut pautnya dengan sejarah (yang sudah dipelajari anak) dipakai sebagai acuan untuk membawa pemikiran anak pada lahirhya sastra baru. Penggunaan metode tanya-jawab ini wajar. Sebaliknya, marilah kita ikuti kejadian berikut ini: Menilai kemajauan siswa Di suatu pelajaran bahasa Indonesia di SMP, Guru berkata:
Coba lihat sekarang, apakah pelajaran kemarin telah kamu pelajari sebaik-baik
Guru : “Sistem bunyi dalam bahasa Indonesia hanya mengenal tiga buah diftong, coba sebutkan Ani !”
Ani : “ai,audanoi”
Guru : “Baik, coba Badri beri contoh untuk “ai”
Badri : “Pandai”
Guru : “Betul, kalau contoh “oi” siapa dapat ?”
Amir : “Amboi”
Guru : “Baik, baik. Kamu semua sudah mengerti pelajaran kemarin. Hari ini kita akan belajar huruf rangkap”.
Apakah penggunaan metode di sini wajar 7 Dalam hal ini Guru menggunakan metode tanya-jawab untuk mengukur sejauh mana penguasan siswa. Kelas yang mengikuti pelajaran berjumlah 40 orang, sedangkan yang ditanya hanya 3 orang yang kebetulan dap?.! menjawab dengan betul, maka seluruh kelas dianggap sudah menguasai pelajaran itu. Bagaimana dengan 37 orang lainnya ? Dalam hal ini akan lebih tepat bila Guru memberikan pertanyaan tertulis untuk mengetahui penguasaan tiap siswa. Oleh karena itu penggunaan metode tanya-jawab di sini tidak wajar.
Mencari jawaban dari siswa, tetapi membatasi jawaban yang dapat diterima
Guru menanyakan pada kelas, mengapa Siti Nurbaya menyerah saja ketika dipaksa untuk menjadi istri Datuk Maringgih? Ada dua sebab, siapa dapat menyebutkan satu diantaranya?
Marwan : “Karena kaum wanita pada saat itu masih sangat patuh kepada segala perintah orang tua”.
Sarpin : “Kalau menurut pendapat saya, bukan karena patuh, tetapi takut pada orang yang; lebih berkuasa, dalam hal ini Datuk Maringgih”.
Guru : “Bukan, bukan itu ! Mari kita berpikir, apa sebab yang lain ?”
Tatik : “Kaum saya pada zaman itu belum berani kawin lari”.
Guru : “Bukan, bukan. Itupun bukan yang saya pikirkan. Ayo siapa bisa”?
Dalam hal ini sebenarnya anak-anak dapat bebas mengemukakan pendapat yang logis, namun sejak dari rumah, Guru sudah berpikir hanya ada 3 jawaban yang ada pada benak Guru. Oleh karena itu ia menutup kemungkinan jawaban lain dari siswanya, walaupun jawaban mereka cukup rasional Dengan membatasi jawaban-jawaban yang dapat diterima kebenarannya, siswa menghadapi permainan tebakan. Sebenarnya jawaban yang logis dari siswa dapat diterima Guru, walaupun semula tidak ada dalam pikiran Guru. Oleh karena itu penggunaan tanya-jawab disini tidak wajar, sebab anak menjadi tidak berani mengutarakan pendapat, takut salah melulu.

B. Kelebihan metode tanya Jawab :
1. Kelas lebih aktif karena anak tidak sekedar mendengarkan saja.
2. Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya sehingga Guru mengetahui hal-hal yang belum dimengerti oleh siswa.
3. Guru dapat mengetahui sampai sejauh mana penangkapan siswa terhadap segala sesuatu yang diterangkan.

C. Kelemahan metode tanya Jawab:
1. Dengan tanya-jawab kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok persoalan bila dalam mengajukan pertanyaan, siswa menyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalam hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru.
2. Membutuhkan waktu lebih banyak.


II. METODE KARYA WISATA
A. Pengertian Karya Wisata
Pengertian metode tercantum di dalam kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud.11 sedangkan karya wisata adalah berpergian atau mengunjungi suatu objek dalam rangka memperluas pengetahuan.
Menurut Mahfudh Salahudin, metode adalah suatu cara yang paling tepat digunakan untuk menyampaikan bahan pelajaran, sehingga tujuan dapat dicapai. sedangkan menurut Zuhairini metode dalam mengajar adalah merupakan salah satu komponen dari proses pendidikan, alat mencapai tujuan yang didukung oleh alat bantu mengajar, dan kebulatan dalam satu sistem pendidikan .
Metode mengajar sebagai upaya mencapai tujuan, dengan demikian diperlukan pengetahuan tentang tujuan itu sendiri. Perumusan tujuan yang sejelas-jelasnya merupakan persyaratan terpenting sebelum seseorang menentukan dan memilih metode mengajar yang tepat, karena kekaburan dalam tujuan yang hendak dicapai akan menyebabkan kesulitan dalam menentukan dan memilih metode yang tepat. Apa yang ingin dituju oleh suatu program bidang studi melalui unit pengajaran, semua termasuk dalam ruang lingkup dari metodologi.
Menurut Mahfudh Salahudin dalam pelajaran agama, kita harus berusaha agar siswa dapat mengalami maksud dan makna agama oleh karena itu seorang pendidik harus mampu memiliki dan melaksanakan metode yang tepat dan bervariasi.15 Metode yang tepat dan bervariasi dalam mengajarkan mata pelajaran dalam bidang studi agama (Islam) salah satunya dengan cara mengajak para siswa ke suatu tempat, seperti daerah pegunungan, perkebunan, pesawahan, ataupun museum, yang salah satunya bertujuan untuk menjelaskan kepada para siswa bahwa ciptaan Tuhan Yang Maha Esa itu harus kita syukuri keberadaannya karena di alam semesta ini terdapat berbagai macam ilmu pengetahuan oleh karenanya harus kita lestarikan agar tidak cepat rusak atau punah.
Dengan hal ini Allah berfirman dalam surat al-Ghaasyiah ayat 17,18 dan 19 :

                
Dengan metode karya wisata tersebut di atas akan membuat para siswa tertarik dalam mempelajari mata pelajaran tersebut, khususnya mata pelajaran bidang studi agama (Islam).
Dari beberapa pengertian di atas, jelaslah bahwa metode adalah suatu teknik penyampaian bahan pelajaran kepada para siswa, agar siswa dapat menangkap pelajaran dengan mudah, efektif dan dapat dicerna oleh siswa dengan baik. Dalam memilih metode mengajar yang harus diperhatikan oleh seoarang pendidik adalah filsafat pendidikan, tujuan pelajaran yang hendak dicapai, anak didik yang kondusif, dan bahan pelajaran yang akan disampaikan. Jadi metode menentukan prosedur yang hendak ditempuh dalam mencapai tujuan.
Metode bukan suatu tujuan, melainkan suatu cara untuk mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya. dapat dipahami bahwa tujuan yang hendak dicapai dalam setiap kegiatan belajar mengajar adalah bagaimana perubahan yang diharapkan itu terjadi, metode mana yang dianggap paling tepat untuk menimbulkan perubahan itu. Penelitian-penelitian ilmiah belum berhasil menemukan dan menunjukkan adanya metode mengajar yang lebih lengkap dibandingkan dengan metode lainnya untuk mencapai tingkah laku yang diharapkan. hal ini disebabkan karena para Sarjana dan pendidik belum berhasil mengontrol variabel-variabel yang menentukan efektifitas salah satu metode dibandingkan dengan metode lainnya untuk mencapai tujuan pengajaran.
Variasi-variasi yang terdapat dalam tujuan pengajaran menimbulkan pula adanya variasi-variasi dalam metode mengajar, tidaklah dapat dipisahkan dari tujuan yang hendak dicapai. Apakah tujuan itu berhubungan dengan perubahan tingkah laku dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik Metode yang digunakan adalah metode yang direncanakan berdasarkan pertimbangan perbedaan individu diantara siswa, memberi kesempatan terjadinya feed back, menstimulur kegiatan-kegiatan dan inisiatif siswa untuk menemukan dan memecahkan problem-problem dan sebagainya. Suatu hal yang dapat disangkal lagi, bahwa kebutuhan terhadap metode adalah mutlak dalam pendidikan dan pengajaran, ker ena metode merupakan sarana dari segala macam agar tercapai hasil yang memuaskan. Tanpa metode, maka hasil kerja tidak akan teratur dan berjalan dengan baik.
Jadi dalam memberikan pelajaran (Agama) dan perubahan-perubahan yang diinginkan harus memperhatikan faktor usia, lingkungan, sifat bahan pelajaran, minat, dan kemampuan anak didik. Maka salah satu cara untuk mengefektifkan dan menghidupkan proses belajar mengajar adalah dengan metode karya wisata.
Terkadang dalam proses belajar mengajar siswa perlu diajak untuk ke luar kelas (sekolah), hal ini bertujuan untuk meninjau tempat-tempat tertentu atau objek-objek yang berkaitan dengan pelajaran. hal ini diharapkan bukan hanya sekedar untuk rekreasi saja, akan tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat realitanya. Jadi penggunaan teknik atau metode karya wisata adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu yang relevan dengan pelajaran
Objek dari karya wisata ini dapat dilakukan di perkebunan, museum, pabrik, bengkel, tempat-tempat ibadah, dan lain sebagainya. Metode kar ya wisata mempunyai sinonim kata, antara lain widya wisata dan study tour.17 Tujuan dari karya wisata antara lain adalah untuk memperluas wawasan. Mufasir terkenal, Fakhrudin Al-Raziy (1149-1209), menulis: perjalanan wisata mempunyai dampak yang sangat besar dalam rangka menyempurnakan jiwa manusia . Karena, dengan perjalanan itu ia mungkin memperoleh kesulitan dan kesukaran dan ketika itu ia mendidik jiwanya untuk bersabar. Mungkin juga ia menemui orang-orang terkemuka, sehingga ia dapat memperoleh dari mereka hal-hal yang tidak dimilikinya. Selain itu, ia juga dapat menyaksikan aneka ragam perbedaan ciptaan Allah SWT. Walhasil, perjalanan wisata mempunyai dampak yang dalam kehidupan beragama seseorang yaitu dengan ber-tambah imannya, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Anfaal ayat 2:

           •   
Selain itu, dari wisata, al-Qur"an juga mengharapkan agar manusia memperoleh manfaat dari sejarah pribadi atau bangsa-bangsa (QS. 40:21), serta mengenal alam ini dengan segala keindahan dan seninya sebagaimana diisyaratkan oleh Allah SWT dalam surat Al-Ankabut ayat 20 :

            •   •      
Artinya :”Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

B. Kelebihan metode Karya Wisata
1. Kar ya Wisata mempunyai prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam proses belajar mengajar
2. Membuat apa yang dipelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat.
3. Pengajaran dengan metode karya wisata dapat lebih merangsang kreatifitas siswa.
4. Informasi sebagai bahan pelajaran lebih luas, mendalam dan aktual

C. Kekurangan metode Karya Wisata
1. Fasilitas yang diperlukan sulit untuk disediakan siswa di sekolah.
2. Biaya yang digunakan untuk acara ini lebih banyak Memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang.
3. Memerlukan koordinasi dengan guru yang lain agar tidak terjadi tumpang tindih waktu dan kegiatan selama karya wisata.
4. Dalam kar ya wisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya menjadi terabaikan
5. Sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan ini dan mengarahkan mereka kepada kegiatan studi yang menjadi permasalahan.

D. Pelaksanaan meetode Karya Wisata
Pelaksanaan Metode Karya Wisata Dalam Pendidikan Agama Islam -- Kar ya wisata sebagai metode mengajar memerlukan langkah-langkah yang baik, di antaranya; persiapan dan perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut
1. Persiapan dan Perencanaan - Mempersiapkan dan merencanakan karya wisata hendaknya bersama- sama dengan anak-anak sekalipun guru sudah mempunyainya. Hal-hal yang perlu dibicarakan bersama, diantaranya :
a. Tujuan dan sasaran yang akan dituju Aspek-aspek atau permasalahan yang akan diselidiki.
b. Ada baiknya apabila dirumuskan pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan materi pelajaran PAI dan aspek-aspek atau masalah yang akan dicapai.
c. Membaca atau mengumpulkan informasi berkenaan dengan karya wisata,
d. Terbentuknya kelompok-kelompok yang akan membahas atau menyelidiki aspek-aspek yang telah dirumuskan.
e. Setiap kelompokpun hendaknya membagi-bagi tugas lagi sehingga setiap orang mempunyai tugas yang jelas. Misalnya ada yang harus mengamati, mengumpulkan, bahan-bahan, bertanya, mencatat, dan lain-lain.
f. Membentuk petugas khusus bila perlu, misalnya untuk menghubungi pengurus yang akan dikunjungi, ketua rombongan atau pemimpin kelompok baik untuk diskusi kelak. Waktu karya wisata supaya ditetapkan
2. Pelaksanaan - Kar ya wisata hendaknya dilakukan dengan tertib. Setiap orang supaya melakukan tugasnya, baik mengumpulkan bahan maupun mencatat yang kemudian akan di laporkan kepada kelompok atau kelas. Mengerjakan tugas dapat dilakukan perorangan ataupun kelompok kecil. Setiap orang hendaknya mengecek tugasnya yang telah disiapkan sebelumnya apakah telah dilakukan atau belum
3. Tindak Lanjut - Kar ya wisata tidak berakhir pada waktu meneliti kemudian membuat kesimpulan-kesimpulan tertulis, melainkan perlu diikuti dengan suatu tindak lanjut. Hal ini penting karena apa yang diamati seseorang atau kelompok tertentu belum tentu diamati yang lain. Sedangkan tujuan karya wisata supaya semua orang mengetahui semua aspek yang diselidiki. Karena itu dalam tindak lanjut ini perlu ada presentasi atau laporan.kelompok yang diikuti dengan tanya jawab dan diskusi. Bahkan ada kalanya seseorang mendemonstra-sikan hasil penelitiannya. Juga di dalam tindak lanjut ini diadakan penilaian tentang kegiatan mereka, apakah karya wisata itu berjalan lancar, tertib dan bermanfaat? Kekurangan-kekurangan apa yang dirasakan dan bagaimana kemungkinannya untuk memperbaikinya.

E. Indikator Metode Karya Wisata
Berdasarkan uraian di atas maka penulis melampirkan indikator metode karya wisata adalah sebagai berikut
1. Metode pengajaran karya wisata yaitu menerapkan metode karya wisata
2. Alasan penggunaan metode karya wisata yaitu Keuntungan metode karya wisata, menumbuhkan minat belajar siswa, mengembangkan kreatifitas siswa dan Memudahkan siswa memahami materi PAI
3. Tujuan dan sasaran metode karya wisata – yaitu memperdalam pengetahuan yang dipelajari di dalam kelas dan mengkonkritkan materi ajar di kelas

0 Comments:

Post a Comment



Template by:
Free Blog Templates