Jumat, 18 Maret 2011

Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam


PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM



A.    PENDAHULUAN
Al-Qur'an sebagai sumber pertama dan utama dalam pendidikan Islam diturunkan untuk seluruh umat manusia di segala zaman dan tempat. Petunjuk-petunjuknya patut menjadi pegangan bagi seluruh umat manusia di mana pun mereka berada dan kapan pun mereka membutuhkannya. Seandainya umat manusia senantiasa berpegang teguh kepadanya niscaya mereka tidak akan sesat selama-lamanya. Hal ini sesuai dengan jaminan yang telah diberikan oleh Nabi saw. yang berbunyi :”Aku tinggalkan pada kalian dua pusaka, selama kalian berpegang teguh pada keduanya niscaya kalian tidak akan sesat sesudahnya: Kitab Allah (Al-Qur'an) dan Sunahku .... (HR al-Hakim dan Abu Hurairah). 
Secara eksplisit, hadis di atas menjelaskan jaminan Rasulullah saw. kepada umatnya bahwa siapa saja yang berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunah niscaya tidak akan sesat selama-lamanya. Hadis di atas merupakan aplikasi dari firman Allah SWT di dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 yang berbunyi: “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil .... (QS AI-Baqarah: 185) 
Ayat ini menjelaskan fungsi Al-Qur'an bagi manusia di dunia ini, yaitu untuk menuntun mereka ke jalan yang benar demi memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadi, Al-Qur'an merupakan pedoman yang tepat bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini agar mereka tidak salah kaprah, dan mengakibatkan kefatalan, baik terhadap diri mereka maupun keluarga dan masyarakat. Hanya, sebagian besar dari ayat-ayat Al-Qur'an tidak memuat petunjuk secara rinci, terutama berkenaan dengan muamalah (aturan kehidupan antara sesama umat, termasuk pendidikan). Kondisi ini membuat kita menghadapi kesulitan, yaitu ketika hendak mengaplikasikan petunjuk-petunjuk tersebut ke dalam realitas kehidupan individual, berkeluarga, bermasyarakat, dan berbangsa. Meskipun demikian, kita harus mencari solusi untuk mendapatkan petunjuk Al-Qur'an  agar kita selamat dan sukses dalam menempuh kehidupan di dunia ini dan di akhirat kelak. 
Di antara permasalahan kehidupan yang perlu menjadi perhatian kita ialah pendidikan. Ayat-ayat tentang pendidikan banyak terdapat di dalam Al-Qur'an, meskipun masih bersifat umum sehingga tidak mudah diaplikasikan begitu saja ke dalam kehidupan umat. Oleh karena itu, ayat-ayat tentang pendidikan tersebut perlu dikaji secara saksama agar dapat ditangkap petunjuknya dan dapat diterapkan di tengah masyarakat untuk membimbing mereka ke jalan yang benar. 
Surat Al-'Alaq adalah salah satu surat di dalam Al-Qur'an yang turun pada periode awal. Ayat 1-5 merupakan ayat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad saw. Ayat pertama yang diturunkan Allah ini sangat sarat dengan petunjuk-Nya tentang pendidikan. Ayat tersebut dimulai dengan perintah membaca. Membaca merupakan salah satu aktivitas dalam pendidikan yang tidak dapat diabaikan, baik membaca yang tertulis maupun membaca alam dan fenomena yang tidak tertulis. Para ahli pendidikan Islam senantiasa memasukkan ayat 1-5 dari Surat Al-'Alaq ini sebagai ayat pendidikan, seperti Ghazali, Muhammad Fadhil Jamali, Fathiyah Hasan Sulaiman, dan Hasan Langgulung. Hasan Langgulung, mengatakan :" Seakan-akan permulaan ayat yang pertama kali turun ini sebagai pemberitahuan bahwa kitab ini mengajak kepada ilmu, judul ilmu, ajaran yang dibawanya tegak di atas dasar ilmu, dan ia akan mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui”. 
Dr. Utsman Najati mengemukakan bahwa Surat Al-'Alaq ayat 1-5 ini memberikan dorongan untuk membaca dan mengisyaratkan tentang karunia Allah kepada manusia dengan membekali kemampuan untuk mempelajari bahasa, bacaan, tulisan, dan ilmu pengetahuan yang belum diketahuinya. 
Afzalur Rahman memasukkan ayat ke-2 dan Surat Al-'Alaq ini ke dalam kelompok ayat-ayat Al-Qur'an yang mengisyaratkan tentang jenis ilmu pengetahuan biologi. Ayat ini mengisyaratkan tentang pertumbuhan manusia di dalam rahim ibu yang berasal dari segumpal darah. Sedangkan menurut Prof. Mahmud Yunus, ayat yang pertama kali diturunkan itu berisi pendidikan keagamaan dan pendidikan akliyah ilmiyah. 

B.    PENGERTIAN PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM
Kata ‘prinsip’ adalah akar kata dari principia yang diartikan sebagai permualaan, yang dengan suatu cara tertentu melahirkan hal-hal lain, yang keberadaannya tergantung dari pemula itu. Jadi kalau berbicara mengenai prinsip pendidikan Islam, maka pelaksanaan pendidikan ini telah digariskan oleh prinsip atau konsep dalam ajaran Islam.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata "prinsip" mempunyai pengertian dasar, asas yang menjadi pokok atau landasan berpikir. Kata "pendidikan" terbentuk dari kata dasar "didik" yang diberi awalan pe dan akhiran an yang berarti proses membimbing manusia dari kebodohan menuju kecerahan pengetahuan. 
Prinsip-prinsip tersebut adalah; Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengem-bangan diri; Manusia adalah makhluk paedagogik, yaitu makhluk Allah yang dapat dididik dan dapat mendidik. Potensi itu ada dengan adanya pemberian Allah berupa akal-pikiran, perasaan, nurani, yang akan dijalani manusia baik sebgai makhluk individu maupun sebagai makhluk yang bermasarakat. Potensi yang besar tidak akan bisa kita manfaatkan jika kita tidak berusaha untuk mengaktifkan, mengembangkan dan melatihnya. Hal itu membutuhkan sebuah proses yang akan memakan waktu, tenaga bahkan biaya, tetapi mengingat potensi yang luar biasa yang kita akan raih hal itu tidak ada artinya apa-apa. Jadi pendidikan adalah proses untuk mengembangakan potensi diri.
Pendidikan Islam; pendidikan yang bebas; Kebebasan yang dimaksud adalah kebebas-an berkehendak dan berbuat yang diberikan Allah kepada manusia, kebebasan ini tentunya terikat dengan hukum syara’. Kebebasan disini berarti manusia bebas memilih prosesnya masing-masing dari prinsip ini seorang pendidik tidak bisa memaksa anak didik untuk me-nentukan pilihan yang harus dijalani anak didik. Pendidik hanya mengarahkan kemana potensi yang dominan yang bisa dikembangkan oleh peserta didik tersebut.
Pendidikan Islam penuh dengan nilai insaniah dan ilahiyah; Agama Islam adalah sumber akhlak, kedudukan akhlak sangatlah penting sebagai pelengkap dalam menjalankan fungsi kemanusiaan di bumi. Pendidikan merupakan proses pembinaan akhlak pada jiwa. Meletakkan nilai-nilai moral pada anak didik harus diutamakan. Nilai-nilai ketuhanan harus dikedepankan, pendidikan Islam haruslah memperhatikan pendidikan akhlak atau nilai dalam setiap pelajaran dari tingkat dasar sampai tingkat tertinggi dan mengutamakan fadhilah dan sendi moral yang sempurna.
Dalam perspektif Al Qur’an, prinsip dan proses pendidikan Islam disebutkan dalam Surat Al-'Alaq, secara keseluruhan, mencakup tujuan pendidikan, metode, materi, pendidik, peserta didik, dan lain-lain yang akan diuraikan secara sistematis – dilengkapi kajian-kajian ilmiyah berkaitan dengan ayat tersebut. Dengan demikian, yang dimaksud dengan prinsip-prinsip pendidikan dalam Surat Al-'Alaq adalah petunjuk-petunjuk Allah SWT yang berkenaan dengan dasar-dasar atau asas-asas pendidikan yang terdapat di dalam Surat Al-'Alaq. Surat Al-'Alaq yang terdiri atas 19 ayat ini merupakan surat Makkiyah atau surat yang diturunkan Allah pada periode Mekah. Ayat 1-5 adalah ayat-ayat yang pertama kali diturunkan Allah SWT di Gua Hira' ketika Nabi saw. Bertahannus. Surat ini, antara lain berisi perintah membaca, tentang alat tulis, unsur-unsur pendidikan, sifat dan keadaan manusia yang jahat serta durhaka. 

C.    PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM
  1. Prinsip Integrasi
Suatu prinsip yang seharusnya dianut adalah bahwa dunia ini merupakan jembatan menuju kampung akhirat. Karena itu, mempersiapkan diri secara utuh merupakan hal yang tidak dapat dielakkan agar masa kehidupan di dunia ini benar benar bermanfaat untuk bekal yang akan dibawa ke akhirat. Perilaku yang terdidik dan nikmat Tuhan apapun yang didapat dalam kehidupan harus diabdikan untuk mencapai kelayakan kelayakan itu terutama dengan mematuhi keinginan Tuhan. Allah Swt Berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kanu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawi...” (QS. Al Qoshosh: 77). Ayat ini menunjukkan kepada prinsip integritas di mana diri dan segala yang ada padanya dikembangkan pada satu arah, yakni kebajikan dalam rangka pengabdian kepada Tuhan.

  1. Prinsip Keseimbangan
Karena ada prinsip integrasi, prinsip keseimbangan merupakan kemestian, sehingga dalam pengembangan dan pembinaan manusia tidak ada kepincangan dan kesenjangan. Keseimbangan antara material dan spiritual, unsur jasmani dan rohani. Pada banyak ayat al-Qur’an Allah menyebutkan iman dan amal secara bersamaan. Tidak kurang dari enam puluh tujuh ayat yang menyebutkan iman dan amal secara besamaan, secara implisit menggambarkan kesatuan yang tidak terpisahkan. Diantaranya adalah QS. Al ‘Ashr: 1-3, “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh.” .

  1. Prinsip Persamaan
Prinsip ini berakar dari konsep dasar tentang manusia yang mempunyai kesatuan asal yang tidak membedakan derajat, baik antara jenis kelamin, kedudukan sosial, bangsa, maupun suku, ras, atau warna kulit. Sehingga budak sekalipun mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan. Nabi Muhammad Saw bersabda :”“Siapapun di antara seorang laki laki yang mempunyai seorang budak perempuan, lalu diajar dan didiknya dengan ilmu dan pendidikan yang baik kemudian dimerdekakannya lalu dikawininya, maka (laki laki) itu mendapat dua pahala” (HR. Bukhori).

  1. Prinsip Pendidikan Seumur Hidup
Sesungguhnya prinsip ini bersumber dari pandangan mengenai kebutuhan dasar manusia dalam kaitan keterbatasan manusia di mana manusia dalam sepanjang hidupnya dihadapkan pada berbagai tantangan dan godaan yang dapat menjerumuskandirinya sendiri ke jurang kehinaan. Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk mengakui dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, disamping selalu memperbaiki kualitas dirinya. Sebagaimana firman Allah, “Maka siapa yang bertaubat sesuadah kedzaliman dan memperbaiki (dirinya) maka Allah menerima taubatnya....” (QS. Al Maidah: 39).

  1. Prinsip Keutamaan
Dengan prinsip ini ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah hanya proses mekanik melainkan merupakan proses yang mempunyai ruh dimana segala kegiatannya diwarnai dan ditujukan kepada keutamaan-keutamaan. Keutamaan-keutamaan tersebut terdiri dari nilai nilai moral. Nilai moral yang paling tinggi adalah tauhid. Sedangkan nilai moral yang paling buruk dan rendah adalah syirik. Dengan prinsip keutamaan ini, pendidik bukan hanya bertugas menyediakan kondisi belajar bagi subjek didik, tetapi lebih dari itu turut membentuk kepribadiannya dengan perlakuan dan keteladanan yang ditunjukkan oleh pendidik tersebut. Nabi Saw bersabda, “Hargailah anak anakmu dan baikkanlah budi pekerti mereka,” (HR. Nasa’i).

D.    PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN DALAM QS. AL ALAQ
Ada tiga kerangka dasar pendidikan yang tergambar di dalam Surat Al-'Alaq, baik secara eksplisit maupun implisit. 
1.     lkhlas  - Prinsip ikhlas dapat terlihat dengan jelas dalam Surat Al-'Alaq ayat 1. Tuhan memerintahkan membaca atas nama Allah. Begitu juga pada ayat ke-19, Allah menyuruh manusia hanya patuh dan sujud kepada-Nya tidak kepada yang lain-Nya.
2.     Pendidikan Seumur Hidup – Pendidikan seumur hidup tergambar secara implisit dalam Surat Al-'Alaq, yaitu tidak adanya batasan yang konkret tentang kapan seorang harus mulai belajar dan sampai kapan. Tuhan hanya menjelaskan bahwa manusia harus membaca dan belajar. Dengan demikian, manusia perlu belajar sejak dilahirkan sampai ajalnya tiba. 
3.     Efektivitas Pendidikan – Di dalam Surat Al-'Alaq, Tuhan menginformasikan asal kejadian manusia dari 'alaq (ayat 2) dan setelah diajari, mereka memperoleh ilmu pengetahuan. llmu pengetahuan membuat mereka merasa cukup sehingga menimbulkan sikap angkuh dan sombong (ayat 6-7). Di sini terlihat bahwa keberhasilan seseorang, termasuk dalam bidang pendidikan, dapat membuatnya bertindak sewenang-wenang dan angkuh karena merasa dirinya cukup dan tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Walaupun Tuhan telah mendidik manusia, tidak semuanya berhasil menjadi manusia yang baik karena hal itu tergantung pada beberapa faktor, seperti lingkungan dan kemauan untuk menjadi baik. 

E.     IKHLAS; KERANGKA DASAR PENDIDIKAN ISLAM
Perintah membaca pada ayat ini dikaitkan dengan nama Allah Yang Maha Pencipta. Berarti, perintah membaca tersebut harus dilandasi dengan niat yang ikhlas. Secara lugawi kata ikhlas berarti bersih dari campuran, akar kata dari, Kata ini berasal dari kata, yang berarti murni atau bebas dari kotoran. Firman Allah di dalam Surat An-Nahl ayat 66 sebagai berikut:“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang berada di dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya. (QS. An-Nahl: 66)
Menurut al-Asfihani hakikat ikhlas adalah bebas dari segala sesuatu selain Allah. Pemahaman ini  tidak jauh dari prinsip ikhlas yang dikembangkan oleh al-Ghazali. Menurutnya ikhlas ialah membersihkan niat dari selain Allah dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. 
Dari sini dapat dipahami bahwa ikhlas ialah amal yang tidak bercampur dengan intres-intres selain Allah. Dengan kata lain, seseorang yang beramal dan berbuat semata-mata mengharapkan rida Allah itulah yang disebut mukhlis, tetapi kalau motivasinya dicampuri dengan mengharapkan keuntungan-keuntungan duniawi atau material lainnya, dia tidak dapat dikatakan seorang yang mukhlis. Di bidang pendidikan, misalnya sebagai pengajar, tenaga administrasi, atau sebagai peserta didik, kalau mereka bekerja semata-mata mengharapkan rida Allah, amal tersebut adalah ikhlas. Akan tetapi, kalau motivasi mereka dicampuri dengan mengharapkan keuntungan-keuntungan duniawi, seperti gaji, honor, gengsi, dan naik pangkat, amal tersebut tidak dapat disebut ikhlas karena niatnya tidak bersih atau tidak bebas dari campuran selain mencari rida Allah. 
Pendapat ini dianut oleh para ulama, seperti Yahya bin Mu'az. Dia mengatakan bahwa ikhlas membedakan amal dari cacat seperti berbedanya susu dari tahi dan darah. Amal yang ikhlas adalah yang semata-mata karena Allah Ta'ala tidak karena yang lainnya. Karena ikhlas sangat berkaitan dengan kerja hati seseorang, tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri dan Allah SWT. Tidak ada yang mengetahui apakah seseorang itu berbuat dengan ikhlas atau tidak. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah menjelaskan bahwa ikhlas itu hanya diketahui oleh Allah SWT dan hamba-Nya.
Artinya : Dari al-Hasan, dia berkata: Rasulullah bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: "lkhlas merupakan rahasia di antara rahasia-rahasia-Ku, Aku titipkan dia di dalam hati orang yang aku sukai di antara hamba-hamba-Ku".  
Hadis ini dengan jelas menegaskan bahwa ikhlas hanya diketahui oleh Allah SWT. Jadi, tidak ada yang tahu, termasuk para malaikat, apakah seseorang berbuat sesuatu dengan ikhlas atau tidak. Dengan demikian, hadis di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa ikhlas merupakan kontak langsung dengan Allah dan lepas dari intres atau keuntungan-keuntungan duniawi dan sebagainya.  
Ikhlas sebagaimana diuraikan di atas jelas termasuk ke dalam amalulqalb (pekerjaan hati). Jika demikian, ikhlas tersebut lebih banyak berkaitan dengan niat (motivasi). Jika motivasi mendorong seseorang untuk beramal, misalnya mengajar, atau membaca adalah semata-mata mencari rida Allah maka motivasi itu disebut ikhlas, artinya murni karena Allah semata, tidak dicampuri oleh motif-motif lain. Keikhlasan niat menurut al-Ghazali dapat diandalkan untuk menyelamatkan seseorang dari kebinasaan dan kehancuran di kampung akhirat, seperti penegasannya, "Semua manusia akan celaka, kecuali yang berilmu; semua yang berilmu akan celaka, kecuali yang beramal; dan semua yang beramal akan celaka, kecuali yang ikhlas. Apa yang dikatakan al-Ghazali itu ada benarnya karena didukung oleh berbagai ayat Al-Qur'an, antara lain sebagai berikut.  
1.     Artinya: “lblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan hahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka semuanya. (QS Al-Hijr: 39-40).  
2.     Artinya: Kecuali orang-orang yang tobat, mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada agama Allah serta talus ikhlas mengerjakan agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang-orang yang beriman .... (QS An-Nisa': 146).  
3.     Artinya: Katakanlah: " Tuhanku memerintahkan kepadaku agar menjalankan keadilan. Dan (dari ita) luruskanlah muka (niat) mu hanya kepada Allah semata di setiap ibadah, dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya ... (QS AI-A'raf: 29). 

Di samping dalil-dalil di atas, Nabi juga menganjurkan umatnya supaya ikhlas dalam beramal. Hadis Nabi yang berkaitan dengan keikhlasan, antara lain sebagai berikut. 
  1. Artinya: Barangsiapa yang tidak menyebut nama Allah (sebelum makan) maka setan menyertai mereka dalam jamuan tersebut.
  2. Artinya: Tiga yang tidak dapat memhelenggu hati seorang lelaki muslim, yaitu ikhlas beramal karena Allah semata ....
  3. Artinya: Ikhlaslah kamu dalam beramal karena sesungguhnya Allah tidak menerima amal, kecuali orang yang ikhlas. 

Keikhlasan sebagaimana yang digambarkan dituntut aplikasinya dari semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan, mulai dari staf pengajar (pendidik), peserta didik, dan staf bidang administrasi. Secara langsung mereka terlibat di dalam kelancaran proses belajar-mengajar.  
Terjadinya berbagai penyimpangan dan praktik-praktik tidak terpuji, seperti meng-komersialkan nilai, penjiplakan hasil karya orang lain atau diterbitkannya ijazah aspal (asli tapi palsu) berkaitan erat dengan motivasi yang menjadi motor penggerak di dalam diri mereka yang terlibat di dalam proses pendidikan. Jika masing-masing senantiasa dilandasi oleh niat yang ikhlas niscaya hal itu tidak akan terjadi. Dalam skala yang lebih luas agaknya tidak gegabah jika dikatakan bahwa timbulnya sikap materialistis, hedonistis, rakus, dengki, khianat, dan sebagainya yang sekarang tampak sedang melanda kehidupan modern berawal dari tidak eksisnya sikap ikhlas di dalam diri umat, bahkan terjadinya persaingan yang tidak sehat, percekcokan, permusuhan, dan perang antar mereka atau antar bangsa, juga tidak dapat dilepaskan dari sifat ikhlas yang tampak semakin sirna dari dalam hati mereka.  
Para ahli pendidikan, seperti 'Athiyah al-Abrasyi juga mementingkan sikap ikhlas dalam proses pendidikan, bahkan ia memasukkan sikap ikhlas sebagai salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Dia mengatakan bahwa sikap ikhlas dari seorang pendidik dalam melaksanakan tugasnya merupakan cara untuk membuat muridnya berhasil. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa berbuat sesuai dengan apa yang dikatakan termasuk dalam kategori ikhlas atau dengan kata lain perbuatannya sesuai dengan ucapannya. Seorang pendidik harus mengatakan bahwa ia tidak tahu kalau memang ia tidak tahu. Akan tetapi, 'Athiyah menekankan perwujudan ikhlas hanya kepada pihak pendidik, padahal semua unsur yang terkait dalam pendidikan harus mempunyai sikap ikhlas sebagaimana yang telah dipaparkan.

 


DAFTAR KEPUSTAKAAN
Munzir Hitami, Menggagas Kembali Pendidikan Islam, Yogyakarta: Infinite Press, 2004, hal. 25-30
Ibnu Miskawaih, Tahzib al-Akhlaq, Mesir: al-Mathbah al-Husainiyyah, tanpa tahun, hal. 27
Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001, hal. 763
Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002, hal. 6
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002, hal. 5
Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam; Membangun Masyarakat Indonesia, Yogyakarta: Safiria Insania Press dan MSI, hal. 142
 Ahmad Qodri Azizy, Islam dan Permasalahan Sosial; Mencari Jalan Keluar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003, hal. 22

0 Comments:

Post a Comment



Template by:
Free Blog Templates