Kamis, 11 April 2013

Kajian tentang Ijtihad



IJTIHAD DAN TAKLID
SEBUAH POTRET KREATIFITAS  DAN KEENGGANAN   
BERFIKIR UMAT ISLAM
 Oleh  : Drs. Ihsan, M.Pd.I

 Bagian Pertama : Konsep Ijtihad
      Ijtihad adalah istilah generik yang digunakan untuk menyebut segala sesuatu yang berkaitan dengan pegulatan umat Islam untuk menemukan rumusan-rumusan baru dalam bidang hukum, yang tidak ditemukan dalam dua otoritas mutlak hukum Islam yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Karena sifat-sifat kebaruan itulah yang kemudian menjadikan konsep ijtihad sedikit banyak mengalami benturan-benturan nilai dan pemikiran dikalangan umat Islam. Walaupun demikiran konsep ijtihad mutlak diperlukan umat Islam sebagai perwujudan dinamis dan progresif ajaran Islam itu sendiri.
    Ijtihad berasal dari kata dasar dalam bahasa Arab  “JAHADA”, yang dari kata-kata tersebut berkembang kata Ijtihad dan Jihad. Ijtihad sendiri berasal dari fiil madhi “Ijtahada”. Dua buah kata yang mengandung pengerahan segala hal dalam bentuk yang sangat maksimal. Jihad secara subtansial adalah pengerahan tenaga dan kesengajaan untuk mempertahankan dan meninggikan kalimat Allah, sedangkan ijtihad adalah pengerahan ke-mampuan pikir untuk menemukan hukum berdasarkan pengertian tersirat dari dua otoritas hukum Islam.
     Secara sederhana; Jahada berarti sungguh-sungguh. Dengan demikian Ijtihad (kata bentukan dari Jahada) juga mengandung dan sekaligus menuntut adanya kesungguhan. Maka sudah barang tentu, arti Ijtihad adalah kesungguhan untuk menemukan sesuatu hukum. Dalam konteks yang lain, Ijtihad juga berarti “Ra’yi” yang bermakna memberikan pertimbangan pemikiran yang adil dan baik. Di samping pengertian-pengertian tersebut diatas, juga terdapat pengertian yang lain dari beberapa pakar keislaman :
1.    Para Ulama :
“Mengerahkan segala kemampuan (berfikir) untuk mendapatkan atau memecahkan sesuatu (yang sulit)  dan dalam praktek hanya sesuatu yang sangat sulit dan memayahkan”.
2.    Shahabat  :
“ Penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat kepada Kitabulah dan Sunnah Rasul melalui Nash atau maksud umum hikmah syari’ah itu sendiri”.
3.    Ulama Fiqh  :
“Pengerahan segenap kemampuan ahli fiqh untuk mendapatkan pengertian tingkat Dhanni (spekulatif) terhadap hukum syari’at”.



PENGERTIAN, FUNGSI, PERSAMAAN DAN PERBEDAAN

AGAMA-AGAMA DI DUNIA

Sebuah interpretasi tentang paradigma “Rahmatal  lil ‘Alamin”

Oleh : Drs. Ihsan, M.Pd.I


BAGIAN PERTAMA : PENGERTIAN DAN FUNGSI AGAMA
I.   PENGERTIAN AGAMA, RELIGION DAN AD DIEN
Terdapat tiga istilah yang sering digunakan untuk mengambarkan sebuah konsep hubungan manusia dengan Tuhan-Nya, atau pemaknaan terhadap penyerahan, ritual dan persepsi adanya “realitas” diluar manusia, yaitu : Agama, Religion dan Ad Dien.

Agama
Agama yang dalam bahasa Sangsekerta berarti tidak kacau (a = tidak dan gama = kacau) dipakai untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan-Nya dalam kerangka kepatuhan terhadap aturan untuk mewujudkan kehidupan yang  sejahtera, damai, selamat dan tentram. Dengan demikiran prinsip dan misi  agama pada hakekatnya adalah berusaha mewujudkan kehidupan yang tidak kacau. Walaupun demikian, konsep kedamaian dan kesejahteraan boleh jadi hanya bersifat sementara dan duniawiyah saja, sedangkan prinsip kesejahteraan yang abadi boleh jadi tidak menjadi prioritas keberagamaan.
Dalam memberlakukan agama sebagai instrument mewujudkan kesejahteraan dan keda-maian hidup, munculah tafsiran-tafsiran agama yang berbeda-beda – yang cenderung men-jadi sebuah pergulatan pemikiran tersendiri dalam kajian ilmu agama terutama dipandang dari sisi kebenaran keimanan dan kepercayaan serta aktualisasi peribadatan mereka dan keterkaitannya dengan hasil akhir yang didapat, misalnya balasan amal di akhirat (Surga dan Neraka menurut agama Islam atau Nirwana dan Hukum Karma menurut agama Hindu).
Aplikasi hubungan dengan eksistensi yang transendent melahirkan berbagai konsep agama dan aktualisasinya. Di Indonesia berkembang pemikiran bahwa setiap sesuatu me-miliki “roh” yang didalamnya tersimpan kekuatan magic dan mistik yang luar biasa. Konsep animisme menjadi wujud adanya hubungan antara manusia dengan eksistensi yang transendent dan sudah barang tentu sangat abstrak dan cenderung tidak dapat dijelaskan realitasnya baik dari segi dogmatik maupun dari segi nalar – kemudian berkembang menjadi dinamisme.
Prinsip-prinsip Dinamisme nampak lebih aplikatif dan kongkrit, karena ia mampu menje-laskan wujud eksistensi yang transendent dalam beberapa eksistensi yang profan (tidak suci dan bersifat kebendaan). Ia menganggap bahwa semua benda atau benda tertentu memiliki kekuatan supra natural (mana/magic/tuah) yang ditunjukkan lewat kehebatan yang diluar kelaziman. Kekuatan eksistensi yang transendent tersebut ternyata tidak hanya masuk pada benda tertentu, melainkan masuk juga pada binatang atau hewan tertentu yang kemudian dikenal dengan “Totemisme”, misalnya sapi, ular dan kucing.

Senin, 26 Desember 2011


AS SUNNAH (AL HADITS)

Sebuah Kritik Tentang Keabsahan Dan Keberadaannya Dalam Yurisprudensi Islam


Editor  :  IHSAN [1]



BAGIAN PERTAMA : HADITS DALAM  TINJAUAN TEORI
I.      BEBERAPA  PENGERTIAN  AS SUNNAH
      Sebagai umat Islam, kita sangat meyakini bahwa Sunnah adalah sumber kedua yang mempunyai otoritas hukum  yang sama dengan Al Qur,an. Sunnah adalah sebuah pedoman hidup kedua sesudah Al Qur’an yang senantiasa dipakai untuk menjelaskan segala sesuatu, yang secara tegas tidak dinyatakan dalam Al Qur’an.[2] Dalam kesempatan tertentu Sunnah menjadi penjelas bagi Al Qur’an,[3] namun demikian ada sebagian orang yang tidak meletakkan Sunnah sebagai sumber hukum Islam yang kedua karena dipengaruhi sikap curiga (prejudice) berkenaan dengan sejarah perkembangan Sunnah sendiri.
     Jika dilihat dari  asal katanya, maka Sunnah mempunyai pengertian sebagai tradisi atau kebiasaan masyarakat yang telah berkembang, apakah kebiasaan itu berdimensi baik maupun buruk. Menurut etimologis, Sunnah mempunyai pengertian sebagai berikut
A.  Ketentuan Allah dalam kebiasaan/hukum kemanusiaan masa lalu(Qs.Al Ahzab: 62).
B.  Jalan setapak, prilaku masyarakat, praktek hidup  dan tingkah laku  baik atau buruk.
C.  Tradisi bangsa Arab (prilaku atau praktek) yang mempunyai kekuatan normatif dalam kehidupan masyarakat.[4]

Sabtu, 23 April 2011


BEBERAPA PENDEKATAN STUDI AGAMA (ISLAM)
 DI INDONESIA
Editor : Drs. Ihsan, M.Pd.I


   I.    PENDAHULUAN
Studi atau kajian Islam, baik yang menyangkut ajaran atau nilai Islam secara domatis maupun Islam dalam tataran aplikatif yang dimunculkan oleh umat Islam sangatlah bermanfaat untuk menilai tata nilai Islam itu sendiri bagaimana umat Islam mereflsksikan nilai keagamaan dalam kehidupan yang nyata. Studi tentang nilai-nilai Islam melahirkan kritik yang mendalam tentang Islam sebagai sebuah ajaran yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat. Kritik tersebut mampu mendorong tumbuhnya kesadaran dan keyakinan absolute tentang kebenar-an Islam, dan bagi mereka yang sengaja mencari titik-titik tertentu untuk dikonfrontirkan dengan nilai keduniaan akan menemukan sisi pandang yang penuh dengan kecurigaan terhadap kebenaran Islam.
Dalam aspek perilaku umat Islam yang diasumsikan sebagai cerminan nilai Islam dalam tataran social keagamaan, studi Islam akan melahirkan kemajemukan prilaku keagama-an yang sangat khas dan penuh makna, sehingga sadar atau tidak terkadang ditemukan perilaku umat Islam yang sepintas bertentangan dengan Islam atau bahkan bertentangan dengan Islam, realitas yang kurang dapat di pahami berdasarkan pendekatan-pendekatan ilmiyah.
Urgensi mata kuliah ini adalah untuk memperkenalkan beberapa temuan teori yang dihasilkan oleh para sarjan Barat dalam melihat Islam di Indonesia. Untuk selanjutnya kita diharapkan bisa mengapresiasi bahkan mengkritisi beberapa temuan mereka. Karena setelah mereka melakukan studi secara intensif, ternyata banyak hal yang harus dan bisa dijelaskan secara ilmiyah mengenai ke-khas-an dan corak ke-Islaman di Indonesia.
Persoalannya adalah, apakah temuan-temuan mereka pada masa itu masih relevan dengan kondisi dan untuk menggambarkan Islam Indonesia sekarang? Apa tujuan sebenarnya dibalik studi mereka dalam melihat Islam di Indonesia? Adakah dampak positif bagi Islam sendiri atau bahkan kesan negatif yang muncul, ketika Islam Indonesia dijelaskan dengan cara-cara seperti itu?
Beberapa pakar studi Islam, misalnya Dr. Amin Abdullah (Rektor UIN Sunan Kalijaga)[1] dan selaku penggagas studi Islam sejak awal telah menyarankan bahwa kita sebagai sarjana muslim Indonesia perlu membaca pandangan-pandangan mereka secara konseptual dan rasional. Apakah aspek-aspek dan metodologi penelitian mereka bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiyah dan akademik? Apa kelebihan dan kekurangan yang ada pada temuan mereka dalam melihat Islam di Indonesia dari masing-masing perspektifnya?[2]

Selasa, 10 Februari 2009

KEUTAMAAN WAKAF

PENGERTIAN
Secara bahasa, waqaf artinya menahan atau berhenti, diam di tempat, tetap berdiri. Kata waqofa – yaqifu – waqfan sama artinya dengan habasa – yahbisu – habsan. Wakaf secara bahasa adalah menahan, sebagaimana dalam surat ash-Shâffât ayat 24, artinya, “Tahanlah mereka (di tempat penghentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya”. Sedangkan secara istilah, wakaf yaitu; Menahan pokok benda suatu barang lalu hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan Islam.
Menurut Sayyid Sabiq, wakaf adalah menahan pokok benda dan mempergunakan hasilnya, yaitu memanfaatkannya di jalan Allah. Menurut Imam Taqiyudin, wakaf adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya serta tetap zat harta tersebut, dan tidak boleh menjual-belikan. Manfaat benda tersebut harus untuk kebaikan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian pengertian wakaf dalam syari'at Islam (dilihat dari perbuatan orang yang mewakaf-kan), merupakan perbuatan hukum sese-orang dengan sengaja memisahkan/menge-luarkan harta bendanya untuk dimanfaatkan bagi keperluan di jalan Allah/jalan kebaikan. Wakaf telah disyari’atkan dalam Islam pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, kemudian syari’at ini diteruskan oleh para shahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dari generasi ke generasi hingga sekarang.

Minggu, 11 Januari 2009

FUNGSI IBADAH DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Oleh : Drs. Ihsan


PENGERTIAN
Dalam proses kehidupannya, manusia mempunyai banyak keinginan dan tujuan. Keinginan yang terus menerus diwujudkan akan menyebabkan orang berkelakuan atau berkarakter dengan keinginan tersebut. Jika ia meluluskan keinginan untuk bersenang-senang, maka jadilah penggila kesenangan – untuk memenuhi keinginan dan tujuan kesenangan tersebut ia akan berusaha sedemikain rupa. Dalam ragam hidup yang demikian komplek, seorang Hedonis akan akan berjuang sekuat tenaga mengejar kenikmatan hidup sebagai the Ultimate goalnya. Demikian juga seseorang Hippis, ia akan mengejar kesenangan hidup, pesta dan afiliasi kese-nangan lainnya sebagai hal yang paling penting dalam hidupnya.
Para pemuja kehidupan dan kesenangan dunia – meletakkan kepuasan jasmani atau benda sebagai standar kenikmatan dan kesenangan. Seoangan matrialis berusaha menumpuk benda atau modal sebagai prestise dan derajat sosial – sampai-sampai benda diperlakukan sebagai Tuhan dalam hidup mereka.
Berbeda dengan asumsi-asumsi keduniaan yang dikembangkan oleh kaum hedonis, hippis dan materialis, maka dalam pandangan pemeluk agama – kehadlirannya di dunia mempunyai 2 tujuan atau tugas hidup, yaitu :

PERBEDAAN PEMIKIRAN DALAM HUKUM DAN THEOLOGI ISLAM
Sebuah Kajian tentang sejarah, sebab dan
bagaimana cara mengatasinya

Oleh : Drs. Ihsan


Bagian I : Paradigma perbedaan

Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda (Subtansi Hadits) : “Bahwa ummatku akan terpecah menjadi 70 (71-72) golongan, semuanya masuk Neraka kecuali satu yaitu golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah”. Hadits tersebut menjadi sebuah paradigma kleniscayaan adanya perbedaan. Secara umum terdapat dua indikator besar, yaitu :
A. Indikator angka 70 (71-72) – penjelasan mengenai jumlah kelompok dalam dikalangan umat sebanyak 70 (71-72) dapat digambarkan melalui 2 pendekatan sebagai berikut :
1. Simbolitas artinya angka tersebut hanya sebuah penggambaran tentang potensi dominan adanya perpecahan (perbedaan) pemikiran dalam beberapa golongan – dalam konteks bahasa dinamakan dengan “hiperbola” artinya melebihkan sesuatu untuk menggambarkan sesuatu yang besar.
2. Kuantitas artinya angka tersebut bisa jadi menunjukkan jumlah kongkrit golongan dikalangan umat Islam. Jika pendekatan tersebut dikembangkan, maka akan mengalami kesulitan terutama standar dan universalitas pendekatan tersebut, misalnya mengenai Kapan itu terjadi, siapa mereka dan dimana itu terjadi apakah ia bersifat teritorial/ wilayah – Desa, Regional, National ataukah International).

Selasa, 06 Januari 2009

SIPILISME
Bahayanya Bagi Eksistensi Ajaran Islam

Oleh : Drs. Ihsan


PENDAHULUAN

Faham, gagasan atau pemikiran manusia terbentuk menjadi sebuah agama atau pseudo agama berlangsung dalam waktu yang cukup lama – sejak ia hadlir sebagai cetusan dan letupan kecerdasan pikir, bergerak lurus kedepan dengan berbagai benturan terhadap nilai ekstern yang berkembang, ia mampu bertahan (survive) dari gerusan pikiran dan zaman melalui berbagai koreksi, bantahan dan juga kemunngkinan dukungan, sehingga pada gilirannya ia menjadi sebuah trend atau mode berfikir, berkeyakinan dan menjadi pedoman atau tata nilai yang diper-tahankan dan disebarluaskan dalam kehidupan.
Penyebaran sebuah faham atau gagasan bisa saja berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama sekali. Aliran Materialisme-Sosialisme lahir pada abad ke 18 dan berjuang terus dibawah pemikiran Frederich Angle dan Kalr Marx sebagai anti thesis adanya Kapitalisme, me-lakukan perjuangan kelas, membela kaum buruh dan rakyat yang tertindas dengan berbagai bentuk revolusi dan atribut kekerasan, kekejaman dan fasisme lainnya – sampai akhirnya ia roboh sendiri juga dihadapan Kapitalisme pada tahun 1992 di belahan dunia yang lain yakni Uni Sovyet. Kapitalisme juga sekali tiga uang, ia berdiri kokoh sejak bergulirnya Revolusi Industri di Inggris pada tahun 1750 M, bersamaan dengan semakin kuatnya modal (kapital) dalam dunia perindustrian dan didukung oleh liberalisme atau kebebasan.

SUMBER DAN POKOK-POKOK AJARAN ISLAM

Oleh : Drs. Ihsan


Bagian I : Sumber-Sumber Ajaran Islam
Yang dimaksud dengan sumber adalah segala sesuatu yang dijadikan dasar pengembang-an sebuah ajaran, gagasan, faham atau manivesto-manivesto lainnya dalam spektrum kehi-dupan manusia. Jika terminologi “Sumber” dikaitkan dengan Islam, maka memiliki pengertian sebagai segala sesuatu yang dijadikan dasar pengembangan ajaran Islam itu sendiri baik itu menyangkut hubungan Vertikal ataupun hubungan horizontal.
Dasar-dasar atau sumber ajaran agama Islam berasal dari wahyu Allah yang berupa Al Qur’an dan prilaku Nabi Muhammad sebagai aplikasi dan contoh kongkrit pelaksanaan Al Qur’an – yang kemudian disebut dengan Hadits Nabi. Secara dogmatis sumber ajaran Agama Islam hanya ada dua yaitu Al Qur’an dan Hadits – selanjutnya untuk memudahkan pemahaman, keduanya dikenal dengan “sumber pokok”. Sedangkan yang lainnya merupakan pengembangan ajaran berdasarkan sumber pokok melalui proses pemikiran dan penentuan hukum (ijtihad) – selanjutnya dikenal dengan hukum atau ajaran “Istimbaty”.

ISLAM SEBAGAI AGAMA SAMAWI TERAKHIR
Oleh : Drs. Ihsan


PENDAHULUAN
Pembahasan mengenai agama selalu saja menarik – karena sangat menarik tersebut ia telah bertahan dalam kurun waktu ribuan tahun. Ketika Socrates dan Aristoteles mendefinisikan konsep supra natural menjadi “sebab utama dan atau wajibul wujud”, maka sedikit demi sedikit eksistensi yang abstrak mengenai Tuhan mulai tergambarkan dalam definisi otak manusia. Dan ketika Allah menurunkan beberapa Rasul dan ribuan para nabi, maka semakin jelaslah konsep keberadaan yang abstrak tersebut – melalui sifat dan asma Tuhan yang bertebaran dalam kitab-kitab suci dan manuskrip-manuskrip kuno tentang Tuhan, agama dan ajarannya.
Secara umum berkembang sebuah analisa tentang asal usul agama dalam kehidupan manusia, termasuk didalam jenis dan sifat agama itu – mulailah para ilmuwan menyatakan bahwa asal mula agama karena manusia mempersepsi setiap peristiwa yang terjadi diseki-tarnya sebagai sebuah aktifitas kekuatan gaib atau setidak-tidaknya ia memiliki resonansi kekuatan gaib. Yang lain berfikiran bahwa asal usul aturan-aturan religius adalah kehendak yang maha Kuasa untuk membimbing mereka agar menemukan kesejahteraan dan keda-maian jiwa. Apapun asal usul dan bentuknya sangatlah menarik untuk kita kaji bersama konsepsi agama dalam perspektif samawi dan ardhi, termasuk didalamnya “Apakah Islam merupakan agama Samawi yang terakhir ?.

APAKAH SEMUA AGAMA ITU SAMA

Oleh : Drs. Ihsan


PENDAHULUAN
Ketika jumlah manusia masih terbatas dilingkungan keluarga Bani Adam, problematika mengenai aplikasi kepercayaan tidak terlalu rumit. Hal yang menjadi sebab terjadinya masalah keagamaan dengan cepat dapat diselesaikan oleh Adam. Meskipun demikian formulasi awal perbedaan pemikiran dan konsep pengabdian sebagai wujud pelaksanaan perintah Tuhan telah terjadi dengan sangat radikal bahkan menjadi presedent jelek bagi pengingkaran terhadap kebenaran perintah Allah, sekaligus kemenangan syetan untuk kali kedua setelah penurunan Adam dari surga oleh Allah. Kasus pengorbanan yang dilakukan oleh Qobil dan Habil mencerminkan perbedaan pemahaman mengenai pelaksanaan perintah Agama – yang satu melihat dari kepatuhan, ketaatan dan kesyukuran atas rizki yang di-berikan oleh Allah, yang lain melihat sebagai formalisme dan simbolitas dari pengabdian saja (Qs. Al Maidah : 30)

KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA
Drs. IHSAN


I. PENDAHULUAN
Dalam pemikiran ilmuwan agama berkembang satu pendapat bahwa eksistensi manusia terdiri dari dua wujud yaitu wujud material dan wujud Immaterial. Wujud material membutuhkan konsumsi yang bersifat materi sedangkan wujud Immaterial membutuhkan peningkatan spiritual – yang tidak mungkin diperoleh dari unsur material kecuali melalui pengembangan nilai transendental. Pemenuhan Kebutuhan material diperoleh dari benda-benda yang realitasnya dapat diukur baik dengan ukuran kuantitas maupun kualitas. Walaupun demikian pemenuhan Kebutuhan material memberikan dampak langsung terhadap aspek-aspek immaterial atau pemenuhan dan peroleh spiritual.

PENGERTIAN DAN FUNGSI AGAMA
Sebuah interpretasi tentang paradigma “Rahmatal lil ‘Alamin”

Oleh : Drs. Ihsan


I. PENGERTIAN
Terdapat tiga istilah yang sering digunakan untuk mengambarkan sebuah konsep hubungan manusia dengan Tuhan-Nya, atau pemaknaan terhadap penyerahan, ritual dan persepsi adanya “realitas” diluar manusia, yaitu : Agama, Religion dan Ad Dien.

Agama
Agama yang dalam bahasa Sangsekerta berarti tidak kacau (a = tidak dan gama = kacau) dipakai untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan-Nya dalam kerangka kepatuhan terhadap aturan untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera, damai, selamat dan tentram. Dengan demikiran prinsip dan misi agama pada hakekatnya adalah berusaha mewujudkan kehidupan yang tidak kacau. Walaupun demikian, konsep kedamaian dan kesejahteraan boleh jadi hanya bersifat sementara dan duniawiyah saja, sedangkan prinsip kesejahteraan yang abadi boleh jadi tidak menjadi prioritas keberagamaan.

Sabtu, 29 November 2008

Fungsi Agama

KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA
Oleh : Drs. Ihsan



PENDAHULUAN
Dalam pemikiran ilmuwan agama berkembang satu pendapat bahwa eksistensi manusia terdiri dari dua wujud yaitu wujud material dan wujud Immaterial. Wujud material membutuhkan konsumsi yang bersifat materi sedangkan wujud Immaterial membutuhkan peningkatan spiritual – yang tidak mungkin diperoleh dari unsur material kecuali melalui pengembangan nilai transendental. Pemenuhan Kebutuhan material diperoleh dari benda-benda yang realitasnya dapat diukur baik dengan ukuran kuantitas maupun kualitas. Walaupun demikian pemenuhan Kebutuhan material memberikan dampak langsung terhadap aspek-aspek immaterial atau pemenuhan dan peroleh spiritual.
Maka tidak berlebihan jika dalam ajaran Islam ditekankan agar pemenuhan kebutuh-an material memenuhi standar peningkatan spiritual dan bukan untuk kepentingan jasmani saja. Terdapat beberapa standar pemenuhan Kebutuhan material dalam Islam, yaitu :

;;

Template by:
Free Blog Templates