Kamis, 11 April 2013
Label: Dirosah Islamiyah
PENGERTIAN, FUNGSI, PERSAMAAN DAN PERBEDAAN
AGAMA-AGAMA DI DUNIA
Oleh : Drs. Ihsan, M.Pd.I
Label: Dirosah Islamiyah
Senin, 26 Desember 2011
AS SUNNAH (AL HADITS)
Sebuah Kritik Tentang Keabsahan Dan Keberadaannya Dalam Yurisprudensi Islam
Editor : IHSAN [1]
Label: Dirosah Islamiyah
Sabtu, 23 April 2011
Label: Dirosah Islamiyah
Selasa, 10 Februari 2009
KEUTAMAAN WAKAF
PENGERTIAN
Secara bahasa, waqaf artinya menahan atau berhenti, diam di tempat, tetap berdiri. Kata waqofa – yaqifu – waqfan sama artinya dengan habasa – yahbisu – habsan. Wakaf secara bahasa adalah menahan, sebagaimana dalam surat ash-Shâffât ayat 24, artinya, “Tahanlah mereka (di tempat penghentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya”. Sedangkan secara istilah, wakaf yaitu; Menahan pokok benda suatu barang lalu hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan Islam.
Menurut Sayyid Sabiq, wakaf adalah menahan pokok benda dan mempergunakan hasilnya, yaitu memanfaatkannya di jalan Allah. Menurut Imam Taqiyudin, wakaf adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya serta tetap zat harta tersebut, dan tidak boleh menjual-belikan. Manfaat benda tersebut harus untuk kebaikan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian pengertian wakaf dalam syari'at Islam (dilihat dari perbuatan orang yang mewakaf-kan), merupakan perbuatan hukum sese-orang dengan sengaja memisahkan/menge-luarkan harta bendanya untuk dimanfaatkan bagi keperluan di jalan Allah/jalan kebaikan. Wakaf telah disyari’atkan dalam Islam pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, kemudian syari’at ini diteruskan oleh para shahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dari generasi ke generasi hingga sekarang.
Label: Dirosah Islamiyah
Minggu, 11 Januari 2009
Oleh : Drs. Ihsan
PENGERTIAN
Dalam proses kehidupannya, manusia mempunyai banyak keinginan dan tujuan. Keinginan yang terus menerus diwujudkan akan menyebabkan orang berkelakuan atau berkarakter dengan keinginan tersebut. Jika ia meluluskan keinginan untuk bersenang-senang, maka jadilah penggila kesenangan – untuk memenuhi keinginan dan tujuan kesenangan tersebut ia akan berusaha sedemikain rupa. Dalam ragam hidup yang demikian komplek, seorang Hedonis akan akan berjuang sekuat tenaga mengejar kenikmatan hidup sebagai the Ultimate goalnya. Demikian juga seseorang Hippis, ia akan mengejar kesenangan hidup, pesta dan afiliasi kese-nangan lainnya sebagai hal yang paling penting dalam hidupnya.
Para pemuja kehidupan dan kesenangan dunia – meletakkan kepuasan jasmani atau benda sebagai standar kenikmatan dan kesenangan. Seoangan matrialis berusaha menumpuk benda atau modal sebagai prestise dan derajat sosial – sampai-sampai benda diperlakukan sebagai Tuhan dalam hidup mereka.
Berbeda dengan asumsi-asumsi keduniaan yang dikembangkan oleh kaum hedonis, hippis dan materialis, maka dalam pandangan pemeluk agama – kehadlirannya di dunia mempunyai 2 tujuan atau tugas hidup, yaitu :
Label: Dirosah Islamiyah
PERBEDAAN PEMIKIRAN DALAM HUKUM DAN THEOLOGI ISLAM
Sebuah Kajian tentang sejarah, sebab dan
bagaimana cara mengatasinya
Oleh : Drs. Ihsan
Bagian I : Paradigma perbedaan
Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda (Subtansi Hadits) : “Bahwa ummatku akan terpecah menjadi 70 (71-72) golongan, semuanya masuk Neraka kecuali satu yaitu golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah”. Hadits tersebut menjadi sebuah paradigma kleniscayaan adanya perbedaan. Secara umum terdapat dua indikator besar, yaitu :
A. Indikator angka 70 (71-72) – penjelasan mengenai jumlah kelompok dalam dikalangan umat sebanyak 70 (71-72) dapat digambarkan melalui 2 pendekatan sebagai berikut :
1. Simbolitas artinya angka tersebut hanya sebuah penggambaran tentang potensi dominan adanya perpecahan (perbedaan) pemikiran dalam beberapa golongan – dalam konteks bahasa dinamakan dengan “hiperbola” artinya melebihkan sesuatu untuk menggambarkan sesuatu yang besar.
2. Kuantitas artinya angka tersebut bisa jadi menunjukkan jumlah kongkrit golongan dikalangan umat Islam. Jika pendekatan tersebut dikembangkan, maka akan mengalami kesulitan terutama standar dan universalitas pendekatan tersebut, misalnya mengenai Kapan itu terjadi, siapa mereka dan dimana itu terjadi apakah ia bersifat teritorial/ wilayah – Desa, Regional, National ataukah International).
Label: Dirosah Islamiyah
Selasa, 06 Januari 2009
SIPILISME
Bahayanya Bagi Eksistensi Ajaran Islam
Oleh : Drs. Ihsan
PENDAHULUAN
Faham, gagasan atau pemikiran manusia terbentuk menjadi sebuah agama atau pseudo agama berlangsung dalam waktu yang cukup lama – sejak ia hadlir sebagai cetusan dan letupan kecerdasan pikir, bergerak lurus kedepan dengan berbagai benturan terhadap nilai ekstern yang berkembang, ia mampu bertahan (survive) dari gerusan pikiran dan zaman melalui berbagai koreksi, bantahan dan juga kemunngkinan dukungan, sehingga pada gilirannya ia menjadi sebuah trend atau mode berfikir, berkeyakinan dan menjadi pedoman atau tata nilai yang diper-tahankan dan disebarluaskan dalam kehidupan.
Penyebaran sebuah faham atau gagasan bisa saja berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama sekali. Aliran Materialisme-Sosialisme lahir pada abad ke 18 dan berjuang terus dibawah pemikiran Frederich Angle dan Kalr Marx sebagai anti thesis adanya Kapitalisme, me-lakukan perjuangan kelas, membela kaum buruh dan rakyat yang tertindas dengan berbagai bentuk revolusi dan atribut kekerasan, kekejaman dan fasisme lainnya – sampai akhirnya ia roboh sendiri juga dihadapan Kapitalisme pada tahun 1992 di belahan dunia yang lain yakni Uni Sovyet. Kapitalisme juga sekali tiga uang, ia berdiri kokoh sejak bergulirnya Revolusi Industri di Inggris pada tahun 1750 M, bersamaan dengan semakin kuatnya modal (kapital) dalam dunia perindustrian dan didukung oleh liberalisme atau kebebasan.
Label: Dirosah Islamiyah
SUMBER DAN POKOK-POKOK AJARAN ISLAM
Oleh : Drs. Ihsan
Bagian I : Sumber-Sumber Ajaran Islam
Yang dimaksud dengan sumber adalah segala sesuatu yang dijadikan dasar pengembang-an sebuah ajaran, gagasan, faham atau manivesto-manivesto lainnya dalam spektrum kehi-dupan manusia. Jika terminologi “Sumber” dikaitkan dengan Islam, maka memiliki pengertian sebagai segala sesuatu yang dijadikan dasar pengembangan ajaran Islam itu sendiri baik itu menyangkut hubungan Vertikal ataupun hubungan horizontal.
Dasar-dasar atau sumber ajaran agama Islam berasal dari wahyu Allah yang berupa Al Qur’an dan prilaku Nabi Muhammad sebagai aplikasi dan contoh kongkrit pelaksanaan Al Qur’an – yang kemudian disebut dengan Hadits Nabi. Secara dogmatis sumber ajaran Agama Islam hanya ada dua yaitu Al Qur’an dan Hadits – selanjutnya untuk memudahkan pemahaman, keduanya dikenal dengan “sumber pokok”. Sedangkan yang lainnya merupakan pengembangan ajaran berdasarkan sumber pokok melalui proses pemikiran dan penentuan hukum (ijtihad) – selanjutnya dikenal dengan hukum atau ajaran “Istimbaty”.
Label: Dirosah Islamiyah
ISLAM SEBAGAI AGAMA SAMAWI TERAKHIR
Oleh : Drs. Ihsan
PENDAHULUAN
Pembahasan mengenai agama selalu saja menarik – karena sangat menarik tersebut ia telah bertahan dalam kurun waktu ribuan tahun. Ketika Socrates dan Aristoteles mendefinisikan konsep supra natural menjadi “sebab utama dan atau wajibul wujud”, maka sedikit demi sedikit eksistensi yang abstrak mengenai Tuhan mulai tergambarkan dalam definisi otak manusia. Dan ketika Allah menurunkan beberapa Rasul dan ribuan para nabi, maka semakin jelaslah konsep keberadaan yang abstrak tersebut – melalui sifat dan asma Tuhan yang bertebaran dalam kitab-kitab suci dan manuskrip-manuskrip kuno tentang Tuhan, agama dan ajarannya.
Secara umum berkembang sebuah analisa tentang asal usul agama dalam kehidupan manusia, termasuk didalam jenis dan sifat agama itu – mulailah para ilmuwan menyatakan bahwa asal mula agama karena manusia mempersepsi setiap peristiwa yang terjadi diseki-tarnya sebagai sebuah aktifitas kekuatan gaib atau setidak-tidaknya ia memiliki resonansi kekuatan gaib. Yang lain berfikiran bahwa asal usul aturan-aturan religius adalah kehendak yang maha Kuasa untuk membimbing mereka agar menemukan kesejahteraan dan keda-maian jiwa. Apapun asal usul dan bentuknya sangatlah menarik untuk kita kaji bersama konsepsi agama dalam perspektif samawi dan ardhi, termasuk didalamnya “Apakah Islam merupakan agama Samawi yang terakhir ?.
Label: Dirosah Islamiyah
APAKAH SEMUA AGAMA ITU SAMA
Oleh : Drs. Ihsan
PENDAHULUAN
Ketika jumlah manusia masih terbatas dilingkungan keluarga Bani Adam, problematika mengenai aplikasi kepercayaan tidak terlalu rumit. Hal yang menjadi sebab terjadinya masalah keagamaan dengan cepat dapat diselesaikan oleh Adam. Meskipun demikian formulasi awal perbedaan pemikiran dan konsep pengabdian sebagai wujud pelaksanaan perintah Tuhan telah terjadi dengan sangat radikal bahkan menjadi presedent jelek bagi pengingkaran terhadap kebenaran perintah Allah, sekaligus kemenangan syetan untuk kali kedua setelah penurunan Adam dari surga oleh Allah. Kasus pengorbanan yang dilakukan oleh Qobil dan Habil mencerminkan perbedaan pemahaman mengenai pelaksanaan perintah Agama – yang satu melihat dari kepatuhan, ketaatan dan kesyukuran atas rizki yang di-berikan oleh Allah, yang lain melihat sebagai formalisme dan simbolitas dari pengabdian saja (Qs. Al Maidah : 30)
Label: Dirosah Islamiyah
Drs. IHSAN
I. PENDAHULUAN
Dalam pemikiran ilmuwan agama berkembang satu pendapat bahwa eksistensi manusia terdiri dari dua wujud yaitu wujud material dan wujud Immaterial. Wujud material membutuhkan konsumsi yang bersifat materi sedangkan wujud Immaterial membutuhkan peningkatan spiritual – yang tidak mungkin diperoleh dari unsur material kecuali melalui pengembangan nilai transendental. Pemenuhan Kebutuhan material diperoleh dari benda-benda yang realitasnya dapat diukur baik dengan ukuran kuantitas maupun kualitas. Walaupun demikian pemenuhan Kebutuhan material memberikan dampak langsung terhadap aspek-aspek immaterial atau pemenuhan dan peroleh spiritual.
Label: Dirosah Islamiyah
PENGERTIAN DAN FUNGSI AGAMA
Sebuah interpretasi tentang paradigma “Rahmatal lil ‘Alamin”
Oleh : Drs. Ihsan
I. PENGERTIAN
Terdapat tiga istilah yang sering digunakan untuk mengambarkan sebuah konsep hubungan manusia dengan Tuhan-Nya, atau pemaknaan terhadap penyerahan, ritual dan persepsi adanya “realitas” diluar manusia, yaitu : Agama, Religion dan Ad Dien.
Agama
Agama yang dalam bahasa Sangsekerta berarti tidak kacau (a = tidak dan gama = kacau) dipakai untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan-Nya dalam kerangka kepatuhan terhadap aturan untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera, damai, selamat dan tentram. Dengan demikiran prinsip dan misi agama pada hakekatnya adalah berusaha mewujudkan kehidupan yang tidak kacau. Walaupun demikian, konsep kedamaian dan kesejahteraan boleh jadi hanya bersifat sementara dan duniawiyah saja, sedangkan prinsip kesejahteraan yang abadi boleh jadi tidak menjadi prioritas keberagamaan.
Label: Dirosah Islamiyah
Sabtu, 29 November 2008
KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP AGAMA
Oleh : Drs. Ihsan
PENDAHULUAN
Dalam pemikiran ilmuwan agama berkembang satu pendapat bahwa eksistensi manusia terdiri dari dua wujud yaitu wujud material dan wujud Immaterial. Wujud material membutuhkan konsumsi yang bersifat materi sedangkan wujud Immaterial membutuhkan peningkatan spiritual – yang tidak mungkin diperoleh dari unsur material kecuali melalui pengembangan nilai transendental. Pemenuhan Kebutuhan material diperoleh dari benda-benda yang realitasnya dapat diukur baik dengan ukuran kuantitas maupun kualitas. Walaupun demikian pemenuhan Kebutuhan material memberikan dampak langsung terhadap aspek-aspek immaterial atau pemenuhan dan peroleh spiritual.
Maka tidak berlebihan jika dalam ajaran Islam ditekankan agar pemenuhan kebutuh-an material memenuhi standar peningkatan spiritual dan bukan untuk kepentingan jasmani saja. Terdapat beberapa standar pemenuhan Kebutuhan material dalam Islam, yaitu :
Label: Dirosah Islamiyah





